Hidayatullah.com—Pemimpin tertinggi Al Ikhwan Al Muslimun (IM) Mahmoud Ezzat dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah pengadilan Mesir menyatakan dia bersalah karena “berkolaborasi dengan Hamas,” menurut sumber pengadilan Ahad. Awal tahun ini Ezzat diberikan hukuman seumur hidup terpisah atas tuduhan terorisme dalam kasus lain.
Banyak pemimpin senior IM, termasuk mendiang presiden Mohamad Morsi, memiliki tuduhan spionase yang sama untuk agen asing yang ditujukan kepada mereka dalam beberapa tahun terakhir, sebuah tudah yang banyak dibuat-buat, menurut aktivis HAM.
Putusan hari Ahad yang dijatuhkan oleh pengadilan pidana Kairo dapat diajukan banding, sumber tersebut dikutip Daily Sabah.
Mesir telah melunakkan sikapnya terhadap Hamas setelah menuduhnya selama bertahun-tahun menyelundupkan senjata dan pejuang pemberontak melintasi perbatasan Rafah ke Sinai Utara yang bergolak di Mesir. Pada bulan Mei, Mesir merundingkan gencatan senjata antara Hamas dan ‘Israel’ setelah 11 hari pertempuran sengit yang menghantam daerah kantong Palestina yang berpenduduk padat dan juga sangat aktif dalam rekonstruksinya.
Ezzat ditangkap pada Agustus 2020 di Kairo, setelah buron selama beberapa tahun. Pada April 2021, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas tuduhan terorisme dalam kasus terpisah .
Pada 2015, Ezzat dijatuhi hukuman mati secara in absentia, serta diberikan hukuman penjara seumur hidup, setelah dinyatakan bersalah mengawasi pembunuhan tentara dan pejabat pemerintah. Dia dituduh terlibat dalam pembunuhan jaksa negara Hisham Barakat, yang meninggal di rumah sakit setelah sebuah bom mobil menghancurkan konvoinya di Kairo pada 2015.
Ikhwanul Muslimin masuk daftar hitam di Mesir pada tahun 2013 dan dianggap sebagai “kelompok teroris”, beberapa bulan setelah militer yang didukung penjajah ‘Israel’ menggulingkan Mohamad Morsi yang berasal dari gerakan tersebut.
Ezzat dilaporkan telah bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada 1960-an dan menghabiskan waktu di penjara di bawah mendiang presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Anwar Sadat dan Hosni Mubarak.
Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sissi adalah menteri pertahanan ketika Morsi digulingkan dari kekuasaan.
Pada buan April 2019 lalu, Jenderal militer Tel Aviv, Aryeh Eldad secara mengejutkan mengatakan, ‘Israel’ dalang di balik kudeta terhadap Mohammad Morsi tahun 2013 melalui militer Mesir. Hal ini diungkap Aryeh Eldad, dalam sebuah artikel di surat kabar ‘Israel’, Maariv terkait kudeta militer itu.
“Pecahnya revolusi Januari bertepatan dengan penilaian keamanan Israel bahwa Presiden terpilih Mohammad Morsi, seorang pria Ikhwanul Muslim, bermaksud untuk membatalkan perjanjian damai dengan Israel dan mengirim lebih banyak pasukan militer Mesir ke Semenanjung Sinai,” tulis Eldad.
Didirikan pada tahun 1928, Ikhwanul kemudian memantapkan dirinya sebagai gerakan oposisi Islam utama di Mesir, dan menyebar secara regional dengan cabang-cabang yang bersemangat dari Tunisia hingga Turki.
Lawrence Rubin, pakar Strategi Timur Tengah dan Negara Teluk dalam artikelnya di The Washinton Post mengatakan, banyak publik Arab menganggap Hamas sebagai mercusuar perlawanan tidak hanya terhadap Israel, tetapi juga berpotensi menjadi tantangan terhadap kebijakan penguasa otoriter Negara Arab. Hal ini membuat mereka mengeluarkan kebijakan dan tekanan pada Ikhwanul Muslimin, kelompok yang pernah bekerjasama dengan Hamas.
Di antaranya dimana Arab Saudi dan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk memboikot dan memblokade pada Qatar yang dianggap mendukung Ikhwanul Muslimin, demikian ujar asisten profesor di Sam Nunn School of International Affairs di Georgia Institute of Technology ini.*