Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Meskipun Paus Fransiskus Minta Agar Tidak Dieksekusi, Wanita Amerika Ini Tetap Disuntik Mati

Ama Farah
Terakhir diupdate: 30 September 2015 22:03 10:03 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 30 September 2015 22:03
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Negara bagian Georgia di Amerika Serikat hari Rabu lewat tengah malam (30/9/2015) telah mengeksekusi mati seorang wanita, yang pertama dalam kurun waktu 70 tahun, meskipun ada permintaan dari Paus Fransiskus agar hukuman mati itu tidak dilaksanakan.

Kelly Gissendaner, 47, membuat sebuah pernyataan dan permintaan agar didoakan sebelum dia menjalani eksekusi mati dengan cara disuntik cairan mematikan.

“Pada pukul 12:21 pagi (0441 GMT) eksekusi berdasarkan perintah pengadilan atas Kelly Gissendaner telah dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku di negara bagian,” kata seorang jurubicara Department of Corrections (lembaga yang mengurusi penjara dan narapidana) negara bagian Georgia seperti dikutip AFP.

Gissendaner merupakan wanita pertama di negara bagian Georgia yang dieksekusi mati sejak 1945, dan yang ke-16 di seluruh Amerika Serikat, sejak Mahkamah Agung memberlakukan kembali hukuman mati pada tahun 1976.

Wanita itu dihukum mati setelah dinyatakan bersalah berkonspirasi membunuh suaminya sendiri pada tahun 1997.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Eksekusi wanita itu awalnya dijadwalkan pada hari Selasa pukul 7 malam (2300 GMT). Eksekusi ditunda karena pengacaranya minta waktu 11 jam untuk banding supaya eksekusi dibatalkan ke pengadilan tertinggi di Georgia dan Mahkamah Agung AS, tetapi upayanya itu gagal.

Puluhan suporter Gissendaner dan penentang hukuman mati berunjuk rasa di luar penjara di Jackson, di mana wanita itu menunggu ajalnya.

“Jika Anda ingin bukti bahwa hukuman mati itu adalah penyiksaan, tak perlu jauh-jauh, lihat saja #KellyGissendaner menunggu berjam-jam untuk mengetahui apakah dia masih akan hidup atau mati,” kata Helen Prejean, seorang biarawati Katolik penentang hukuman mati dalam akunnya di Twitter.

Paus Fransiskus sendiri lewat utusan pribadinya mengirimkan sebuah surat kepada Dewan Pembebasan Georgia pada hari Selasa kemarin, agar hukuman mati atas Kelly Gissendaner dibatalkan dan diganti dengan hukuman lain yang adil tetapi juga welas asih.

“Yakinlah akan doa-doa saya ketika Anda mempertimbangkan permintaan dari Paus Fransiskus tentang apa yang saya yakini sebagai tindakan yang welas asih nan bijaksana,” tulis Ukup Agung Carlo Maria Vigano menyampaikan permintaan Paus Fransiskus agar hukuman mati tersebut tidak dilaksanakan.

Para pendukung Gissendaner berdalih bahwa wanita itu telah “menemukan Tuhan” ketika mendekam di balik jeruji penjara.

Kelly Gissendaner dari dalam mobil menyaksikan pacarnya Gregory Owen membunuh suaminya, dan dia berencana untuk mengambil untung dari kematian suaminya dengan mencairkan uang asuransi.

Owen mengaku memukuli dan menikam Douglas Gissendaner lalu berupaya membuat pembunuhan itu agar terlihat seperti perampokan..

Owen bernegosiasi dengan kejaksaan di mana dia bersedia mengaku bersalah dan diberi vonis hukuman seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan setelah mendekam dalam penjara sedikitnya 25 tahun.

Kelly Gissendaner menolak negosiasi itu, sehingga kasusnya dilanjutkan dalam persidangan dan membiarkan juri menentukan nasibnya, apakah dirinya bersalah atau tidak.

Anak-anak Gissendaner, satu perempuan dan dua laki-laki, juga meminta agar ibunya dibebaskan dari hukuman mati.

“Kami sudah kehilangan ayah. Kami tidak bisa membayangkan harus kehilangan ibu juga,” kata mereka.

Gissendaner dulu diputuskan akan dieksekusi pada bulan Februari, tetapi batal karena ada badai salju. Satu bulan kemudian dia dijadwalkan akan dieksekusi, namun lagi-lagi batal sebab obat mematikan yang rencananya akan dipakai oleh petugas, pentobarbital, agak meragukan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 50 Persen Gereja di Data Laman Kemenag Jabar Dinilai Tidak Valid
Tulisan selanjutnya “Begini Loh, Nak!”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?