Hidayatullah.com–Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangda (PBB) untuk Suriah hari Selasa bertemu dengan delegasi rezim Suriah dalam sebuah perundingan damai ke-6 di Jenewa untuk menyelesaikan konflik enam tahun yang telah menewaskan hampir 400 ribu orang itu.
Putaran baru perundingan diperkirakan akan berakhir pada hari Jumat. Delegasi dari rezim Suriah dipimpin oleh Bashar al-Ja’aafari, pihak oposisi dipimpin oleh Nasr al-Hariri, Kepala Negosiator Komite Negosiasi Tinggi (HNC).
Utusan PBB Staffan de Mistura akan bertemu secara terpisah dengan masing-masing delegasi di Kantor PBB.
Diskusi utama adalah untuk fokus pada sebuah konstitusi baru, pemerintahan, pemilihan dan perang melawan terorisme.
“Jalan menuju kebebasan Suriah berjalan melalui Jenewa. “Itulah sebabnya kami datang ke sini, berkomitmen untuk menegosiasikan solusi politik. Dan itulah sebabnya [Bashar al-Assad takut dengan proses ini. Dia takut terlibat dengan agenda transisi politik,” ujar Nasr al-Hariri dikutip TRT.
Baca: Pembicaraan Damai Perang Suriah di Kazakhstan Belum Menunjukkan Perkembangan Positif
“Kami akan terlibat secara konstruktif dengan agenda utusan khusus PBB. Kunci kemajuan adalah transisi politik, untuk Suriah bebas harus tidak memiliki tempat untuk terorisme dan Bashar al-Assad,” Hariri menambahkan.
Lima putaran perundingan sebelumnya yang didukung PBB gagal memberikan hasil nyata dan harapan untuk sebuah terobosan besar masih redup.
Putaran terakhir perundingan yang dimulai pada 23 Maret dan berakhir pada 31 Maret tanpa hasil yang jelas.
Perundingan PBB fokus pada empat masalah terpisah: pemerintahan, konstitusi baru, pemilihan umum, dan perang melawan terorisme.
Baca: Milisi Pembebasan akan Hadiri Pertemuan yang Diinisiasi Rusia dan Turki di Kazakhstan
Perunding antara kubu rezim Bashar al Assad dan pihak oposisi utama Komite Perundingan Tinggi (HNC) diperkirakan berlangsung di Swiss sampai akhir pecan. De Mistura mengatakan dia ingin menggali beberapa isu dengan harapan itu bisa membangkitkan proposal solid.
Namun isu mengenai nasib Assad masih menjadi penghalang yang mengecilkan hati.
HNC berkeras pelengseran presiden harus menjadi bagian transisi politik apapun, namun tuntutan ini tidak bisa diterima rejim Suriah, demikian dikutip AFP.
Sejak perang Suriah meletus pada bulan Maret 2011, lebih dari 250.000 orang telah tewas, menurut PBB. Pusat Penelitian Kebijakan Suriah menempatkan jumlah korban tewas lebih dari 470.000 orang.*