Hidayatullah.com—Setelah lama keluar dari penjara dan tak terdengar kabarnya, Selasa (08/11/2011), kemarin, mantan pemimpin redaksi Playboy Indonesia, Erwin Arnada muncul di pers Belanda. Harian Belanda de Pers menurunkan artikel bertajuk “Playboy Haram”, berisi wawancara dengan. Mantan orang nomor satu di Playboy Indonesia yang pernah dipenjara satu tahun atas tuntutan “perilaku tidak senonoh” ini.
Kutipan wawancara pertamanya, setelah satu tahun dirinya bebas dimuat di radio Belanda, RNW.
Di salah satu media ini, Erwin mengungkapkan keluh kesahnya seputar keberatan kalangan Islam terhadap majalah porno ini dan sikapnya setelah keluar dari Penjara. Ia bahkan mengaku sadar, sikapnya yang terus menerbitkan majalah itu akan menuai kontroversi, khususnya dari kaum Muslim.
“Saya sadar kami akan mendapatkan kritik,” kata Erwin.
Ia bahkan tetap nekat menerbitkan dan edisi perdananya tembus 100 ribu eksemplar -berbalut kemasan pembungkus khusus- terjual dalam satu bulan. Ia bahkan mengaku berusaha mengajak kalangan Islam berdialog.
“Kelompok Muslim garis keras sangat berpengaruh di Indonesia dan mereka akan mengintili gerak gerik semua hal yang mereka benci. Untuk jaga-jaga, kami bahkan sudah mengundang mereka untuk berdialog sebelum peluncuran edisi pertama.”
Satu-satunya yang harus Erwin lakukan kala itu adalah mengubah nama majalah.
“Judul Playboy itu saja yang masih mengganjal bagi mereka. Permintaan saya tolak, kekanak-kanakan sekali menurut saya. Reaksi pemimpin Front Pembela Islam (FPI) atas penolakkan adalah ‘tunggu saja sampai “tentara Allah” menindak Anda.’ Yah, mereka lalu memang benar-benar memegang ucapannya,” kenang Erwin Arnada seperti dikutip de Pers.
Bulan-bulan berikutnya, ratusan orang terus-menerus berdemonstrasi di depan kantor redaksi di Jakarta.
“Aneh sekali rasanya mendengar banyak orang berteriak bahwa Anda adalah musuh Islam dan Anda harus mati. Tapi saya diam saja. Sampai ketika orang-orang itu menyerang rumah orangtua saya dan mencelakai seorang staf saya, baru saya sadar akan bahaya yang kami hadapi. Saat itulah saya memutuskan untuk memindahkan seluruh operasi ke Bali. Masyarakat lebih toleran di Bali. Di Jawa, para ekstremis bisa bertindak seenak jidat, tidak demikian di Bali.”
Meski dipindahkan ke Bali, umat Islam tetap saja protes. Puncaknya, ketika kantor redaksi Playboy dibakar massa dan tahun 2010 Erwin dijatuhi hukuman dua tahun atas perilaku cabul.
Ia juga mengaku, dipenjara ditahan bersama dengan tertuduh “teroris”.
“Saya terus menerus terancam. Sudah beberapa kali saya diancam dengan pisau di leher saya. Tapi saya juga sempat membuat teman di tahanan. Indonesia punya banyak tahanan politik, orang-orang pintar mereka itu. Saya satu sel dengan mantan kepala bank nasional dan kepala polisi tertinggi di Jakarta. Saya belum pernah terlibat dengan percakapan intelektual yang begitu intens seperti yang saya lakukan di penjara,” ujarnya dikutip RNW.
Kini, setelah tepat satu tahun Erwin bebas setelah Mahkamah Agung membatalkan vonisnya. Ia sibuk mengerjakan bukunya dari tempat persembunyian di Bali. Namun bukan untuk menerbitkan lagi majalah yang pernah mengantarkannya ke penjara itu.
“Tidak ada lagi Playboy Indonesia. Saya sudah tidak bersemangat. Orang-orang kadang ngomong wah para ekstrimis itu menang dong! Playboy akhirnya benaran ditutup. Saya tidak melihatnya seperti itu. Sayalah pemenang pertempuran ini! Saya sudah memberikan hidup saya selama satu tahun untuk majalah itu. Kalau saya mau saya bisa buka Playboy lagi besok. Tapi saya sudah menegaskan poin saya. Playboy adalah masa lalu bagi saya, saya sibuk mencari sesuatu yang baru lagi sekarang,” ujarnya pada de Pers. Benarkah? Kita tunggu saja.*