Hidayatullah.com—Pasukan militer Venezuela dikerahkan ke kota Cumama, ibukota negara bagian Sucre, dan menangkap lebih dari 400 orang setelah terjadi kerusuhan massal dan penjarahan akibat kesulitan pangan.
Beberapa orang dikabarkan ditembak mati, sementara lebih dari toko diserbu massa selama kerusuhan di kota itu hari Selasa lalu (14/6/2016).
Pihak berwenang setempat mengatakan bahwa aksi brutal massa itu merupakan “vandalisme” yang dipicu oleh faksi sayap kanan yang menjadi oposisi di negara itu.
“Media lokal mengatakan bahwa tiga orang dikabarkan terbunuh, namun pihak berwenang setempat membantah klaim itu,” lapor wartawan Aljazeera Virginia Lopez dari Caracas.
“Hanya ada 400 orang yang ditangkap dan kematian itu tidak ada hubungannya dengan penjarahan,” kata gubernur wilayah itu Luis Acuna kepada sebuah stasiun TV lokal, dengan menyebut para penjarah sebagai perusak yang disokong oposisi.
“Saya yakin mereka yang membayar orang-orang itu, ini telah direncanakan,” ujarnya.
Nelson Moreno, gubernur negara bagian Anzoategui tetangga Sucre, mengatakan delapan orang ditangkap di sana pada hari Selasa lalu, dalam situasi yang “tidak biasa”, sebuah istilah yang merujuk pada penjarahan.
Beberapa pekan terakhir di berbagai daerah di Venezuela, banyak orang turun ke jalan berteriak-teriak “kami butuh makanan.”
Menurut kelompok pemantau Venezuelan Observatory of Violence, lebih dari 10 kasus penjarahan terjadi setiap hari di berbagai daerah di negara berpenduduk 30 juta jiwa itu.
Politisi oposisi mengatakan Presiden Nicolas Maduro dan pendahulunya Hugo Chavez bersalah karena kegagalan kebijakan ekonomi sosialis yang mereka terapkan. Oposisi mengupayakan kembali agar tahun ini digelar referendum untuk mendongkel pemerintahan Maduro.
Menurut Maduro, musuh-musuh politiknya mengobarkan “perang ekonomi” terhadap pemerintahannya dan berusaha melakukan kudeta.*