Hidayatullah.com—Mantan Presiden Iran Ali Khatami mendesak rakyat Iran memilih Hasan Rouhani pada pemilihan presiden ke-12 melalui pesan video yang disiarkan di akun media sosial.
Khatami menegaskan bahwa Rouhani berhasil dalam pemerintah dan beliau berpendapat bahwa meskipun semua kesulitan namun Rouhani menjalankan layanan yang baik.
“Beberapa masalah telah kita selesaikan. Kita harus melanjutkan perjalanan bersamanya untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang lebih besar, ” kata Khatami dikutip DW.
Khatami mengakhiri pesannya dengan mengatakan, ”berikan suara lagi kepada Rouhani demi masa depan yang lebih baik dan memperkuat harapan-harapan.”
Khatami, dalam video yang dimuat secara online, mendesak para pemilih agar memberi suara mereka kepada Rouhani untuk memastikan pelaksanaan keadilan social dan ekonomi.
Ia juga memuji pencapaian pemerintahan Rouhani yang disebutnya berhasil walaupun dinilai menghadapi pembatasan dan masalah.
Khatami dianggap telah memainkan peran kunci dalam keberhasilan Rouhani menjadi presiden tahun 2013, yang tampaknya meyakinkan penantangnya, Mohammad Reza Aref agar membuka jalan.
Khatami, yang memegang jabatan presiden dari tahun 1997 hingga tahun 2005, dianggap pemimpin kerohanian kaum reformis Iran dan tetap berpengaruh di kalangan kaum muda walaupun media Iran dilarang menyebut namanya.
Hassan Rouhani menggantikan Mahmoud Ahmadinejad, yang sudah dua kali menjabat pada Pemilu lalu. Berbeda dengan pendahulunya Ahmadinejad yang dikenal anti Barat, Hasan Rouhani dengan kenal berusaha mendekat dengan hangat degan Barat.
Tahun lalu, pemimpin tertinggi spiritual Iran, Ali Khamenei sempat melemparkan kritikan keras dengan menyebut Hasan Rouhani terlalu terbuka dan lunak pada Barat, khususnya pada saat melakukan pembicaraan kesepakatan nuklir.
“Sisi Barat tidak berkomitmen untuk kesepakatan ini, sementara beberapa pejabat Iran bergegas untuk menandatanganinya,” kata Khamenei saat berbicara di markas Angkatan Laut Iran, seperti dilansir Al Arabiya pada Selasa (29/11/216).
Kritik tersebut muncul setelah adanya keputusan dari Parlemen Amerika Serikat (AS) untuk memperpanjang sanksi terhadap Iran.*/Nashirul Haq AR