Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pemerintah Afghanistan dan Taliban Umumkan Kesepakatan Terobosan dalam Pembicaraan Damai

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 3 Desember 2020 14:56 2:56 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 3 Desember 2020 14:56
Bagikan
[Ilustrasi] Pertemuan Taliban Afghanistan
Bagikan

Hidayatullah.com–Perwakilan pemerintah Afghanistan dan Taliban mengatakan mereka telah mencapai kesepakatan awal untuk melanjutkan pembicaraan damai. Hal itu merupakan kesepakatan tertulis pertama mereka dalam 19 tahun perang, lapor Al Jazeera.

Kesepakatan pada hari Rabu (02/12/2020) menjabarkan jalan ke depan untuk diskusi lebih lanjut tetapi dianggap sebagai terobosan karena akan memungkinkan negosiator untuk beralih ke masalah yang lebih substantif, termasuk pembicaraan tentang gencatan senjata.

“Prosedur termasuk pembukaan negosiasi telah diselesaikan dan mulai sekarang, negosiasi akan dimulai dalam agenda,” kata Nader Nadery, anggota tim negosiasi pemerintah Afghanistan, kepada Reuters.

Juru bicara Taliban mengkonfirmasi hal yang sama di Twitter.  “Sebuah komite kerja bersama ditugaskan untuk menyiapkan rancangan topik untuk agenda (pembicaraan damai),” kata pernyataan bersama dari kedua belah pihak.

Juru bicara Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, Sediq Sediqqi, mengatakan di Twitter, mengutip pemimpin Afghanistan: “(Perjanjian) adalah langkah maju untuk memulai negosiasi tentang masalah utama, termasuk gencatan senjata komprehensif sebagai tuntutan utama rakyat Afghanistan.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengucapkan selamat kepada kedua belah pihak atas “ketekunan dan kemauan untuk menemukan kesamaan”, dan menambahkan bahwa Amerika Serikat akan “bekerja keras dengan semua pihak dalam mengejar pengurangan kekerasan dan gencatan senjata yang serius”.  Perwakilan Khusus AS untuk Rekonsiliasi Afghanistan Zalmay Khalilzad mengatakan bahwa kedua belah pihak telah menyetujui “perjanjian tiga halaman yang mengatur aturan dan prosedur untuk negosiasi mereka pada peta jalan politik dan gencatan senjata yang komprehensif”.

‘Papan Loncatan Menuju Perdamaian’

Kesepakatan itu muncul setelah diskusi berbulan-bulan di Doha, ibu kota Qatar, dalam negosiasi yang didorong oleh Amerika Serikat. Di Afghanistan, kedua belah pihak masih berperang, dengan serangan Taliban terhadap pasukan pemerintah terus berlanjut.

Taliban telah menolak untuk menyetujui gencatan senjata selama tahap awal pembicaraan. Menurut kelompok ini, meskipun ada panggilan dari ibu kota Barat dan badan-badan global, yang mengatakan bahwa itu hanya akan diambil jika jalan ke depan untuk pembicaraan telah disepakati.

Utusan PBB untuk Afghanistan Deborah Lyons menyambut baik “perkembangan positif” di Twitter, menambahkan bahwa “terobosan ini harus menjadi batu loncatan untuk mencapai perdamaian yang diinginkan oleh semua rakyat Afghanistan”.

Bulan lalu, kesepakatan yang dicapai antara Taliban dan negosiator pemerintah ditahan pada menit terakhir setelah Taliban menolak pembukaan dokumen tersebut karena menyebutkan nama pemerintah Afghanistan.  Taliban menolak menyebut tim negosiasi Afghanistan sebagai perwakilan dari pemerintah Afghanistan, karena mereka menentang keabsahan pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Ashraf Ghani.

Seorang diplomat Uni Eropa yang mengetahui proses tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa kedua belah pihak telah menyimpan beberapa masalah yang diperdebatkan untuk ditangani secara terpisah. “Kedua belah pihak juga tahu bahwa kekuatan Barat kehilangan kesabaran dan bantuan telah bersyarat … sehingga kedua belah pihak tahu mereka harus bergerak maju untuk menunjukkan beberapa kemajuan,” kata diplomat itu, yang tidak mau disebutkan namanya.

Dalam sebuah pernyataan pada Rabu, kementerian luar negeri Pakistan menyambut baik perjanjian tersebut dan mengatakan itu adalah “langkah maju yang signifikan lainnya”.  “Perjanjian tersebut mencerminkan kesepakatan bersama dari para pihak untuk mengamankan penyelesaian yang dinegosiasikan. Ini adalah perkembangan penting yang berkontribusi terhadap hasil yang sukses dari negosiasi intra-Afghanistan, yang kita semua harapkan,” katanya.

Taliban –yang sebelumnya berkuasa dengan menerapkan hokum Islam– digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2001 oleh pasukan pimpinan AS. Pemerintah yang didukung AS telah memegang kekuasaan di Afghanistan sejak itu, meskipun Taliban memiliki kendali atas wilayah yang luas di negara itu.

Berdasarkan kesepakatan Februari, pasukan asing akan meninggalkan Afghanistan pada Mei 2021 dengan imbalan jaminan keamanan dari Taliban. Presiden AS Donald Trump telah berupaya untuk mempercepat penarikan, meskipun ada kritik, mengatakan dia ingin melihat semua tentara Amerika pulang sebelum Natal untuk mengakhiri perang terpanjang di AS.

Pemerintahan Trump sejak itu mengumumkan bahwa akan ada penarikan tajam pada Januari, tetapi setidaknya 2.500 tentara akan tetap berada di luar itu.  Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas pada hari Selasa memperingatkan NATO agar tidak menarik pasukan sebelum waktunya dan mengatakan mereka harus “memastikan bahwa kami mengikat pengurangan pasukan lebih lanjut di Afghanistan dengan kondisi yang jelas”.

Afghanistan mengalami krisis berkepanjangan setelah Presiden AS era George W. Bush memberlakukan Operasi Kebebasan Abadi (Operation Enduring Freedom). Sebanyak 130 ribu tentara sekutu di bawah pimpinan AS hadir di Afghan sejak tahun 2001, dengan tuduhan negara ini melindungi Osama bin Laden,  aktor yang oleh Bush disebut aktor utama penyerangan 11 September 2001.

Hari ini kehadiran tentara AS telah mencapai 19 tahun. Dan kehidupan rakyat Afghanistan tidak menjadi lebih baik.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Afghanistanpembicaraan damaiTaliban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Doa Berlindungan dari Fitnah Kaya dan Miskin
Tulisan selanjutnya Daging Ayam Buatan Laboratorium Boleh Dijual di Singapura

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?