Hidayatullah.com–Sebuah delegasi tingkat tinggi Hamas tiba di Kairo pada Ahad untuk bertemu dengan pemerintah Mesir. Delegasi mendiskusikan blokade Gaza dan berupaya melakukan rekonsiliasi nasional dengan Gerakan Fatah, lapor Arab News, Senin 11 September 2017.
Hamas telah berupaya meningkatkan hubungan dengan Mesir dalam beberapa bulan terakhir.
Delegasi itu dipimpin oleh Yahya Al-Sunwar, dan Kepala Biro Politik, Hamas, Ismail Haniyah yang merupakan kunjungan luar negeri pertamanya sejak terpilih menjabat posisi itu pada Mei lalu.
Perbincangan tersebut, menurut sebuah pernyataan dari juru bicara Hamas Fawzi Barhoum, akan mencakup mekanisme pembebasan masuk ke Mesir melalui perbatasan Rafah, serta untuk memperbaiki keretakan hubungan dengan Fatah.
Baca: Hamas-Fatah Kembali Gelar Dialog Rekonsiliasi di Kairo
Anggota senior Hamas, Musa Abu Marzuk, mengatakan pada harian lokal Mesir, Al-Shorouk, “Hamas telah selalu menyambut peran penting Mesir.”
Terkait perbatasan Rafah, Abu Marzuk mengatakan: “Kami mengerti bahwa dibukanya perbatasan adalah semata-mata keputusan Mesir tetapi kami berharap perbatasan akan dibuka secara teratur untuk memungkinkan perjalanan orang dan barang.”
Dia juga mengatakan dalam pertemuan itu akan mendiskusikan tindakan keras yang diambil oleh Presiden Palestina Mahmud Abbas terhadap gerakan yang memimpin di Jalur Gaza itu.
Surat kabar milik pemerintah Mesir, Al-Ahram, mengatakan pada hari Ahad bahwa sebuah delegasi dipimpin oleh mantan Ketua Fatah, Mohammad Dahlah, diperkirakan akan bergabung dalam pertemuan itu di Kairo.
Para pemimpin Hamas telah melakukan perbincangan dengan Mohammad Dahlan, mantan ketua Fatah di Gaza yang dikalahkan oleh Hamas dalam pemilu pada 2007.
Hamas berharap Dahlan dapat meyakinkan Mesir untuk membantu rakyat Gaza yang selama satu dekade terakhir sedang berjuang di bawah blokade Israel yang didukung terus oleh pemerintah Mesir. Terkait pertanyaan apakah delegasi itu akan bertemu Dahlan di kunjungan Mesirnya, Abu Marzuk dikutip mengatakan, “Masalah itu tidak ada dalam agenda delegasi.”
“Kunjungan ke Mesir dapat mewakili pesan dari Hamas pada Presiden Palestina Mahmud Abbas bahwa mereka terbuka dengan penawaran para pendukung Dahlan,” analis politik Mohammed Gomaa mengatakan pada Arab News.
Abbas yang berharap dapat menekan Hamas untuk melepaskan kontrol atas Gaza, berhenti membayar Israel biaya listrik untuk Gaza. Sehingga listrik seringkali tersedia selama kurang dari empat jam sehari, dan tidak pernah lebih dari enam jam.
Abbas berjanji akan terus mempertahankan sanksi atas Gaza, serta mengatakan bahwa langkah itu ditujukan untuk Hamas dan tidak untuk orang biasa. Sedangkan Hamas sedang mencoba untuk meruntuhkan tembok sanksi itu melalui peningkatan hubungan dengan Mesir dan negara-negara Arab lainnya.*