Hidayatullah.com–Masjid Delapan Kubah di Kampung Lapan Kotak di Jerteh, Terengganu yang juga mendapat julukan sebagai “Masjid Rusia” karena arsitekturnya seakan-akan St Basil Cathedral di Moskow, Rusia, menarik perhatian publik.
Berdiri megah di area sawah di tengah-tangah desa itu, masjid yang dipicu pembangunannya oleh Anggota Parlemen Besut, Idris Jusoh, sekitar enam tahun lalu kini menjadi antara masjid ikonik yang menjadi tumpuan warga di dalam dan luar negeri.
Wakil Ketua Masjid Delapan Kubah, Wan Ahmad Wan Yaacob, atau lebih dikenal sebagai ‘Bilal Edi’, mengatakan keunikan arsitektur masjid itu dengan kombinasi warna kubah yang berwarna-warni membuat masjid itu yang mulai digunakan sejak tahun lalu tidak putus-putus dikunjungi.
“Ada yang sanggup datang dari utara tanah air bukan sekedar untuk melihat malahan dengan niat untuk turut shalat di masjid yang menyerupai antara tempat beribadat termasyhur di negara Eropa. Keberadaan masjid ini turut menaikkan nama desa yang kurang dikenal sebelumnya, “kata Wan Ahmad, yang menjadi bilal di masjid desa itu sejak 30 tahun lalu, kepada kantor berita Bernama.
Masjid yang dibangun dengan biaya RM4 juta (S $ 1,3 juta) melalui sumbangan masyarakat itu sebenarnya bertujuan menggantikan masjid kayu sebelum ini, yang berusia lebih 100 tahun dan usang.
“Meskipun belum 100 persen siap, ia telah digunakan pertama kali pada solat sunat Idul Fitri tahun lalu karena di desa ini tidak ada masjid yang bisa menampung jamaah yang banyak pada satu waktu.
“Kini hanya lima persen saja lagi bagian masjid tersebut yang belum siap sepenuhnya yaitu di bagian kolah tempat berwudhu dan sebagian atap di bagian depan saja yang mana kita membutuhkan sekitar RM50,000 untuk menyempurnakannya,” katanya.
Baca: Kisah di Balik Komplek 7 Masjid Langganan Haji di Madinah
Desain Klasik dan Kontemporer
Dibangun sepenuhnya menggunakan 100 persen tenaga kerja dan arsitek lokal, masjid yang dibangun di atas tanah bekas tapak sawah seluas 0,6 hektar itu bisa menampung 500 jamaah pada suatu waktu.
“Sebelum ini ketika tiba Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha), kami khawatir ketika melihat anak-anak desa terutama yang merantau pulang ke kampung merasa kecewa ketika tidak melaksanakan shalat hari raya di masjid karena masjid lama tidak mampu menampung jumlah jamaah yang banyak,” katanya.
Mengomentari penerimaan penduduk lokal tentang desain masjid itu, Wan Ahmad mengatakan dia bersyukur karena mendapat reaksi positif dari kalangan jemaah, terutama generasi muda yang menggambarkannya sebagai jalinan antara desain klasik dan kontemporer sekaligus menarik lebih banyak golongan itu untuk beribadah di masjid unik tersebut.
“Karena masjid ini kini menjadi antara keunggulan desa ini, manajemen masjid turut berencana membuat satu sudut khusus untuk menempatkan info dan bahan yang memiliki sejarah awal masjid lama sehingga terbinanya masjid baru ini.
“Ada beduk yang digunakan untuk memanggil orang kampung setiap kali waktu shalat yang berusia lebih 50 tahun yang akan turut dipamerkan di sudut itu kelak,” katanya.
Sementara itu, seorang pengunjung, E’ani Basirah Ahmad, dari Perak mengatakan ia gembira ketika kali pertama melihat kecantikan masjid tersebut.
“Seringkali masjid yang dibangun akan menggunakan arsitektur modern tetapi masjid delapan kubah ini menggunakan arsitektur Rusia.
“Ini sangat menarik dan pengunjung yang sebelumnya tidak berpeluang untuk melihat masjid seperti ini yang dibangun beribu batu di Eropa akhirnya dapat melihatnya di negeri Terengganu,” katanya.*