Hidayatullah.com–Setelah beberapa bulan protes masyarakat internasional, Amerika Serikat akhirnya tetap saja resmi memindahkan kedutaannya ke Yerusalem (Baitul Maqdis) pada hari Senin, (14/05/2018) oleh Penasihat Senior Presiden AS Jared Kushner, didamping istrinya, yang tak lain putrid Donald Trump Ivanka.
Trump memastikan diri tidak akan hadir untuk meresmikan kedutaan AS di Yerusalem. Dia menunjuk sebuah delegasi kepresidenan, yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri John Sullivan. Turut dalam rombongan putri Trump, Ivanka bersama suaminya, penasihat Gedung Putih Jared Kushner, serta Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin.
Sampai pagi ini, sudah 58 orang dibantai Zionis sejak awal ‘Perjalanan Pulang’ atau disebut ‘Aksi Kembali ke Palestina yang Terjajah’ sejak dimulai 30 Maret 2018 lalu. Aksi ini, sekaligus menandai ulang tahun ke-70 pendirian ‘Negara palsu Israel’ yang juga disebut hari “Nakba” (bencana).
Pukul 21.39: Korban tewas di Gaza naik menjadi 58
Kementerian Kesehatan Gaza, dikutip laman Middle East Eye (MEE) mengatakan sudah 58 orang Palestina gugur dan 2400 orang terluka oleh pasukan Israel.
Pukul 20. 28: Menyalahkan Hamas
Gedung Putih jistru menyalahkan pejuang pembebasan Palestina Hamas atas pembantaian tentara Zionis-Israel di perbatasan Gaza, di mana pasukan penjajah secara fatal menembak setidaknya 55 peserta aksi damai ‘kembali ke Palestina’ atau Great Return March.
Juru bicara Gedung Putih Raj Shah menuduh para pemimpin Hamas melakukan “upaya propaganda yang mengerikan dan tidak menyenangkan” yang menyebabkan bentrokan di Gaza pada saat yang sama saat Amerika Serikat (AS) membuka kedutaan baru di Yerusalem (Baitul Maqdis), sebuah langkah yang telah memicu kemarahan Palestina dan dunia.
“Tanggung jawab atas kematian tragis ini bersandar pada Hamas,” kata Shah. “Hamas dengan sengaja dan sinis memprovokasi tanggapan ini.” [CNN]
Pukul 20,20: Turki Menuduh Israel Lakukan ‘Genosida’
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hari Senin menuduh Israel melakukan “state terror” (terorisme Negara)” dan “genosida” setelah pasukan Israel menewaskan sedikitnya 55 orang Palestina di Perbatasan Gaza.
“Israel melancarkan ‘teror negara’. Israel adalah negara teror,” kata Erdogan kepada mahasiswa Turki di London dalam pidato yang disiarkan oleh televisi pemerintah. “Apa yang telah dilakukan Israel adalah genosida. Saya mengutuk drama kemanusiaan ini, genosida, dari sisi mana pun itu datang, Israel atau Amerika,” tambahnya.
Baca: Respon Pemindahan Kedutaan AS ke Al Quds, Turki: Al Quds Tidak Sendirian
Pukul 09.57: Turki & Afsel Menarik Duta Besar
Selain Afrika Selatan, Turki menarik duta besarnya dari Israel hari Senin. Negara ini juga memanggil kembali duta besar nya di Amerika Serikat (AS) sebagai bentuk protes.
Afrika Selatan memanggil duta besarnya di Israel pada hari Senin setelah setidaknya 55 orang Palestina gugur dalam pembantaian yang dilekukan pasukan Zionis selama aksi damai pembukaan Kedutaan Besar AS di Yerusalem (Baitul Maqdis).
“Mengingat cara serangan Israel yang tidak pandang bulu dan membabi buta, pemerintah Afrika Selatan telah mengambil keputusan untuk memanggil Duta Besar Sisa Ngombane dengan segera hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan dalam sebuah pernyataan dikutip Middle East Eye.
Pukul 17.34: Mereka Bersorak: Bakar Mereka! Tembak Mereka! Bunuh Mereka!
Sementara Amerika Serikan secara resmi memindahkan kedutaannya ke Yerusalem (Baitul Maqis), pasukan penjajah Israel membunuhi puluhan demonstran dan peserta aksi damai di Gaza.
Ketika pejabat Amerika dan Israel meresmikan pemindahan kedutaan ini pasukan penjajah terus menembaki demonstran dengan peluru-peluru tajam, korban tewas meningkat tak terelakkan sepanjang hari Senin.
Baca: Inilah 32 Negara yang Hadiri Pembukaan Kedutaan AS di Al Quds
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersuka cita memuji langkah AS menempaktan kedutaan ini dengan menyebutnya sebagai momen “bersejarah”. Ia mengatakan dalam pidatonya, ‘kemenengan‘ terjadi hari ini.
