Hidayatullah.com–Setidaknya 400 warga sipil terbunuh dalam dua bulan terakhir setelah pasukan rezim mengintensifkan serangan ke distrik Ghouta Timur.
Setidaknya 400 warga sipil terbunuh dalam dua bulan terakhir setelah pasukan rezim mengintensifkan serangan ke distrik Ghouta Timur yang dikepung dan utara provinsi Idlib.
Ghouta Timur yang merupakan bagian dari zona de-eskalasi di pinggiran kota Damaskus menjadi sasaran serangan intensif rezim Bashar al-Assad sejak 14 November tahun lalu.
Meski berada dalam wilayah gencatan senjata, daerah Duma, Haresta, Hammuria, Marj, Arbin, Saqba, Misraba, Madyara, Zamalka, Cisrin, Ain Tarma dan Beit Sawa di Ghouta Timur dihantam serangan bombardir berat, menurut reporter Anadolu Agency di wilayah tersebut.
Baca: Ratusan Warga Sipil Terkepung di Deir az-Zur, Goutha Timur
Sedikitnya 303 warga sipil, termasuk lima pasukan pertahanan sipil tewas dan lebih dari 1.400 lainnya luka-luka di distrik tersebut sejak 14 November tahun lalu, menurut sumber Pertahanan Sipil (White Helmets).
Sebanyak 161 orang dari mereka terbunuh dalam dua pekan terakhir setelah Rusia kembali mulai memberikan dukungan udara kepada pasukan rezim.
Sejak akhir 2012, distrik tersebut masih berada di bawah kepungan rezim Assad. Ia juga termasuk dalam zona de-eskalasi – yang didukung oleh Turki, Rusia, dan Iran – di mana tindakan agresi dilarang keras.
95 korban tewas di Idlib
Provinsi Idlib di utara Suriah juga termasuk dalam zona de-eskalasi yang ditetapkan oleh Rusia, Turki dan Iran dalam perundingan Astana pada Mei 2017 dengan tujuan untuk mengakhiri kekerasan dan memperbaiki situasi kemanusiaan.
Serangan pasukan rezim yang didukung Rusia membunuh setidaknya 95 warga sipil dan melukai lebih dari 200 lainnya di utara provinsi Idlib dalam tiga pekan terakhir, menurut sumber White Helmets.
Daerah Khan Sheikhoun, Saraqib, Kafr Sajna, Kafranbel, Maarrat al Numan dan al-Tamania menjadi sasaran serangan intensif pasukan rezim.
Baca: Kekejaman Terburuk Rusia dan Rezim Suriah setelah Aleppo
Sementara itu pasukan Assad dilaporkan bergerak maju ke bandara militer Abu al-Duhur setelah menguasai kota Sinjar di selatan Idlib.
Kelompok-kelompok yang didukung Iran dan pasukan anti-rezim juga dilaporkan terlibat bentrok sengit di selatan Idlib.
Perang sipil di Suriah dimulai ketika rezim Bashar al-Assad mulai menindak keras demonstrasi pro-demokrasi.
Ratusan ribu warga sipil menjadi korban konflik itu yang melibatkan pasukan koalisi menyerang oposisi. Jutaan lainnya terpaksa melarikan diri dan mengungsi.
Iran telah mendukung rezim keji Bashar al Assad selama perang sementara Rusia melakukan intervensi pada September 2015.
Perundingan damai dengan tujuan menemukan solusi politik untuk konflik tersebut diluncurkan di Jenewa pada tahun 2012 yang sementara perundingan Astana yang membahas gencatan senjata dimulai pada tahun 2017.*