Hidayatullah.com–Dalam dua minggu terakhir, banjir di Australia bagian timur telah menewaskan sedikitnya 21 orang. Ribuan rumah tidak dapat dihuni akibat salah satu bencana alam terburuk di Australia itu.
Mengarungi air banjir berlumpur setinggi pinggang untuk menyelamatkan diri dari apartemennya, Sophia Walter mengatakan bahwa emosi pertamanya bukanlah rasa takut, melainkan kemarahan.
“Yang saya rasakan adalah kemarahan yang nyata. Marah karena hal ini terjadi lagi,” ujarnya seperti dilansir BBC Sabtu (12/3/2022).
Pada January 2011, Walter menyaksikan bukit tempatnya tinggal “berubah menjadi sebuah pulau” ketika Brisbane mengalami banjir yang digambarkan sebagai kejadian sekali dalam seabad.
“Saya ingat ketika itu saya merenung, setidaknya saya sudah melewatinya.”
Namun, kurang dari sepuluh tahun kemudian, dia sekarang berdiri di antara tumpukan furnitur, peralatan elektronik rusak, dan mainan basah kuyup, yang semuanya teronggok di jalan setapak.
“Bom hujan” membuat sungai dan anak sungai di kota itu meluap dan menyebabkan kerusakan bernilai miliaran dolar. Sedikitnya lima orang di Brisbane tewas.
Banyak ilmuwan sepakat dalam pandangan mereka bahwa pemanasan global membuat banjir parah lebih mungkin terjadi di Australia utara.
Air laut yang semakin menghangat membuat uap air yang naik ke atmosfer semakin banyak, kata lembaga ilmu pengetahuan milik pemerintah Australia CSIRO. Hal itu “kemungkinan besar meningkatkan intensitas kejadian curah hujan ekstrem”.
Brisbane mendapatkan 80% curah hujan tahunan rata-rata hanya dalam tiga hari, dengan lebih banyak air jatuh di kota itu daripada air hujan yang biasanya jatuh di London selama setahun.
Sydney mencatat awal tahun yang paling basah.
Di Queensland dan New South Wales (NSW), banjir bahkan lebih parah lagi. Di sebelah utara Brisbane, sungai-sungai yang meluap merendam daerah sekitar Gympie.
Di Lismore bagian utara New South Wales – di mana sebagian warga bergegas ke atap rumah dan menunggu selama 24 jam atau lebih untuk diselamatkan – pembangunan kembali bangunan dan fasilitas yang rusak akan memakan waktu bertahun-tahun.
“Australia semakin sulit untuk ditempati untuk hidup karena bencana-bencana alam ini,” kata Perdana Menteri Scott Morrison dalam kunjungan ke kota pada hari Rabu.
“Tidak mungkin orang bisa mengabaikannya lagi,” kata Guy Mansfield, seorang videografer yang bergegas pada tengah malam menyelamatkan peralatan dan hard drive sebelum banjir melanda kantor bawah tanahnya.
Foto-foto berharga dan memorabilia musik lenyap. Setumpuk furnitur dan buku yang hancur menumpuk di bagian luar rumahnya di Brisbane yang baru dia beli lima tahun lalu.
“Tampaknya cerdik pindah ke daerah banjir setelah sebelumnya terjadi banjir, karena harganya sedikit lebih murah dan kami hanya mampu membeli rumah di sini,” katanya.
“Kami berpikir mungkin banjir baru akan terjadi lagi dalam 30 tahun atau sekitar itu, dan kami benar-benar akan terhindar dari banjir. Tapi ya, ini dia. Kami tidak bisa mempercayainya.”
Walter – aktivis peduli iklim – mengarahkan kegeramannya kepada pemerintah Australia yang dianggapnya terlalu lamban dalam memangkas emisi karbon dan investasi dalam energi terbarukan.
“Saya ingin melihat kebijakan yang lebih ambisius, saya ingin kita berhenti memberikan subsidi terhadap bahan bakar fosil..,” ujarnya.
Laporan yang dipublikasikan pada pertemuan tingkat tinggi COP26 tahun lalu menunjukkan Australia berada di peringkat terakhir dari 60 negara untuk kebijakan penanggulangan krisis iklim, terutama karena negara itu masih sangat bergantung ada energi batubara dan ekspor batubara.
“Kami semua frustrasi dan kami hanya perlu menyampaikan pesan bahwa kita tidak bisa menunda lagi,” kata Prof Lesley Hughes, seorang ilmuwan iklim dan wakil rektor di Macquarie University.
“Ini adalah ancaman eksistensial paling penting bagi umat manusia yang pernah ada. Memang ada banyak hal yang menyedot perhatian kita, seperti krisis di Ukraina, dan tragedi-tragedi lain yang mengejutkan. Namun, dalam jangka panjang, [masalah yang perlu mendapatkan perhatian] adalah perubahan iklim,” kata Prof Hughes.