Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Rumah Gedheg, Minimnya Air Bersih sampai Maut Menjemput [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 November 2017 14:42 2:42 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 November 2017 14:42
Bagikan
Pengungsi Rohingya di Rakhine yang kondisinya memprihatinkan
Bagikan

Hidayatullah.com–Sampai hari ini masih banyak orang bertanya bagaimana kondisi terkini di desa maupun kamp-pengungsi Rohingya di sana Pasca aksi pembersihan etnis oleh militer Burma (Myanmar) di Distrik Maungdaw, 25 Agustus 2017?

Pekan kemarin,  bersama relawan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Pusat dan al-Khair Foundation (AKF), kami memperoleh kesempatan berkunjung langsung ke kamp pengungsi Muslim Rohingya di Rakhine State, khususnya di Sittwe Township.

Kenapa kami ke Sittwe Township, bukan ke Distrik Maungdaw? Pertama, saat ini akses dan perizinan buat masuk ke sana sangat sulit. Kedua, kami belum menemukan seorang pemandu lokal yang bersedia mendampingi kami selama di sana. Ketiga, kami ingin menyerahkan donasi bantuan tambahan untuk kelanjutan proses pembangunan sekolah di Desa Oo Yin Thar, termasuk mengontrol pemasangan hand pump (pompa air) yang sudah dipasang di beberapa titik kamp pengungsian di Sittwe Township.

Kendati demikian, Sittwe Township atau Maungdaw sama-sama merupakan wilayah dari Rakhine State yang penduduknya mayoritas Muslim Rohingya. Kalau melihat peta dunia, lokasi Sittwe Township berada di bawah Maungdaw. Keduanya dekat dengan pesisir Teluk Bengala.

Baca: Berbekal “Surat Sakti’ Sambangi Pengungsi Rohingya di Rakhine

 Kami mengamati dan merasakan langsung kondisi para pengungsi Rohingya di sana sangat memprihatinkan. Junta militer maupun polisi melarang keras mereka keluar dari kamp pengungsian, yang dikelilingi pagar kawat berduri serta kompleks perumahan junta militer dan polisi tersebut.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Berdinding Gedheg

Sarana dan prasarana di lokasi pengungsian secara umum sangat terbatas. Kondisinya jauh dari standar pada umumnya. Misalnya sarana dan prasarana pendidikan. Bangunan sekolah yang ada saat ini kebanyakan masih bangunan lama. Perlu adanya renovasi, termasuk tambahan bangunan buat ruang kelas. Seperti yang kini sedang kami kerjakan di Desa Oo Yin Thar.

Dari beberapa sekolah yang kami sambangi, hanya desa itulah yang sekolah dasarnya lumayan bagus bagi ukuran para pengungsi. Dinding sekolahnya sudah menggunakan batu bata yang disusun dengan adukan semen bercampur pasir. Meskipun catnya sudah pada luntur dan mengelupas di sana sini.

Bantuan relawan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Pusat dan al-Khair Foundation (AKF)

Di Desa Doo Pyin, Mor Thi Nyar dan Thet Kay Pyin, kondisi sekolahnya jauh lebih memprihatinkan, termasuk rumah. Dindingnya dari anyaman bambu (bahasa jawanya gedheg). Atapnya dari anyaman daun aren. Di sana sini, banyak yang sudah berlubang dan rusak. Bisa dibayangkan jika hujan turun menderas? Tentu miris sekali melihatnya.

Bangunan sekolah di sana berukuran 5×10 meter. Bentuknya ada yang menyerupai rumah panggung. Tapi, ada juga yang serupa rumah pada umumnya. Tak ada sekat antara satu kelas dengan kelas lainnya. Murid-muridnya duduk lesehan. Ada yang saling berhadapan. Ada juga yang saling membelakangi. Meja tulisnya memanjang terbuat dari kayu. Satu meja bisa dipakai untuk 3 anak didik. Semua kondisi sekolah, baik di desa maupun kamp pengungsian hampir serupa itu.

