Hidayatullah.com—Paus Fransiskus pada hari Senin mengeluarkan permintaan maaf yang telah lama ditunggu-tunggu kepada masyarakat adat atas kerusakan yang dilakukan Gereja Katolik terhadap mereka di sekolah-sekolah perumahan Kanada. Permintaan maaf Paus ini dianggap telah membuat sejarah atas pelecehan Katolik kepada masyarakat Kanada.
“Saya meminta (untuk) pengampunan,” kata paus. “Saya sangat menyesal,” katanya dikutip Anadolu Agency.
Paus diapit oleh kepala suku yang mewakili ketiga kelompok Pribumi – Metis, Inuit dan First Nations – saat pemimpin Gereja Katolik ini menyampaikan permintaan maaf di bekas sekolah perumahan Ermineskin di Maskwacis di Alberta, Kanada. Fransiskus sedang melakukan “ziarah tobat” selama enam hari untuk mengungkapkan kesedihannya atas pelecehan yang dilakukan oleh para imam dan suster terhadap tiga suku Pribumi di negara itu.
Hari Senin 25 Juli, pemberhentian pertama Paus adalah di kota Maskwacis, rumah bagi salah satu sekolah perumahan terbesar di negara itu. Paus berbicara kepada sekitar 15.000 orang, termasuk mantan siswa dari seluruh Kanada.
Kepada para korban di Maskwacis Senin, Paus Fransiskus mengungkapkan “kesedihannya” dan memohon para korban untuk mempraktikkan pengampunan, penyembuhan, dan rekonsiliasi terhadap Gereja Katolik atas peran yang dimainkannya dalam program sekolah bagi suku asli di Kanada.
Paus berbicara tentang “kemarahan” dan “rasa malu” yang dia rasakan atas ingatan tentang perlakuan buruk terhadap anak-anak Pribumi Kanada. Paus meminta pengampunan atas cara-cara di mana banyak anggota Gereja dan komunitas religius bekerja sama, melalui ketidakpedulian mereka, dalam proyek penghancuran budaya dan asimilasi paksa.
Sekitar 150.000 anak-anak Pribumi dipaksa bersekolah, kadang-kadang membuat keluarga tercerai-berai. Tujuan Sekolah Perumahan India Kanada adalah untuk menghapus budaya Pribumi dan menggantinya dengan budaya “putih”. Yang pertama dari 139 sekolah dibuka pada tahun 1820-an dan yang terakhir ditutup pada 1990-an.
Penyelidikan tahun 2019 menyebut apa yang terjadi di sekolah-sekolah itu disebut “genosida,” sebagaimana diakui oleh Perdana Menteri Justin Trudeau tahun lalu, dengan 4.300-6.000 anak meninggal karena penyakit dan pelecehan seksual, fisik, dan psikologis.
Paus sebelumnya meminta maaf di Vatikan atas kerusakan mengerikan yang dilakukan oleh para imam dan biarawati, karena gereja mengelola sekitar 60% sekolah. Tetapi Trudeau dan banyak anggota Pribumi, penyintas, dan keluarga mereka meminta paus menyampaikan permintaan maaf di tanah Kanada, tempat kekejaman itu terjadi.
Paus Fransiskus tiba pada hari Minggu untuk kunjungan enam hari untuk melakukan hal itu. “Saudara dan saudari Kanada yang terkasih,” ciutan Paus sebelum keberangkatannya dari Roma pada hari Ahad.
“Saya datang di antara Anda untuk bertemu dengan masyarakat adat. Saya berharap, dengan rahmat Tuhan, bahwa ziarah tobat saya dapat berkontribusi pada perjalanan rekonsiliasi yang telah dilakukan. Tolong temani aku dengan doa.”
Agenda paus penuh selama kunjungan enam harinya, termasuk pemberhentian di Edmonton, Alberta, Quebec, dan negara Inuit di ujung utara Kanada sebelum kembali ke Roma.*