Hidayatullah.com—Keluarnya Inggris dari persekutuan Uni Eropa juga akan berdampak buruk bagi Turki, menurut Dennis MacShane, seorang penulis yang juga mantan menteri Inggris.
“Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, maka Turki akan kehilangan teman terbaiknya di Eropa,” kata MacShane, seperti dikutip Hurriyet Jumat (3/11/2017). Buku MacShane berjudul “Brexit, No Exit: Mengapa pada akhirnya Inggris tidak akan meninggalkan Eropa” diterbitkan bulan lalu.
Berbicara di sela-sela Global Relations Forum di Istanbul pada hari Rabu 1 November, MacShane mengenang masa awal tahun 2000-an, ketika Turki memperbarui permohonannya untuk menjadi anggota Uni Eropa setelah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) berkuasa. MacShane kala itu menjabat menteri urusan Eropa di kabinet Inggris periode 2002 sampai 2005.
“Saya bersama Tony Blair dan Erdogan, ketika mereka mulai mendesak negara-negara anggota UE lain agar pembicaraan aksesi bisa dimulai,” kata MacShane.
“Saya ingat menyusuri lorong-lorong Brussels bersama Erdogan dan Tony Blair yang sangat antusias, mengetuk pintu Kanselir [Gerhard] Shroder dan Presiden [Jacques] Chirac, mengatakan ‘Ayolah, setidaknya mari kita mulai berdialog dengan Turki,” imbuhnya.
MacShane berpendapat bahwa “jika Brexit benar-benar terjadi,” maka Inggris akan menemui kondisi hubungan dengan Uni Eropa mirip seperti apa yang dialami Turki sekarang ini.
“Dengan kata lain, akses ekonomi terbatas tanpa ada pengaruh politik. Ini merupakan paradoks raksasa bagi kedua negara besar, Turki dan Inggris, yang keduanya memiliki sejarah imperial membanggakan, dan sekarang [justru] terlepas dari Eropa,” kata bekas pejabat tinggi itu.
Dia juga menekankan bahwa “dampak geopolitik dan ekonomi” dari proses Brexit tidak boleh disepelekan.
“Saya tidak yakin rakyat di Turki, dengan semua masalah internal dan regional yang dikhawatirkan, memahami kesulitan historis Brexit,” ujarnya.
Meskipun banyak kesulitan politik dengan Eropa, Turki masih relatif memiliki hubungan ekonomi yang sehat dengan benua itu, kata Mac Shane.
“Ada jutaan orang Turki di Jerman dan negara-negara lain, termasuk Inggris. Salah satu tuntutan kunci kelompok anti-Eropa adalah menutup imigrasi ke Inggris. Selama kampanye Brexit tahun lalu, selebaran diselipkan ke setiap rumah di Inggris, mengatakan bahwa jika kita tetap bertahan di Eropa maka 75 juta orang Turki akan tiba di London besok. Kampanye itu sangat anti-Turki, sangat anti-imigran,” imbuhnya.
Sementara itu, mengomentari perihal invasi ke Iraq, sebagai salah satu pengkritik keras Blair dalam masalah hubungan internasional, MacShane mengatakan keputusan perang itu merupakan “bencana total.”
“Sekarang saya berpikir tentang semua intervensi militer di negara-negara mayoritas Muslim. Ini termasuk Soviet pergi ke Afghanistan, Amerika dan Inggris pergi ke Iraq, dan Inggris bersama Prancis pergi ke Libya, serta semua pihak yang pergi ke Suriah termasuk Turki,” kata MacShane.
“Ada banyak diktator buruk di seluruh dunia. Namun, ketika Anda menghancurkan sebuah negara maka tidak ada yang tersisa. Anda tidak akan memiliki hukum, tidak ada polisi, tidak ada perekonomian, tidak ada keadilan, tidak ada sekolah … [invasi ke] Iraq merupakan sebuah kesalahan besar. Saya dulu termasuk yang percaya bahwa senjata pemusnah massal itu ada [di Iraq], sebab penyidik-penyidik PBB tidak akan pernah bisa mengatakan kepada kami bahwa barang itu tidak ada. Tidak satu pun seorang diplomat yang bekerja dengan saya pernah mengatakan secara pribadi ‘Pak menteri, ini tidak akan berhasil’ … Tidak satu pun orang yang menaikkan alisnya, tak satu pun jenderal. Itu adalah sebuah kesalahan historis,” imbuhnya.*