“Di kamp Mor Thi Nyar justru belum ada sekolah. Yang ada baru training centre (pusat pelatihan) untuk belajar,” jelas Raihan (nama samaran), seorang pemandu lokal yang mendampingi kami selama blusukan ke desa maupun kamp pengungsian.

Baca: Dari Myanmar ke Bangladesh, Pengungsi Rohingya 15 Hari Jalan Kaki

Khusus bagi masyarakat ataupun para pengungsi Muslim Rohingya di sana, pendidikan dibatasi sampai tingkat Sekolah Dasar (SD). Selama blusukan ke empat desa; Oo Yin Thar, Thet Kay Pyin, Mor Thi Nyar dan Doo Pyin serta dua kamp; Thet Kay Pyin dan Mor Thi Nyar, kami tidak melihat ada satupun bangunan sekolah setingkat SMP dan SMA, apalagi bangungan bertingkat untuk Perguruan Tinggi.

“Selain ‘dibersihan’ secara perahan. Di sini, kami memang sengaja dibuat bodoh oleh pemerintah,” kata Raihan.

Saat ini, kami sedang membangun satu lokal gedung untuk kelas tambahan di Desa Oo Yin Thar, Sittwe Township. Proses pembangunan berjalan sekitar 70 persen. Selain itu, kami juga sedang mengurus perizinan kepada otoritas Kota Sittwe guna merenovasi total sebuah sekolah yang berada di Desa Doo Pyin.

Tak ada Klinik, Maut Menjemput

Di tengah perjalanan pulang dari Desa Doo Pyin, Raihan tiba-tiba menunjukkan sebuah foto lelaki tua dari layar androidnya. Badannya kurus sekali. Tinggal tulang belulang yang terbalut kulit. Area matanya pun terlihat cekung. Ia duduk di atas tumpukan kain sarung. Atau mereka menyebutnya Longyi. Jenggotnya pun lebat menjulai ke bawah. Tapi, dengan kondisi demikian, seuntai senyum masih menyembul di bibir lelaki yang bertelanjang dada dari kamp Say Thar Mar Gyi tersebut.

“Beberapa hari yang lalu, bapak tua ini meninggal karena kekurangan obat. Dia tidak pernah mendapat layanan medis yang memadai. Akhirnya maut menjemput,” mimik wajah Raihan tampak kecewa sekali.

Baca: Pengungsi Rohingya di Bangladesh Mencapai 604.000

Selama ini, sarana prasarana kesehatan di kamp pengungsian memang sangat minim. Bahkan, di kamp Mor Thi Nyar tak ada satupun klinik. Tenaga medis khususnya dokter, datang ke lokasi hanya sekali sepekan. Itupun kalau ada yang datang. Sisanya dilayani oleh paramedis dengan pelayanan yang ala kadarnya.

Raihan merasa amat prihatin dengan banyaknya masyarakat Rohingya di kamp-kamp pengungsian yang menderita berbagai macam penyakit. Mereka tak pernah mendapat pelayanan medis yang memadai, termasuk ketersediaan obat-obatan.

Apa yang diungkapkan oleh Raihan adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi para penduduk Rohingya yang mengungsi di negeri sendiri. Hal itu kami rasakan betul saat mengunjungi seorang pengungsi, sebut saja namanya Abduh, selepas mendistribusikan bantuan 1.000 paket sembako di Kamp Mor Thi Nyar.*>>>> bersambung

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baitul Maal HidayatullahBangladeshBMHCox's Bazaretnis Muslim Rohingyagenosida Rohingyakamp pengungsian RohingyaKekerasan Rohingyakrisis kemanusiaan Rohingyamadrasah pengungsi RohingyamyanmarPengungsi Rohingyapengungsi Rohingya di BangladeshRohingyawarga Muslim Rohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Reklamasi Teluk Jakarta Dilihat Menyimpan Banyak Masalah Besar Serius
Tulisan selanjutnya Investigasi Hamas: Mossad di Balik Penembakan Mohammad al-Zawari

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?