Hidayatullah.com–Salah satu hal yang dipermasalahkan dalam Munas III Hidayatullah di Makassar ini adalah keaktifan sebagian kader Hidayatullah pada kegiatan harakah lainnya, Kader-kader Hidayatullah “bersilungkuh” dengan harakah lain,” demikian istilah Ahkam Sumadiana, Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah. Sumadiana tidak asal ngomong. Dia tunjuk beberapa kader yang ada di Bondowoso dan Sumenep Jatim, Solo Jawa Tengah, Pare-pare Sulsel bahkan Balikpapan Kaltim. “Mereka seakan-akan menjadi kader Hidayatullah cabang harakah tertentu, ” tambahnya. Kadarnya berbeda-beda, ada yang hanya simpatisan, ikut dalam kajian-kajiannya, menjadi pengurus bahkan sudah ada menyatakan keluar dari Hidayatullah. “Ini memang fenomena baru di Hidayatullah.”
Moh Hasib misalnya kader Hidayatullah di Bondowoso mendapat sorotan karena interaksinya dengan harakah Salafi di daerahnya dan pendapat-pendapat yang disampaikan. Demikian juga Hilfhul Fadel yang bertugas di Jayapura berinteraksi dengan Salafi tidak kalah disoroti. Tapi benarkah mereka telah ‘main mata’ bahkan berselingkuh dengan kader lain?
Terhadap kasus-kasus seperti ini tiga fungsionaris Hidayatullah di tingkat pusat, Ainur Rofiq, Hanifullah, masing-masing anggota Dewan Syura dan Sumadiana menganggap belum mejadi kasus yang serius. “Ini merupakan konsekwensi dari semakin banyak munculnya harakah Islam di Indonesia dan kebutuhan peningkatan kapasitas kader.” Kata Hanifullah.
“Agar kader-kadernya tidak tergiur dengan harakah lain, kita harus meningkatkan daya tarik lembaga,” tambah Hanifullah. Intinya, tambah Sumadiana, mereka kurang puas dengan tampilan harakah ini. “Sebagai Departemen Perkaderan saya menangkap masalahnya seperti itu.
Meminjam istilah Sumadiana, ‘perselingkuhan’ kader Hidayatullah sebenarnya tidak hanya dengan harakah lain. Ketidakpuasan itu juga terlihat dengan munculnya kader-kader Hidayatullah yang menjadi pegawai negeri.
Hanifullah tidak setuju dengan istilah Sumadiana, perselingkuhan harakah. “Terlalu serem,” katanya. Menurut Hanif, mereka hanya kurang fokus saja di Hidayatullah dan kurang arif dalam mengelola perbedaan kultur. “Mereka kan masih kader Hidayatullah juga.”
Ketiga fungsionaris Hidayatullah sepakat, bahwa sebenarnya kader-kader Hidayatullah yang mendapat sorotan masih memiliki komitmen yang kuat di Hidayatullah dan mereka menganggap lembaga lebih baik dari yang lain. “Buktinya masih bertahan.”
Memotret realitas seperti ini, menurut Ainur Rofiq yang selama ini banyak mendapatkan tugas penyusunan konsep dakwah dan tarbiyah pada Dewan Syura, ada beberapa alasan mendorong kader aktivitas tidak fokus lagi di Hidayatullah, Pertama, kebutuhan keilmuan, Kedua, penurunan spiritual para kader secara umum yang berdampak pada institusi dan Ketiga, Persoalan ekonomi. Namun ketiganya sepakat, keilmuan dan spiritualitas menjadi hal yang paling utama. [shw/hidayatullah.com]