Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kroasia Klaim Pakai Kekerasan Hanya Sedikit untuk Hadapi Pengungsi

Ama Farah
Terakhir diupdate: 15 Juli 2019 08:57 8:57 am
Ama Farah
Dipublikasikan 15 Juli 2019 08:52
Bagikan
Pengungsi anak di Valika Kladusa, Bosnia, meminta agar perbatasan dengan Kroasia dibuka.
Bagikan

Hidayatullah.com—Kroasia bersikukuh membantah mendeportasi pengungsi dan migran ilegal ke negara tetangga Bosnia-Herzegovina. Namun, dalam wawancara baru-baru ini, Presiden Kroasia mengakui petugas penjaga perbatasan memaksa para migran mundur ke Bosnia.

Tahun belakangan, banyak pengungsi yang berusaha menyeberang ke Uni Eropa melalui perlintasan perbatasan tidak resmi antara Kroasia dan Bosnia-Herzegovina melaporkan perlakuan brutal petugas penjaga perbatasan Kroasia. Laporan-laporan media bahkan menunjukkan para pengungsi –termasuk anak-anak– mengalami luka yang mereka katakan akibat tindakan keras polisi Kroasia.

Kebanyakan media Kroasia mengabaikan laporan-laporan kekerasan semacam itu, yang terjadi kurang dari 150 kilometer dari ibukota Zagreb. Tidak hanya itu, Kementerian Dalam Negeri juga membantah laporan tentang perlakuan buruk terhadap pengungsi di perbatasan, membantah laporan perihal polisi perbatasan melakukan apa yang disebut push-back.

Amnesty International mengkritik sikap diam para pejabat Uni Eropa. “Dengan memprioritaskan kontrol perbatasan dibanding hukum internasional, pemerintah-pemerintah Eropa tidak hanya menutup mata terhadap serangan brutal oleh polisi Kroasia, tetapi juga mendanai aktivitas-aktivitas mereka,” kata organisasi peduli HAM itu dalam sebuah pernyataan bulan Maret.

Namun, sejak lembaga penyiaran Swiss SRF menunjukkan rekaman deportasi ilegal di perbatasan Kroasia-Bosnia pada bulan Mei, sulit bagi negara pecahan Yugoslavia itu untuk tetap menutupi kekerasan yang dilakukan polisinya terhadap pengungsi dan migran.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Awal bulan ini, Presiden Kroasia Kolinda Grabar-Kitarovic masih saja menganggap enteng tindakan brutal polisi di perbatasan. “Ketika seseorang melakoni perjalanan yang sulit ini, wajar saja dia mengalami lebam, tergores dan terluka,” kata wanita presiden itu kepada para jurnalis lokal saat mengunjungi perbatasan. “Lain kali kalian mendengar cerita tentang kebrutalan anggota-anggota kepolisian kami, kalian harus berpikir dua kali. Mereka bukannya melakukan kekerasan, saya bisa jamin itu.”

Grabar-Kitarovic bersikukuh mengatakan polisi tidak mendorong balik para pengungsi ke luar perbatasan kembaklai ke Bosnia, dengan dalih meraka yang berusaha masuk Uni Eropa itu bukan pengungsi, melainkan semata migran ekonomi.

Namun beberapa hari lalu ketika berbicara kepada SRF saat berkunjung ke Swiss, presiden Kroasia itu mengkonfirmasi apa yang dibantah oleh Kepolisian Kroasia selama berbulan-bulan, yaitu bahwa polisi Kroasia memang melakukan push-back.

“Saya sudah berbicara dengan menteri dalam negeri, kepala kepolisian dan para petugas di lapangan, dan mereka meyakinkan saya bahwa tidak ada penggunaan kekuatan yang berlebihan,” kata Grabar-Kitarovic, ketika kamera SRF masih aktif. “Tentu saja, sedikit kekuatan diperlukan untuk melakukan push-back.”

Jelena Sesar, seorang peneliti di Amnesty International, mengatakan kepada DW bahwa dia pernyataan presiden itu “sangat mengejutkan.”

“Berdasarkan hukum internasional dan hukum yang berlaku di Uni Eropa, pengusiran kolektif dan push-back adalah selalu ilegal,” ujarnya.

Dengan pernyataan itu, kata Sesar, Presiden Kroasia berusah menyatakan push-back sebagai tindakan legal dan membenarkan penggunaan “sedikit kekerasan.” Amnesty International menyeru agar Komisi Eropa menekan Kroasia agar mengakhiri taktiknya di perbatasan.

Ketika dimintai komentar perihal pernyataan Grabar-Kitarovic tersebut, Komisi Eropa mengatakan tidak ada komentar yang perlu diutarakan, lapor DW hari Ahad (14/7/2019).

“Kroasia … memiliki petugas perbatasan yang terkuat di bagian Eropa ini,” kata Menteri Dalam Negeri Davor Bozinovic dengan bangga saat berkunjung ke Berlin bulan Juni 2018, dengan tujuan mengkampanyekan negaranya agar diterima sebagai anggota Zona Schengen.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bosniaKroasia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Harga Gas Naik Komunis Bangladesh Bentrok dengan Polisi
Tulisan selanjutnya Turki Meluncurkan Operasi Anti-Teror Claw-2 di Iraq

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?