Hidayatullah.com-Puluhan orang meninggal dunia dalam insiden desak-desakan dalam upacara pemakaman komandan tinggi yang terbunuh dalam serangan oleh Amerika Serikat, menurut sumber resmi, di kota Kerman, Iran lapor Al Jazeera pada 7 Januari 2020.
“Sejauh ini 40 orang meninggal dunia 213 lainnya terluka dalam insiden tersebut,” kantor berita Fars melaporkan pada Selasa, mengutip petugas pelayanan darurat.
Sebelumnya, ketua pelayanan darurat negara itu, Pirhossein Koolivand, mengatakan pada televisi pemerintah itu bahwa “32 warga negara kami kehilangan nyawanya dalam prosesi pemakaman … dan 190 terluka” karena “kepadatan” pelayat.
Korban luka juga telah segera dibawa ke rumah sakit, tambahnya.
Rekaman-rekaman video yang diposting online menunjukkan orang-orang terbaring tak bernyawa di jalan, sementara yang lain berteriak dan berusaha membantu mereka.
Ratusan ribu orang telah berkumpul di kota kecil Kerman untuk pemakaman Qassem Soleimani, kepala Pasukan Quds elit Iran, yang dibunuh pada Jumat di dekat bandara internasional ibukota Iraq, Baghdad.
Pemakaman tersebut akhirnya ditunda, kantor berita ISNA melaporkan, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Berdesak-desakan, puluhan orang meninggal di pemakaman Suleimani
Pemakaman pada Selasa itu dilangsungkan setelah beberapa hari prosesi yang menarik banyak orang di jalan-jalan Ahvaz di Iran barat daya, disusul di Mashhdad, Teheran dan kota Qom.
Koresponden Al Jazeera, Assed Beig, melaporkan dari Teheran, banyak dari orang-orang yang tidak dapat menghadiri proses sebelumnya menghadiri prosesi di Kerman.
“Orang-orang berjalan di ruang-ruang sempit, menuju satu arah ke kuburan itu – dan itu bisa menjadi salah satu penyebab mengapa desak-desakan terjadi,” kata Beig.
Pembunuhan Soleimani memicu eskalasi dramatis ketegangan Timur Tengah dan menandai konfrontasi paling signifikan antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Pasukan Quds yang dipimpin Soleimani merupakan kelompok bersenjata Syiah yang ikut mendukung pemerintah rezim Bashar al-Assad yang telah membunuh puluhan ribu warga sipil Suriah sejak perang sipil pecah.*