Hidayatullah.com—Wakil ketua dari partai oposisi Partai Rakyat Republik (CHP) mempertanyakan janji kampanye Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu belum lama ini, yang mengatakan akan mencarikan istri bagi para pemuda jika orangtua mereka tidak berhasil menikahkannya, serta janji subsidi untuk pengusaha muda.
Wakil Ketua CHP Selin Sayek Boke mengatakan bahwa Davutoglu tidak menyebutkan bagaimana dia akan mencarikan pengantin wanita, atau bagaimana dia akan memberikan dukungan pemerintah kepada anak-anak muda yang ingin membuka usaha.
“Pekan lalu, perdana menteri berjanji akan mencarikan mempelai wanita bagi para lelaki, tetapi dia tidak menjelaskan dari sumber mana dia akan mendapatkannya,” kata Boke, berbicara dalam sebuah pertemuan ekonomi di Provinsi Eskisehir, bagian tengah Turki.
Boke juga mempertanyakan rencana Davutoglu untuk memberikan subsidi bagi pengusaha-pengusaha muda.
“Dia mengumumkan akan memberikan 100.000 lira (sekitar Rp464 juta) kepada pemuda yang akan memulai usaha, tetapi dia tidak menjelaskan dari mana sumbernya [uang itu],” kata Boke seperti dikutip Hurriyet Selasa (27/10/2015).
Pada 22 Oktober, Davutoglu mengatakan pemerintah akan membantu para pemuda untuk menikah, jika orangtua mereka tidak bisa melakukannya, sebagai bagian dari program “pengkaryaan dan kewirausahaan” partainya, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).
“Begitu kalian memiliki pekerjaan, gaji dan makanan. Apa yang tertinggal? Seorang istri. Kami ingin rakyat negeri ini makmur. Kami ingin mereka bereproduksi dan pada saat yang sama juga memiliki pekerjaan. Jika kalian mengatakan, ‘Saya butuh seorang istri,’ kalian pertama-tama bisa membicarakannya kepada orangtua kalian, dan dengan kehendak Allah, mereka akan menemukannya yang cocok untukmu. Jika mereka tidak bisa, maka kalian bisa datang kepada kami,” kata Davutoglu berkampanye.
AKP dalam pemilu terakhir bulan Juni 2015 kehilangan suara mayoritas di parlemen, sehingga harus membentuk pemerintahan koalisi. Namun sayangnya, lagi-lagi AKP (dalam hal ini Davutoglu sebagai perdana menteri) gagal mengajak partai-partai lain untuk bergabung membentuk pemerintahan Turki yang baru. Akhirnya, pemilihan umum dini tidak bisa dihindari, dan akan dilaksanakan bulan Nopember.
Presiden Recep Tayyip Erdogan sendiri, yang merupakan salah seorang pendiri AKP, lebih menyukai digelarnya pemilihan umum dini daripada AKP harus membentuk pemerintahan koalisi. Erdogan masih percaya partainya akan kembali menguasai mayoritas parlemen. [Baca juga: AKP Kehilangan Dukungan karena Erdogan dan Menteri Pengolok Al-Qur`an]*