Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Universitas Haji: Dari Ibadah ke Revolusi Intelektual

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Juni 2025 20:48 8:48 pm
Ahmad
Dipublikasikan 9 Juni 2025 20:41
Bagikan
Perjalanan Haji tahun 1900 - 1920 melalui kapal (Foto:Koleksi Foto G. Eric dan Edith Matson)
Bagikan

Banyak jamaah haji kembali dengan semangat antikolonial, membawa cetak biru perlawanan, memulai gerakan pendidikan dan menyasar akar kebodohan umat

Hidayatullah.com | SETIAP tanggal 10 Zulhijjah, gema takbir menggema di penjuru Nusantara. Umat Islam berkumpul di lapangan, menunaikan salat Iedul Adha, lalu menyembelih hewan qurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Namun, di balik ritual ini tersimpan sejarah panjang dan lapisan makna yang lebih dalam. Jejaknya menembus ruang spiritual, sosial, hingga politik.

Dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail, umat Islam memetik pelajaran tentang ketundukan total kepada Sang Pencipta. Tapi di bumi Indonesia, Iedul Adha dan ibadah haji yang menyertainya juga menjadi jalan menuju kesadaran kolektif dan perubahan zaman.

Sejak abad ke-17 dan memuncak pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, umat Islam dari Hindia Belanda telah menunaikan ibadah haji dalam jumlah yang signifikan.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Perjalanan ke tanah suci kala itu bukan perkara mudah—berbulan-bulan menempuh samudra dengan kapal layar, menghadapi risiko penyakit dan kematian.

Namun, bagi mereka, haji bukan sekadar ritual rukun kelima. Ia adalah perjalanan menimba ilmu, membuka cakrawala pemikiran, dan menyerap energi keislaman dari seluruh dunia. Mekkah dan Madinah menjadi ruang pertemuan antarmazhab, ideologi, dan strategi perjuangan.

Di sana, para haji dari Nusantara belajar langsung dari ulama-ulama besar dan bersentuhan dengan gerakan pembaruan seperti Salafi, Wahabiyah, dan Pan-Islamisme.

Haji menjadi “universitas terbuka” umat Islam global—pusat pendidikan lintas batas yang membentuk generasi pemimpin dan pembaru.

Pemerintah kolonial Belanda menyadari potensi transformatif ini. Mereka mencurigai para haji sebagai agen perubahan yang bisa mengguncang status quo kolonial.

Dalam banyak catatan intelijen, istilah “Haji Radikal” digunakan untuk menggambarkan tokoh-tokoh yang sekembalinya dari Mekkah justru menjadi lebih kritis, berani, dan aktif dalam perlawanan sosial maupun politik.

Pemerintah Belanda bahkan membentuk badan khusus untuk mengawasi para haji dan memperketat aturan keberangkatan ke tanah suci.

Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan: banyak dari para haji ini kembali dengan semangat antikolonial, membawa cetak biru perlawanan, dan memulai gerakan pendidikan yang menyasar akar kebodohan umat.

Salah satu tokoh yang lahir dari universitas haji ini adalah Syaikh Ahmad Surkati, seorang ulama besar asal Sudan yang belajar di Mekkah dan kemudian menetap di Hindia Belanda.

Di tanah jajahan ini, Surkati menjelma menjadi salah satu penggerak revolusi intelektual umat. Ia menolak struktur sosial berbasis kasta yang saat itu bahkan dipraktikkan di kalangan keturunan Arab sendiri.

Lewat Al-Irsyad Al-Islamiyyah, yang didirikannya pada 1914 di Batavia, ia menyerukan kesetaraan, menentang taqlid, dan mengusung rasionalitas dalam pendidikan Islam. Surkati tidak hanya mengajarkan tafsir dan fikih, tetapi juga membentuk cara berpikir umat: bahwa kemerdekaan tidak bisa dicapai oleh jiwa yang terjajah, dan bahwa Islam harus menjadi kekuatan pembebas, bukan alat pelanggeng ketimpangan.

Surkati berdiri sejajar dengan KH Ahmad Dahlan dan Haji Zamzam dalam arus besar pembaruan Islam di Indonesia. Trio ini dikenal sebagai para mujadid yang mendobrak kebekuan pemikiran, mendirikan institusi pendidikan modern, dan menata kembali pelaksanaan ibadah agar lebih terstruktur dan bermanfaat bagi masyarakat.

Salah satu contohnya adalah reformasi dalam pelaksanaan ibadah qurban. Jika sebelumnya qurban dilakukan secara individual dan sporadis, kini berkembang menjadi gerakan kolektif yang dikelola oleh panitia, dilengkapi laporan keuangan, dan sistem distribusi yang adil.

Inilah buah dari semangat modernisasi Islam yang lahir dari perjumpaan antara pengalaman haji dan visi pembaruan.

Lebih dari itu, Surkati mewariskan gagasan bahwa Islam adalah agama yang membebaskan. Ia menolak fanatisme buta, menentang mitos darah biru, dan menyerukan agar umat bangkit dari keterbelakangan.

Ia mengajarkan bahwa pendidikan adalah jantung perlawanan dan bahwa ritual seperti qurban tidak boleh berhenti di penyembelihan hewan, tetapi harus meluas menjadi penyembelihan egoisme, kemalasan berpikir, dan kepatuhan membuta terhadap tradisi usang.

Dalam pandangan Surkati, ibadah adalah jembatan menuju pembaruan. Ia mengubah masjid dari tempat pasif menjadi pusat dinamika, dan menjadikan Mekkah bukan hanya kiblat salat, tetapi juga kiblat perubahan.

Haji, dalam sejarah Indonesia, telah memainkan peran kunci sebagai wahana transmisi gagasan. Dari tanah suci, para haji membawa pulang semangat kebebasan, keilmuan, dan keberanian.

Pemerintah kolonial yang semula menganggap haji sebagai urusan privat, akhirnya menyadari bahwa haji adalah institusi global yang berbahaya bagi sistem penindasan. Haji membentuk kesadaran baru, dan dari sanalah muncul tokoh-tokoh pembebas seperti Surkati, yang tidak hanya mengubah cara umat beribadah, tapi juga cara mereka berpikir dan bertindak.

Iedul Adha hari ini harus dibaca ulang bukan hanya sebagai momentum spiritual, tetapi juga sebagai panggilan intelektual. Bahwa dari Ibrahim kita belajar ketundukan, dari haji kita belajar transformasi, dan dari Surkati kita belajar keberanian berpikir merdeka.

Universitas haji telah melahirkan ulama-ulama besar Nusantara, dan dalam jejak mereka kita menemukan bahwa ibadah bisa menjadi jalan menuju revolusi — bukan dengan kekerasan, tapi dengan ilmu, pendidikan, dan pembebasan.*/ Abdullah Abubakar Batarfie, Ketua Pusat Dokumentasi & Kajian (PUSDOK) Al-Irsyad

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al-Irsyadantikolonialgerakan pendidikanhajiHeadlinejamaah haji
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Setelah Muslim, Richard Lee Ingin Bangun 20 Masjid
Tulisan selanjutnya Santap Daging Tanpa Khawatir Kolesterol Ala Pakar Kesehatan UNAIR

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa

Berita
31 Agustus 2026 06:11
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi

Terbaru

  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?