Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kementerian Jepang Akui Pegawainya Bunuh Diri karena Kebanyakan Lembur

Ama Farah
Terakhir diupdate: 27 Desember 2019 20:52 8:52 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 27 Desember 2019 20:52
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi pada hari Selasa (24/12/2019) mengakui bahwa dalam sebuah kasus kompensasi pegawai depresi menjadi penyebab seorang birokrat kementerian melakukan bunuh diri pada tahun 2014. Depresi itu disebabkan oleh kebanyakan bekerja lembur.

Pria itu, yang mulai bekerja di kementerian tersebut pada 2008, bekerja lembur 168 jam pada bulan Maret 2011 dan 178 jam pada bulan berikutnya, guna menanggulangi masalah yang timbul akibat gempa dan tsunami besar di bagian timur Jepang.

Pada bulan November 2013, dia bekerja lembur 135 jam dan pada bulan itu pula dia menunjukkan tanda-tanda depresi. Pria itu bunuh diri akhir Maret tahun selanjutnya, di usia 31 tahun.

Dalam konferensi pers hari Rabu (25/12/2019) Hiroshi Kawahito, pengacara yang mewakili keluarga pria itu, mengatakan di antara barang-barang miliknya ditemukan selembar kertas berisi lirik lagu yang dinyanyikan saat dia baru masuk bekerja.

Kawahito mengatakan para birokrat senior menyanyikan sebuah lagu dalam pesta penyambutannya. Lirik lagu tersebut berbunyi: “Berhasil, berhasil (Saya berhasil diterima bekerja). Saya menanti-nanti pertanyaan dari anggota dewan legislatif. Berhasil, berhasil. Sudah pasti (akan) bekerja lembur,” dan “tidur dua jam.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Kawahito berkata, “Pria itu diterima bekerja di kementerian dan diharapkan bekerja lembur sangat banyak sejak dia dijanjikan pekerjaan.”

Keluarganya yang berkabung tidak mendapatkan penjelasan apapun dari kementerian selama lima tahun. Mereka mengajukan kompensasi pekerja atas kematian pria itu pada bulan Oktober.

Dalam wawancara dengan Asahi Shimbun, seorang pajabat kementerian mengatakan bahwa setelah pria itu wafat, kantornya melakukan penyelidikan, tetapi belum dapat menyiapkan detil penjelasan yang akurat dan belum memutuskan apakah kompensasi akan diberikan atau tidak.

“Prosedurnya ditunda, dan kami minta maaf karenanya,” imbuh pejabat itu.

Ibu pria itu berkata, “Kementerian dapat mencari orang pengganti (anak saya) untuk bekerja, tetapi keluarga saya tidak dapat mencari pengganti putra saya.”

Di Jepang dikenal istilah karoshi, kematian akibat terlalu banyak bekerja. Ironisnya, isitlah yang terdengar indah di telinga itu semakin banyak terjadi di masyarakat Jepang seiring dengan moderinisasi.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Jepangkaroshikerjalemburmati
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya AS Bantah Latihan ‘Decapitation Strike’ untuk Tumbangkan Rezim Korut
Tulisan selanjutnya ICMI Ajak Bijak Bermedia Sosial

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?