Hidayatullah.com— Kekerasan mematikan meningkat di negara bagian Rakhine, Myanmar, dalam tiga hari terakhir hingga Ahad (27/08/2017), dengan hampir 100 orang tewas.
Pertempuran terjadi pada hari Jumat, 25 Agustus 2017, ketika anggota gerilyawan Rohingya menyerang sejumlah pos keamanan di Rakhine utara.
Jumlah kematian telah meningkat mencapai 98 orang, termasuk 80 gerilyawan dan 12 petugas keamanan. Ini adalah yang tertinggi sejak konflik di wilayah tersebut pecah tahun lalu.
Bentrokan terjadi beberapa jam setelah mantan Sekjen PBB Kofi Annan merilis sebuah laporan yang merinci kondisi di dalam Rakhine.
Kantor pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi mengatakan 12 petugas keamanan dan 59 militan telah tewas. Seorang warga di Maungdaw, kota utama di Rakhine utara, mengatakan tembakan bisa terdengar di sepanjang malam saat bentrokan terjadi.
“Kami masih mendengar suara tembakan sekarang, kami tidak berani keluar dari rumah kami,” kata warga tersebut yang meminta tidak disebutkan namanya.
Namun, sejak pertempuran baru-baru ini terjadi Jumat lalu, sekitar 3.000 orang Rohingya mencoba melarikan diri ke Bangladesh.
Chris Lewa, Direktur Arakan Project, LSM pemantau konflik di Rakhine, mengatakan kekerasan hari Jumat terjadi setelah tentara Myanmar menangkap sekitar 80 orang di sebuah desa di sebuah kamp pengungsian Rohingya di Rathedaung.
Menurutnya, muncul rumor bahwa beberapa orang telah dipukuli sampai meninggal. ”Tiba-tiba lebih banyak tentara datang dan mulai menembaki kamp pengungsi,” katanya. “Dua orang terbunuh. Saya punya foto jasadnya.”
Pasukan Myanmar menembakkan senjata api dan bom mortir ke ratusan kelompok etnis Rohingya yang melarikan diri dari wilayah Rakhine ke perbatasan Bangladesh kemarin.
Baca: Ketakutan, 3500 Etnis Rohingya Mengungsi ke Bangladesh
Wartawan AFP di lokasi kejadian menginformasikan bahwa insiden tersebut terjadi di pos kontrol perbatasan Ghumdhum yang merupakan kelompok etnis Rohingya yang terjebak sejak kemarin setelah pertempuran baru-baru ini di Rakhine utara.
Menurut wartawan, ia menyaksikan etnis Rohingya melarikan diri saat ditembaki tentara.
Markas Besar Pasukan Penjaga Berbatasan Bangladesh (BGB), Manzurul Hassan mengatakan gerilyawan menembaki kelompok etnis tersebut, kebanyakan perempuan dan anak-anak bersembunyi di perbukitan di dekatnya.
“Mereka (anggota militer) tiba-tiba melepaskan senjata dengan mortir dan bom mortir yang menargetkan warga sipil. Mereka tidak bernegosiasi dengan BGB, “katanya.
Sementara itu, pemerintah Myanmar telah memindahkan setidaknya 4.000 warga non-Muslim di beberapa desa menyusul bentrokan yang meningkat di Rakhine barat daya sementara pada saat bersamaan ribuan etnis muslim Rohingya terus melarikan diri ke perbatasan Bangladesh.
Menteri Relokasi, Bantuan Sosial dan Kesejahteraan Sosial Myanmar, Win Myat Aye mengatakan kepada Reuters, pihaknya mengevakuasi warga non-Muslim termasuk menyediakan tempat-tempat seperti vihara, kantor pemerintah dan kantor polisi setempat di kota-kota besar.
“Kami juga menyalurkan bantuan pangan kepada mereka bekerjasama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah daerah,” katanya.
Tapi pemerintah tidak merinci rencananya untuk membantu kelompok etnis Muslim Rohingya, kecuali berita pelarian mereka ke Bangladesh.*