Hidayatullah.com– Aset perbankan syariah di Jatim tumbuh 14% per April 2010 dari posisi Desember 2009, atau menjadi Rp 6,12 triliun.
Deputi Perwakilan Bank Indonesia Surabaya Bidang Pengawasan Bank Nasser Atorf mengatakan, dalam 3 tahun perkembangan perbankan syariah di Jatim relatif pesat. Total aset bank itu meningkat 118%, dana pihak ketiga naik 139%, dan pembiayaan tumbuh 93%.
Yang menggembirakan, financing to deposit ratio (FDR) bank syariah selama 3 tahun berturut-turut di atas 80%. “Angka ini menunjukkan dana yang dihimpun oleh bank syariah sebagian besar disalurkan untuk pembiayaan,” ujarnya Senin (10/5).
Per Desember 2009 posisi aset perbankan syariah tercatat Rp5,37 triliun atau 7,87% dari total aset perbankan syariah nasional.
Menurut Nasser, kondisi riil tersebut membuktikan dukungan perbankan syariah terhadap sektor usaha di Jatim relatif besar. Itu berarti wilayah Jatim merupakan pasar yang potensial untuk pengembangan perbankan syariah.
Sebagai provinsi dengan penduduk muslim cukup besar serta mempunyai banyak pondok pesantren, peran pemerintah, akademisi, dan ulama tidak diragukan lagi turut mendorong pertumbuhan perbankan syariah. Saat ini sudah tujuh bank umum syariah yang beroperasi di Jatim, yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat, Bank Syariah Mega Indonesia, BRI Syariah, Bank Syariah Bukopin, Bank Panin Syariah, dan BCA Syariah.
Sementara itu, jumlah unit syariah yang ada tercatat delapan unit, yaitu Bank Niaga Syariah, Bank Danamon Syariah, Bank Permata Syariah, HSBC Amanah Syariah, BTN Syariah, BNI Syariah, BII Syariah, dan BTPN Syariah. Selain itu, terdapat 24 BPRS di wilayah Jawa Timur.
“Beberapa waktu lalu kami menyambut dengan hangat kehadiran BCA Syariah di Surabaya dan tidak lama lagi akan hadir OCBC-NISP Syariah,” tambahnya.
Relatif lambat
Secara umum Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Jatim, Ersyam Fansuri, mengatakan, meski telah mengikuti aturan Islam dan memiliki pangsa luas, namun perkembangan bank syariah relatif lambat. Bahkan, perkembangan pasar (market share) bisa dikatakan stagnan. Hingga saat ini market share perbankan syariah masih berkutat pada kisaran angka 3 persen dibanding perbankan konvensional.
”Sebenarnya pertumbuhan bank syariah sudah cukup baik. Selain faktor terkait sumber daya manusia (SDM) di dalamnya, kurangnya sokongan pemerintah membuat bank syariah sulit melaju,” kata Ersyam Fansuri, di Surabaya, Senin (10/5).
Menurutnya, regulasi untuk membantu percepatan pengembangan bank-bank syariah harus lebih diperjelas untuk bisa mencapai kesesuaian antara jumlah umat muslim di Indonesia dengan perkembangan perbankan syariah.
Selain campur tangan pemerintah, Ersyam menilai, SDM yang kini berkecimpung di dunia perbankan syariah belum memahami secara mendalam apa yang diinginkan dan diperlukan perbankan syariah untuk maju.
”Kebanyakan SDM di bank-bank syariah adalah jebolan bank-bank konvensional yang pikiran dan hatinya masih terpengaruh dengan bank konvensional, bukan ilmu fikih maupun muamalah yang menjadi dasar perbankan syariah,” ungkapnya.
Meski demikian, Ersyam optimistis, pertumbuhan bank syariah bakal mengalami peningkatan tajam. Ini setelah pemerintah berencana mengeluarkan penghapusan pajak ganda pada akad jual beli dalam bank syariah.
Dia berharap segera ada ketetapan hukum sehingga bisa mendorong masuknya investor asing di bisnis ini. ”Kami menyambut baik hal itu, kami yakin ini akan semakin membuka jalan bagi kemajuan Bank Syariah, termasuk pihak asing yang mau masuk Indonesia,” ujarnya. [web.bisnis/Rep/hidayatullah.com]