Hidayatullah.com—Sebuah laporan rahasia perihal militer Swiss di era Perang Dingin yang lama ditunggu-tunggu akhirnya dipublikasikan untuk pertama kalinya, 27 tahun setelah laporan itu ditulis.
Laporan Cornu itu, yang diambil dari nama hakim Swiss penulisnya Pierre Cornu, mengungkap bahwa negara Swiss yang selama ini dianggap netral dalam berbagai konflik ternyata menjalin kerja sama erat dengan Inggris, salah satu anggota NATO.
Dalam laporan itu disebutkan P-26, pasukan militer Swiss berkekuatan 400 personel, disiapkan untuk “bersiaga di belakang” dan menahan kemungkinan serangan yang akan dilancarkan Uni Soviet, lapor BBC Jumat (27/4/2018).
Ketika eksistensi P-26 mencuat ke publik pada 1991, hanya ada sedikit informasi yang menyebutkan bahwa petinggi-petingginya menjalin kerja sama erat dengan sejumlah anggota NATO. Kala itu, salah satu rumor yang beredar menyebutkan P-26 menjalin kerja sama dengan pihak keamanan Inggris, terutama dinas intelijen MI5 dan MI6.
Sekarang, dengan diungkapkannya sebagian Laporan Cornu itu kabar tersebut terbukti benar.
Unit pasukan Swiss itu secara rutin melakukan perjalanan ke Inggris, di mana para anggotanya kerap menggunakan identitas palsu. Di sana mereka dilatih perang gerilya, termasuk cara melakukan sabotase. Salah satu sesi pelatihan mengajarkan pesertanya untuk meledakkan kilang-kilang minyak. Sebagian peserta lain diajarkan melompat dari helikopter yang sedang mengudara ke atas badan kapal selam yang sedang menyembul ke permukaan laut.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa P-26 berencana memindahkan pusat komandonya ke Inggris, apabila negara Swiss diserang. Perlengkapan relokasi disimpan di suatu tempat aman di Kedutaan Swiss di London.
Hal paling kontroversial dalam laporan itu adalah perihal pembelian alat komunikasi terenkripsi “Harpoon” oleh P-26. Sistem komunikasi itu adalah sistem komunikasi yang sama yang digunakan oleh unit-unit militer negara anggota NATO yang diminta “bersiaga di belakang”. Hal ini jelas mengungkap bahwa Swiss sama sekali tidak netral, justru bersiap-siap bekerja sama dengan NATO jika terjadi peperangan di Eropa.
Parlemen Swiss, yang berwenang mengawasi seluruh pembelanjaan militer, tidak diberitahu perihal pendirian unit tersebut pada tahun 1979, dan bahkan pemerintahan Swiss yang terdiri dari tujuh anggota hanya memperoleh penjelasan sekedarnya.
Sementara anggota-anggota parlemen dan rakyat Swiss buta sama sekali perihal P-26, lembaga keamanan Inggris yang rutin berkunjung ke Swiss untuk mengkaji P-26 sangat mengetahui seluk-beluk unit rahasia itu.
Laporan Cornu yang untuk pertama kalinya dipublikasikan ini sudah melalui proses penyuntingan, artinya nama-nama orang yang terlibat –baik dari Swiss, Inggris maupun lainnya– tidak diungkap. Nama-nama lokasi yang disebut dalam laporan itu juga disensor.
Rakyat Swiss, dan pihak-pihak yang bermaksud menggugat masalah ini, harus bersabar hingga 2041. Pasalnya, isi selengkapnya laporan Cornu masih terlindungi undang-undang kerahasiaan 50 tahun.*