Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Ingin Hilangkan Kaitan Kolonialisme, Dutrete Ingin Ubah Filipina jadi Maharlika

Ahmad
Terakhir diupdate: 16 Februari 2019 05:36 5:36 am
Ahmad
Dipublikasikan 16 Februari 2019 05:36
Bagikan
Rodrigo Duterte
Bagikan

Hidayatullah.com–Presiden Filipina Rodrigo Duterte hari Senin, (11/2), kembali mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Setelah sebelumnya mengaku Islam, kini ia mencetuskan gagasan mengubah nama Filipina menjadi Maharlika. Menurutnya, nama Maharlika dinilai lebih cocok untuk identitas Filipina yang berada di kawasan Malay atau Melayu.

Ihwal pergantian nama negara Filipina menjadi ‘Maharlika’ karena ini bertujuan untuk menghilangkan keterkaitan kolonialisme pada nama negara Filipina.

“Kata Filipina ditemukan oleh penjelajah asal Portugal bernama Ferdinand Magellan yang menggunakan mata uang Spanyol bergambar Raja Philip. Tidak apa-apa, mari kita ubah menjadi Maharlika,” kata Duterte dalam sebuah pidatonya saat menyerahkan sejumlah sertifikat tanah di Maguindanao, Filipina.

Dikutip SunStar Manila, Kamis (14/2/2019), Duterte menyerukan kembali seruan yang pernah dilontarkan mendiang diktator Ferdinand Marcos untuk mengubah nama Filipina menjadi ‘Maharlika’. Dalam bahasa lokal, ‘Maharlika’ disebut berarti ‘bangsawan’.

Baca:  Duterte Minta Kongres Sahkan Perpanjangan Darurat Militer di Mindanao

Sebagaimana diketahui, Filipina dijajah oleh Spanyol selama lebih dari 300 tahun. Nama negara Filipina berasal dari nama Raja Spanyol Philip II yang berkuasa antara tahun 1556 hingga 1598 silam.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Ketika Filipina diperintah oleh diktator Ferdinand Marcos (1965 – 1986), pemerintahan Marcos memang pernah mengusulkan penggantian nama Filipina menjadi Maharlika. Usulan tersebut bahkan sudah masuk RUU Parlemen 1978 yang draft-nya disusun oleh mantan senator Eddie Ilarde kala itu. Dalam draf usulan, dijelaskan bahwa Maharlika adalah “warisan kuno” orang Filipina, jauh sebelum kedatangan penjajah Barat. “Maha” adalah bahasa Sanskerta untuk bangsawan atau yang “agung” sementara “likha” berarti menciptakan. Dengan demikian, Maharlika berarti “diciptakan dengan mulia”. Namun, penggantian nama tidak pernah terealisasi karena setelahnya Marcos kehilangan kepercayaan publik akibat kepemimpinan diktator yang korup.

Menurut tim penyidik Amerika Serikat, mantan diktator Filipina, Ferdinand Marcos, juga pernah menggunakan kata Maharlika saat perang dunia II untuk memalsukan catatan militer negaranya. Marcos bahkan mengklaim telah memerintahkan sekelompok gerilyawan yang dikenal Unit Maharlika, tetapi New York Times dalam pemberitaannya menyebut pada 1945 dan 1948 sejumlah perwira Angkatan Darat Filipina menolak permintaan Marcos untuk pengakuan resmi unit tersebut dan menyebut klaim Marcos terdistorsi, dibesar-besarkan, curang, kontradiktif, dan absurd. Tim penyidik di militer Filipina akhirnya menyimpulkan Unit Maharlika adalah fiktif.

Namun rencana mengganti nama Filipina menjadi Maharlika tampaknya masih perlu kesabaran dan pengujian.

Baca: Duterte Setujui ‘UU Otonomi Bangsamoro’, Mewadahi Minoritas Islam

Menurut juru bicara Duterte, Salvador Panelo, rencana penggantian nama itu belum mencapai tahap formal. Menurut Panelo, ucapan Duterte itu sekedar mengekspresikan ide yang pernah muncul dan menyukai nama Maharlika. Panelo menjelaskan, karena penggantian nama negara bila direalisasikan turut mengubah penulisan pada konstitusi, maka penggantian membutuhkan persetujuan publik dengan cara menggelar referendum.

Mengganti nama negara memang bukanlah hal baru. Dari total 195 negara di dunia saat ini, banyak di antaranya yang mengganti nama, terjadi sesaat saat berakhirnya masa kolonialisme, maupun ketika setelah kemerdekaan terjadi. Beberapa lainnya mengganti karena alasan kebudayaan dan untuk lebih dikenal.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte dikenal dengan lontaran-lontaran pernyataan yang mengejutkan. Sebelum ini ia mengaku sebagai pemeluk Islam saat pidato untuk pengesahan Undang-Undang Organik Bangsamoro (BOL) dan menyerang anggota klerus Katolik.

Berbicara di depan banyak orang yang didominasi Muslim dalam pertemuan perdamaian untuk ratifikasi BOL di Kota Cotabato pada 18 Januari 2019, Duterte menegaskan kembali bahwa dia bukan Katolik.

“Ada bagian dari diri saya yang sebenarnya adalah Islam. Itu sebabnya jika saya dan para pendeta gila itu bertengkar, saya bukan Katolik. Saya Islam. Itu benar,” kata Duterte dalam pidatonya, yang dikutip Manila Times, Kamis (24/1/2019).*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:filipinaMaharlikamelayuPresiden FilipinaRodrigo Duterte
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Al-Sisi Dietapkan Menjadi Presiden Mesir Hingga 2034
Tulisan selanjutnya Putra Mahkota Saudi akan Bertemu Jokowi di Jakarta

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Palestina Terkini

Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis

Palestina Terkini
13 Juli 2026 05:55
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?