Hidayatullah.com—Pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di Turki saat puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan, berduka atas kematian seorang remaja yang meninggal akibat luka yang dialaminya ketika terjadi bentrokan aparat dengan pengunjuk rasa saat demonstrasi anti-pemerintah tahun lalu.
Hari Rabu (12/3/2014), polisi huru-hara menembakkan gas air mata dan air ke arah demonstran di ibukota Ankara. Sementara di Istanbul, kerumunan orang meneriakkan slogan anti-pemerintah dan menyalakan api sambil menuju lokasi pemakaman remaja 15 tahun, Berkin Elvan.
Elvan meninggal di sebuah rumah sakit di Istanbul hari Selasa kemarin, setelah koma selama 269 hari. Remaja itu dihantam kaleng gas air mata ketika akan membeli roti saat terjadi unjuk rasa menentang Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan bulan Juni 2013.
“Pembunuh Berkin adalah polisi AKP,” teriak pengunjuk rasa di Istanbul merujuk partainya Erdogan yang saat ini berkuasa.
Polisi huru-hara Turki menembakkan gas air mata ke arah hampir 1.000 pengunjuk rasa hari Selasa yang berkumpul di depan rumah sakit di Istanbul, di mana Elvan menghembuskan nafas terakhirnya.
Kisah Elvan menjadi simbol tindakan keras yang dipakai polisi dalam menghadapi gelombang demonstrasi terbesar melawan pemerintahan Erdogan yang mulai berkuasa sejak tahun 2003.
Dilansir Aljazeera, seorang fotografer AFP mengatakan bahwa polisi menggunakan gas air mata dan water canon setelah puluhan demonstran melempari batu ke arah sebuah bus polisi dan mencuri helm-helm serta tameng milik aparat. Seorang demonstran terluka dalam aksi itu.
Human Rights Watch menyebut kekerasan polisi terhadap demonstran merupakan masalah “endemik” di Turki.
Unjuk rasa bermula tahun lalu dari sebuah protes oleh kelompok pecinta lingkungan guna menyelamatkan taman-taman di lokasi bersejarah Taksim Gezi di Istanbul, yang akan dilenyapkan demi membangun pusat perbelanjaan moderen. Mereka menentang rencana pemerintah Erdogan yang akan mengalihkan fungsi lahan itu, karena kota Istanbul sangat minim ruang terbuka hijau yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat dari berbagai kalangan. Pada Juni 2013 Erdogan kemudian berjanji mengubah rencana pembangunan mall di bekas taman Taksim Gezi dengan pembangunan masjid.
Namun, unjuk rasa sudah terlanjur besar dan warga lain yang juga merasa dikecewakan pemerintah dalam masalah-masalah lain, ikut turun ke jalan menentang pemerintahan Erdogan.
Unjuk rasa itu pun berlangsung hingga saat ini dan meluas ke kota lain, termasuk memicu pertikaian antara Erdogan dengan bekas sekutu politiknya, Fetullah Gulen, seorang pemikir Muslim Turki yang kini bermukim di Amerika Serikat.*