Hidayatullah.com—Polisi di berbagai daerah di Burma yang mengalami bentrokan antar warga beberapa pekan terkahir ini mengaku tidak melakukan tindakan hukum apapun untuk menangani penyebaran propaganda ekstrimis Buddhis, kata para pejabat polisi dan pemerintah kepada The Irrawaddy Senin kemarin (8/4/2013).
Petugas polisi di Insein dan Mingalon kepada The Irrawaddy mengaku mereka tidak menangkap satu orangpun yang memiliki CD berisi rekaman propaganda anti Islam yang disampaikan biksu Buddha dan mereka juga tidak menerima perintah untuk menangkap orang-orang yang menyebarkannya.
Sebelum kerusuhan terjadi, biksu Buddha pendiri kelompok Buddhis 969, U Wirathu, menyampaikan pidato propaganda yang mengajak warga Buddhis untuk tidak berinteraksi sosial dengan warga Muslim Burma, tidak berbelanja di toko Muslim dan sebagainya. Dengan kata lain, para biksu itu mengajak warga Buddhis yang menjadi mayoritas penduduk Burma agar melakukan apartheid sosial terhadap Muslim. CD berisi propaganda anti Islam itu banyak terdapat di jalan-jalan di banyak kota di Burma.
Seorang polisi di Wundwin, Mandalay, kepada The Irrawaddy mengatakan, sejumlah orang ditangkap karena menjual barang propaganda itu, namun kemudian polisi itu mengubah ceritanya dan mengatakan tidak menangkap satu orang pun. Sementara seorang rekannya yang berdinas di Kepolisian Pagu membenarkan bahwa tidak ada tindakan aparat yang dilakukan untuk menghentikan penyebaran propaganda anti-Islam tersebut.
Ketidakbecusan pemerintah Burma dalam menangani masalah antar etnis dan agama di negaranya tercermin dalam pernyataan pejabatnya di Kementerian Urusan Agama.
Pejabat tersebut, yang tidak disebutkan namanya, mengaku bahwa Kementerian Urusan Agama tidak melarang peredaran CD anti Islam tersebut, tetapi kementerian akan melarangnya jika menerima desakan untuk melarang penyebarannya.
“Saat ini, orang-orang mengkopi CD-CD tersebut lalu mendistribusikannya sendiri. Saya sendiri tidak tahu apakah itu legal atau tidak,” kata pejabat tersebut dikutip The Irrawaddy.
Gerakan Buddhis 969 didirikan oleh sejumlah biksu ternama di Burma, dengan tokoh sentral U Wirathu. Angka 9 merujuk pada Sang Buddha, sementara angka 6 menggambarkan ajaran-ajarannya serta kebiksuan.
Sejumlah pengusaha di Pagu terlibat penyebaran propaganda U Wirathu yang mengajak umat Buddha memboikot warga Muslim dalam kehidupan sehari-hari. Namun, angka penjualan CD dilaporkan turun, menyusul terdengarnya kabar adanya penangkapan terhadap penjual nya.
Kyaw Zaw Lin seorang penjual CD di kota Rangoon mengaku tidak mendengar ada orang yang sudah ditangkap karena menjual CD tersebut. Dia sendiri memilih untuk tidak menjualnya, karena mendengar rumor penangkapan itu.*