Hidayatullah.com—Setelah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) gagal mempertahankan mayoritasnya di parlemen sebagai hasil pemilu akhir pekan kemarin, para jurnalis senior dan terkemuka yang bekerja untuk media pemerintah memberikan komentar tentang apa saja yang menjadi faktor AKP kehilangan dukungan suara rakyat.
Hasil pemilu yang diumumkan hari Ahad (7/6/2015) mengakhiri dominasi AKP selama 13 tahun di parlemen, yang kini hanya mendapatkan 259 kursi, atau cukup berkurang banyak dari sebelumnya 276 yang memberikannya suara mayoritas tunggal di lembaga legislatif. Pemilu kali ini membuat impian Erdogan tentang sistem pemerintahan presidensial menjadi buyar.
Sebagaimana dilansir Today’s Zaman hari Selasa (9/6/2015), Etyen Mahcupyan, jurnalis keturunan Turki-Armenia bekas penasihat PM Ahmet Davutoglu dan kolumnis di koran pro-pemerintah Aksam, mengatakan dalam wawancara dengan Aljazeera Turki hari Senin bahwa kegagalan AKP patut dibebankan kepada Erdogan, karena rakyat masih memandangnya sebagai ketua partai. Menurut Mahcupyan, Davutoglu bekerja keras untuk memenangkan pemilu agar kembali tercipta pemerintah satu partai, tetapi upayanya dibayang-bayangi oleh kampanye Erdogan. “Sudah waktunya bagi AKP untuk membiarkan ketuanya bekerja,” kata Mehcupyan.
Seperti diketahui, meskipun Davutoglu sudah menjabat sebagai ketua partai di AKP, tapi Erdogan dengan kampanye sistem presidensial yang digembar-gemborkannya justru mengecilkan peran Davutoglu baik di pemerintahan maupun di partai. Jabatan presiden di Turki sebenarnya bukan sebagai kepala pemerintahan, melainkan jabatan simbolis sebagai kepala negara.
Jurnalis kawakan dan kolumnis pro-pemerintah di koran Sabah, Mehmet Barlas, mengatakan kepada NTV bahwa batasan 3 periode yang diterapkan kepada kader-kader AKP adalah salah. Barlas mengkritik kebijakan AKP tersebut sebab menjadikan politisi-politisi di parlemen dan menteri yang senior dan berpengalaman, serta populer di masyarakat, tidak lagi dapat mencalonkan diri dalam pemilihan umum setelah 3 kali terpilih.
Ahmet Tasgetiren, kolumnis di koran pro-pemerintah Yeni Safak, hari Selasa menulis bahwa kampanye-kampanye yang dilakukan Erdogan untuk AKP justru memalingkan pemilih dari AKP dan memberikan suaranya kepada partai lain. Para pemilih ingin presiden menjadi sosok yang imparsial dalam pemilu, kata Tasgetiren.
Tidak hanya itu, kesalahan fatal yang dilakukan AKP adalah mengabaikan sensitivitas keagamaan rakyat. Menurut Ismail Kilicarsian, seorang kolumnis koran Yeni Safak, dukungan AKP untuk bekas menteri urusan Eropa Egemen Bagis yang mengolok-olok al-Qur`an, merupakan salah satu faktor menurunnya dukungan kepada AKP.
Dalam rekaman audio yang dibocorkan pada Maret 2013 terungkap bahwa Bagis mengolok-olok Qur`an ketika berbicara lewat telepon dengan jurnalis Metehan Demir. Suara orang yang diyakini sebagai Bagis terdengar membuat lelucon tentang Qur`an, termasuk mempelesetkan nama surat Al-Baqarah menjadi “bakara-makara”. Dalam bahasa Turki, makara artinya mempermainkan seseorang, atau bersenda-gurau, sehingga bisa dikatakan Bagis telah menganggap isi al-Qur`an itu sebagai omong kosong.
Dukungan terhadap Bagis oleh AKP dinilai keterlaluan, mengingat partai itu sendiri adalah sebuah partai Islam.*