Hidayatullah.com–Seorang pria Suriah yang dituduh membuat komponen kunci dalam alat peledak rakitan yang digunakan dalam serangan terhadap tentara AS selama Perang Iraq akan dijatuhi hukuman atas tuduhan konspirasi pada hari Rabu.
Ahmed Alahmedalabdaloklah (41) dituduh membuat papan sirkuit yang digunakan untuk meledakkan bom jarak jauh yang dipasang di pinggir jalan untuk pasukan Brigade Revolusi 1920.
Jaksa mengatakan, kelompok itu mengaku bertanggung jawab atas 230 serangan terhadap tentara Amerika di Iraq dari 2005 hingga 2010.
Ia, kini menghadapi hukuman penjara seumur hidup.
Menurut beberapa pejabat, Alahmedalabdaloklah ditangkap di bawah jaminan Interpol di Turki pada tahun 2011, menggunakan nama Al-Ahmad dan ditahan di negara itu sebelum diekstradisi ke Amerika Serikat pada Agustus tahun 2014.
Dugaan awal Alahmedalabdaloklah dituduh merencanakan dan menginstal nirkabel hulu ledak dan papan sirkuit yang digunakan untuk meledakkan bom tanam di pinggir jalan dan serangan terhadap militer Amerika di Iraq.
Menurut tuduhan, dia membangun sistem nirkabel di rumah di Baghdad dengan komponen yang diperolehnya dari tahun 2005 hingga 2010 dari sebuah perusahaan yang tidak dikenali di Arizona.
“Alahmedalabdaloklah mencoba merusak militer Amerika dengan merencanakan konspirasi dengan beberapa orang lain dengan memasang dan memasok bom IED yang digunakan di Iraq. Dia sekarang akan menjalani sisa hidupnya di penjara, ” kata Wakil Jaksa Agung untuk Keamanan Nasional, John C. Demers sebagaimana dikutip Reuters.
Kasus Alahmedalabdaloklah berasal dari serangan satu dasawarsa yang lalu di sebuah apartemen di Baghdad di mana tentara menemukan banyak sekali bahan pembuat bom, meskipun tidak ditemukan bahan peledak.
Jaksa mengatakan sidik jarinya ditemukan pada beberapa barang di apartemen.
Pengacaranya mengatakan Alahmedalabdaloklah tidak memiliki catatan sentimen terhadap Amerika selama 12 tahun email sebagaimana ditinjau pihak penyidik.
Ia mengatakan, kliennya dibawa ke Iraq sebagai pengungsi ketika ia masih kecil, mengoperasikan toko elektronik yang sah di Baghdad dan baru pindah ke China ketika keamanan di negeri Iraq memburuk.
Kliennya kemudian mendirikan bisnis elektronik di China yang menjual produk di Iraq dan tempat lain tetapi tidak pernah mengirim komponen yang digunakan sebagai bahan untuk bom.
Kliennya ditangkap pada Mei bulan 2011 setelah terbang ke Turki dari China. Sempat dipenjarakan selama tiga tahun di Turki sebelum diekstradisi ke Amerika Serikat (AS) pada bulan Agustus 2014.
Brigade Revolusi 1920, kelompok yang dituduh menjual suku cadangnya, aktif melawan pasukan AS di bagian Iraq yang didominasi Sunni sampai pihaknya beralih pada 2007 untuk memerangi Al-Qaeda.
Baca: Setengah Juta Orang Tewas di Iraq Sejak Invasi Amerika
Kelompok ini mendapatkan namanya Revolusi 1920 yang diambil dari mana rakyat Iraq memberontak melawan penjajahan Inggris.
Pengadilan dilakukan di Phoenix karena pihak berwenang mengatakan Alahmedalabdaloklah mendapat komponen untuk sistem inisiasi nirkabel yang digunakan dalam IED dari sebuah perusahaan yang berbasis di Arizona.
Sebagaimana diketahui, AS (dan sekutunya Inggris) mengerahkan 230.000 dan 45.000 personil militer ke Iraq tahun 2003 dengan alasan Negeri 1001 Malam itu mempunyai senjata pemusnah (Weapons of Mass Destruction) sampai negeri itu porak-poranda, tuduhan itu tidak pernah terbukti.
Usai perang, Tim Inspeksi PBB yang diketuai Hans Blix menyatakan sama sekali tidak menemukan bukti Iraq memiliki senjata pemusnah masal yang dituduhan George W Bush Tahun 2013, Tim peneliti dari Amerika Serikat, Kanada, dan Iraq memperhitungkan jumlah korban jiwa atas serangan AS dalam periode itu mencapai 461.000 orang dan AS tidak mendapat predikat sebagai penjahat perang.*