Hidayatullah.com—Mantan presiden Peru Alberto Fujimori mengeluarkan pernyataan maaf terbuka kepada publik atas pelanggaran-pelanggaran yang terjadi semasa pemeritahannya di era 1990-an. Permohonan maaf itu diutarakan dua hari setelah dia mendapatkan pengampunan dari presiden sebagai terpidana korupsi dan pelanggaran HAM.
“Saya sadar bahwa hasil kerja pemerintahan saya diterima baik di satu sisi, tetapi saya mengakui bahwa saya sudah mengecewakan sesama anak bangsa lainnya, dan saya memohon dengan sepenuh hati agar mereka memaafkan saya,” kata Fujimori berbicara di atas tempat tidur di rumah sakit, lewat rekaman video yang diunggah di Facebook.
Eks diktator berusia 79 tahun itu juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Peru Pablo Kuczynski yang telah memberikannya pengampunan setelah menjalani lebih dari separuh masa tahanan, dari vonis 25 tahun penjara, atas kejahatan pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi yang pernah dilakukannya.
Fujimori tidak pernah meminta maaf sebelumnya, bahkan dia bersikukuh menyatakan tidak bersalah ketika hakim menetapkan vonis, lapor Deutsche Welle Selasa (26/12/2017).
Sebuah pernyataan yang dirilis dari kantor kepresidenan hari Ahad (24/12/2017) mengatakan bahwa pengampunan Malam Natal itu diberikan atas dasar kemanusiaan. Fujimori menderita “penyakit progresif, degeneratif dan tidak dapat disembuhkan dan kondisi di dalam penjara berisiko terhadap nyawa, kesehatan dan kesejahteraannya,” bunyi pernyataan itu.
Para dokter mengatakan Fujimori mengalami arrhythmia alias gangguan detak jantung yang tidak normal.
Pengampunan dari presiden untuk Fujimori itu menyulut aksi protes di jalan-jalan oleh keluarga korban kekejaman rezim Fujimori, serta orang-orang yang menuduhnya membuat kesepakatan di bawah meja dengan Presiden Kuczynski.
Hari Kamis pekan lalu, Kuczynski lolos dari bahaya pemakzulan oleh parlemen atas keterlibatannya dalam skandal korupsi yang melibatkan perusahaan raksasa konstruksi asal Brazil, Odebrecht.
Keiki Fujimori, anak perempuan Fujimori yang memimpin oposisi terbesar Partai Front Rakyat, mendukung pemakzulan Kuczynski.
Akan tetapi, putra bungsu Fujimori, Kenji, yang juga seorang anggota kongres dari Front Rakyat menggembosi upaya pemakzulan tersebut.
Oleh karena itu sebagian rakyat menuding ada kongkalikong politik antara Kuczynski dan keluarga Fujimori.
Namun, sebagian rakyat lainnya masih ada yang mendukung bekas diktator itu, karena dianggap berjasa memberantas gerilyawan maois Jalan Terang serta menstabilkan perekonomian Peru selama pemerintahannya dari tahun 1990 sampai 2000.*