Hidayatullah.com–Bekas politisi PBB, Ali Mochtar Ngabalin, mengemukakan alasan dirinya loncat ke partai lambang beringin, Golkar. “Partai itu sarana untuk kepentingan politik. Jadi, politik itu maslahat umat,” ujarnya ketika ditemui hidayatullah.com, Sabtu (22/10) usai mengisi acara Workshop Manajemen Masjid “Pemberdayaan Pemuda Berbasis Masjid” yang diadakan Syabab Hidayatullah Pusat.
Karena partai adalah kepentingan, Ketua BKPRMI Pusat ini menganggap jika PBB sudah tidak bisa lagi dijadikan kendaraan politik. “PBB sudah tiga kali ikut pemilu. Dua kali tidak lolos electoral threshold. Dan sekali gagal parliamentary threshold (PT),” katanya.
Padahal, lanjut Ngabalin, pemilu kemarin dirinya lolos jadi anggota DPR RI. Tapi, gara-gara partainya tidak lolos PT, jadi kesempatan emas itu sia-sia. Karena itu, politisi yang dikenal dengan sorban putih di kepalanya ini loncat ke Golkar.
Lebih jelas, Ngabalin mengatakan, partai adalah alat vital untuk menyampaikan aspirasi politik. Sebab, Indonesia adalah negara demokrasi. Mengutip kaidah ushul fiqh, Ngabalin mengatakan, “Ma la yatimmul wajib, illa bihi fahuwa wajib.”
Manuver politik tersebut, ujar Ngabalin, tidak lain untuk memperjuangkan penegakan syariat Islam secara konstitusional. Ngbalin pun tidak mau ambil pusing jika ada orang yang mengatakan dirinya pecundang.
“Saya tidak mau melakukan pembelaan diri, saya hanya melakukan yang terbaik” katanya.
Untuk menjawab respon beragam dari berbagai pihak, Ngabalin hanya membuat puisi, “Tangan tertekan paku hingga berlubang. Obatkan jamu hingga luka dalam. Jangan katakan aku pecundang, doakan aku memperjuangkan Islam.”
Puisi tersebut, ujar Ngabalin, sebagai permohonan dukungan dan doa dari berbagai pihak. [ans/hidayatullah.com]