“Ini adalah sejarah. Tuan Trump, dengan mengakui sejarah, Anda telah membuat sejarah,” katanya.
“Kami semua sangat tersentuh dan bersyukur. Kedutaan negara paling kuat di dunia, Amerika Serikat, dibuka di sini,” lanjutnya.
Menantu dan penasehat senior Trump, Jared Kushner juga memberikan pidato pada upacara tersebut, di mana dia memuji dukungan AS untuk ‘Negara palsu Israel’, mengesampingkan kekhawatiran kebrutalan tentara Zionis di Gaza yang terjadi pada saat yang sama dengan pidatonya.
“Kami berdiri dengan Israel karena kami berdua percaya pada hak asasi manusia, demokrasi layak dipertahankan, dan percaya bahwa kami tahu bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan,” kata Kushner.

“Sekalipun presiden-presiden Amerika sebelum Trump tidak memenuhi janji mereka untuk memindahkan kedutaan Amerika setelah memegang jabatan, presiden ini menepati janjinya. Karena kalau Presiden Trump memberi janji, ia tepati.”
Dalam pidatonya melalui video jarak jauh, Donald Trump menyebut pemindahan kedutaan Amerika ke Yerusalem (Baitul Maqdis) “sudah lama diusahakan – Yerusalem adalah Ibu Kota Israel,” demikian klaimnya.
Pemimpin Amerika itu juga mengatakan bahwa Amerika Serikat “tetap mendukung persetujuan perdamaian abadi antara Israel dan Palestina”.
Sementara itu, di luar itu, para demonstran Palestina di Yerusalem secara brutal ditembaki pasukan penjajah.
MEE menyaksikan lusinan orang Palestina yang tidak bersenjata dipukuli dan ditangkap oleh pasukan keamanan penjajah di luar kedutaan, memunculkan sorak-sorai dari para demonstran Israel yang keluar rumah mendukung pembukaan kedutaan ilegal ini.
“Bakar mereka”, “tembak mereka”, “bunuh mereka”, kata orang-orang Israel.
Kementerian Kesehatan Gaza merilis, 58 warga Palestina gugur dan 2410 telah terluka oleh pasukan Ziois di puncak aksi Great Return March selama enam minggu yang sebelumnya telah menelan 49 jiwa.
Baca: Pembukaan Kedutaan AS di Al Quds Pukul 4 Sore Waktu Setempat Hari In
Adegan mengerikan di Gaza, di zona dekat pagar pemisah antara Palestina dan Israel, terjadi sejak pagi, dengan banyak peserta aksi tertembak di kepala, leher atau dada.
Sejumlah mayat terperangkap di dekat pagar, sementara petugas ambulan kesulitan menjangkau mereka.
“Banyak warga Palestina yang gugur hari ini demi Palestina dalam aksi damai, dan kami tidak akan menyerah pada darah yang mereka curahkan,” kata Wadee Masri (52), dikutip MEE. “Saya datang ke sini untuk berpartisipasi dalam pawai, untuk membuktikan bahwa saya adalah orang yang memiliki hak untuk kembali ke tanah saya.
Perayaan hari ini di Yerusalem membuat saya merasa sedih atas apa yang dilakukan Amerika terhadap warga Palestina,” tambahnya. “Tidak ada kedamaian tanpa Yerusalem (Baitul Maqdis). Kami akan hidup dan mati berjuang untuk Yerusalem. ”
Sementara Kelompok internasional, Humans Right Watch (HRW) mengecam situasi di Gaza yang disebutnya sebagai “pertumpahan darah”. Menurut HRW, kejahatan Israel memblokade selama satu dekade dan di bawah pendudukan selama setengah abad, “telah mengakibatkan pertumpahan darah yang dapat diramalkan siapa pun”, ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Jamal Zahalka, seorang pemimpin politik untuk warga Palestina di Israel, mengatakan kepada MEE bahwa Israel dan AS bertanggung jawab atas aksi kekerasan di Gaza.
“Ini adalah pelanggaran hukum internasional. Trump dan AS bertanggung jawab atas semua darah yang telah ditumpahkan sejak keputusan AS,” kata Zahalka.
“Mereka yang merayakan hari ini [perayaan peresmian kedutaan AS] ada darah di tangan mereka.”
Namun meskipun trauma hari paling mematikan di Gaza sejak perang 2014, Samira Mohsen, seorang pengunjuk rasa berusia 27 tahun di timur Kota Gaza, tetap menentang meskipun korban jatuh sudah besar dari peserta aksi hari itu.
“Suatu hari kami akan merayakan di Baitul Maqdis, kami akan berdoa di sana, tidak ada yang akan melarang kami,” katanya kepada MEE. “Mimpiku adalah melihat Baitul Maqdis. Baitul Maqdis adalah Ibu Kota bagi Palestina, dan Doald Trump dan AS tidak dapat memutuskan untuk memberikan tanah kami kepada Zionis, ” ujarnya.*