Hidayatullah.com—Hari Selasa, Presiden Turki Recep Tayyib Erdoğan tiba di Amerika Serikat (AS).
Kehadiran Erdogan disambut ratusan pendukungnya saat dia masuk ke Blair House. Kerumunan massa meneriakkan nama Erdoğan dan “merah dan putih” – warna bendera Turki.
“Hari ini, kita berada di luar garis partai,” kata Gunay Ovunc, generasi kedua Turki-Amerika yang menjadi ketua Komite Pengarah Nasional Turki-Amerika. “Kami telah melampaui divisi-divisi itu,” dikutip laman TRT.
Ozlem Timucin, seorang wakil presiden provinsi dari Partai AKP yang berkuasa, mengaku merasa perlu hadir untuk kedatangan Erdoğan yang mengatakan bahwa “sebuah kehormatan” untuk menyaksikannya.
Baca: Trump Tegaskan ke Erdogan Soal Dukungan Amerika Serikat untuk Turki
Setelah kedatangan Erdoğan, utusan Turki di Washington mengucapkan terima kasih atas dukungannya, beberapa di antaranya mengatakan bahwa dia melakukan perjalanan ke Washington, D.C. dari tempat sejauh California di pantai barat.
“Uni dan solidaritas ini, terutama di hari-hari ini sangat penting,” kata Serdar Kilic. “Terutama setelah upaya kudeta 15 Juli, kehadiran Anda di sini, memegang dan melambaikan bendera Turki ketika presiden kita tiba – sangat penting,” tambahnya. “Presiden terhormat kami juga menghargaimu semua.”
Kedatangan Erdoğan dijadwal bertemu Donald Trump di Gedung Putih untuk menghadiri pertemuan bilateral Oval Office yang dilanjutkan dengan sebuah konferensi pers.
Ia juga dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin bisnis dan agama Turki-Amerika di kediaman duta besar Turki di barat laut Washington, D.C.
Pertemuan Erdogan di Gedung Putih diperkirakan akan membicarakan tentang perang Suriah. Selain itu, Amerika melihat kekuatan Kurdi, YPG, sebagai bagian penting dalam perang melawan ISIS dan upaya untuk mengusir kelompok itu dari Raqqa. Tapi Turki menganggap YPG sebagai teroris karena kaitannya dengan PPK yang telah melakukan pemberontakan di Turki selama tiga dekade.
Erdogan menyebut kunjungannya ke Washington sebagai “awal baru dalam hubungan Turki-Amerika.”
Baik Turki maupun Amerika telah mendukung kelompok oposisi di Suriah dalam perang enam tahun melawan pasukan dan para sekutu Presiden Bashar al-Assad.*