Hidayatullah.com—Amerika Serikat enggan membebaskan seorang warganya yang menjadi mata-mata Israel, karena tidak yakin Israel akan membongkar semua mata-matanya yang beroperasi di AS, kata seorang mantan utusan Israel untuk Washington, Senin (11/6/2012) lapor AFP.
Mantan duta besar Itamar Rabinovich mengatakan, Washington tidak pernah percaya bahwa Jonathan Pollard bertindak sendiri saat memberikan dokumen rahasia AS kepada Israel.
“Orang Amerika menduga Jonathan Pollard tidak sendiri, pasti ada Pollard-Pollard yang lain, dan menduga bahwa Israel tidak akan membuka semua rahasianya, meskipun sudah berjanji,” kata Rabinovich.
“Mereka (Amerika) menghukum Israel dengan Pollard dan mengekspresikan kemarahan mereka lebih kepada Israel, bukan kepada Pollard,” imbuhnya.
Pollard, yang pernah bertugas di angkatan laut sebagai analis, divonis hukuman penjara seumur hidup pada tahun 1987, karena mengirimkan dokumen-dokumen rahasia AS ke Israel antara Mei 1984 dan Nopember 1985, saat ia ditangkap.
Tahun 1995 Pollard diberikan kewarganegaraan Israel oleh pemerintah Zionis. Tiga tahu kemudian, dia diakui secara resmi sebagai agen yang bekerja untuk negara Yahudi itu, yang berupaya membebaskan dan membawanya ke Israel.
Pekan ini, hampir 70.000 warga Israel, termasuk para intelektual terkemuka, menandatangani petisi yang menyeru agar Presiden Israel Shimon Peres menggunakan kunjungannya ke AS, untuk menekan Presiden Obama agar mau membebaskan Pollard.
Banyak warga Israel yang berpendapat bahwa hukuman yang dijatuhkan atas Pollard “terlalu kejam”, mengingat ia memberikan informasi rahasia itu kepada “teman baik Amerika Serikat” sendiri.
Mengenai kemungkinan adanya mata-mata lain yang bekerja untuk Israel di Amerika Serikat, Rabinovich berkata, “Saya khawatir demikian.”*