Hidayatullah.com—Kelompok Al-Shabab mengatakan pihaknya telah membunuh lima orang pria yang dituduhnya melakukan aksi mata-mata, salah satunya dari Inggris.
Dilansir BBC Rabu (10/10/2018), menurut sebuah website tentang jihad pria tersebut mengakui memberikan informasi ke dinas intelijen Inggris perihal para suporter Al-Shabab yang bermukim di Inggris.
Kelima pria tersebut, berusia antara 22 dan 36 tahun, dieksekusi di depan publik dengan cara ditembak pada hari Selasa di sebuah daerah yang dikuasai kelompok militan itu.
Seorang lainnya disebut-sebut bekerja untuk pemerintah Somalia.
Orang itu diduga telah menempelkan sebuah alat pelacak di salah satu mobil dari konvoi kendaraan Al-Shabab. Alat pelacak itu yang kemudian membantu pesawat-pesawat tanpa awak Amerika Serikat dalam serangan udaranya.
Al-Shabab mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa tiga dari pria yang dieksekusi tersebut adalah mata-mata yang bekerja untuk Amerika Serikat yang membantu mengarahkan drone Paman Sam dalam serangan udara di Somalia.
Pemerintah Inggris, Amerika Serikat dan Somalia belum berkomentar perihal kabar tersebut, lapor BBC..
Identitas tersangka mata-mata Inggris itu belum dikonfirmasi, meskipun sebelumnya disebutkan dia warga negara Inggris.
Ini bukan pertama kalinya Al-Shabab membunuh orang-orang yang ditudingnya sebagai mata-mata.
Pada Desember 2017, Al-Shabab membunuh lima laki-laki –salah satunya remaja belasan tahun– yang dituduhnya melakukan spionase untuk pemerintah Amerika Serikat dan Kenya.*