Hidayatullah.com—Sebagian beralasan pelaku Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT) untuk melegalkan aktivitas homoseksual dan lesbian adalah karena sudah kodrat, karena mereka sudah dilahirkan dalam keadaan seperti itu dan kondisi demikian tidak bisa dirubah.
Namun pendapat ini ditampik pakar psikologi klinis dan pengajar di International Islamic University Malaysia, Prof. Dr. Malik Badri.
“Omong kosong bahwa homo dan lesbi adalah bawaan sejak lahir. Tidak mungkin seperti itu,” tegas pakar psikologi Internasional dari Sudan yang menjadi pembicara bersama Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, dalam acara “Studium Generale” bertema “Homoseksual dan Gender dalam Perspektif Psikologi dan Islam” di Gedung Program Doktor Pendidikan Islam, Universitas Ibn. Khaldun, Bogor, pada Selasa kemarin (29/05/2012) kemarin.
Menurutnya, kalau memang penyebab homoseksual dan lesbian adalah karena faktor genetis, berarti kita telah memvonis Tuhan tidak adil, padahal kenyataannya tidak demikian.
Menurutnya, para psikolog Barat mengklaim, pelaku LGBT menjadi demikian karena hormon estrogen lebih banyak daripada hormon endrogen. Namun, hal ini juga langsung dibantah kembali oleh Malik Badri.
“Padahal faktanya, manusia yang punya hormon estrogen lebih banyak tidak menderita homoseksual,” tegas pria yang menamatkan pendidikan Doktornya di Universitas Leicester, Inggris, pada tahun 1961 ini.
Hormon estrogen sendiri, menurut pria dan mantan guru besar psikologi di Departemen Psikologi dan Psikologi Klinis Univeritas Mohammad Saud Riyadh ini adalah hormon yang pada umumnya diproduksi oleh rahim wanita yang merangsang pertumbuhan organ seks perempuan, hal ini dikenal sebagai karakteristik seks sekunder. Selain itu, estrogen mengatur siklus menstruasi.
Hal ini juga disetujui oleh Rushdi Kasman M.Si., dosen mata kuliah Psikologi dan Konseling di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, yang mengikuti jalannya acara kuliah umum tersebut sampai selesai.
“Memang, kadar hormon estrogen yang lebih banyak di dalam tubuh seorang laki-laki tidak menentukan seseorang menjadi homoseksual. Contohnya saja seperti dokter Boyke yang agak kemayu tapi ternyata beliau bukan seorang homoseksual. Jadi kecenderungan perilaku seperti tomboy dan feminin tidak menentukan seseorang itu punya kelainan seksual (heteroseksual),” terang pria lulusan UPI Bandung ini.
Sehingga seseorang yang mengalami kelainan seksual bukan karena faktor genetis melainkan karena faktor lingkungan.
Penyakit kejiwaan
Prof. Malik juga mengungkapkan bahwa dalam psikologi Barat orang yang kontra dengan homoseksual dan mengkritisinya termasuk dalam salah satu penyakit kejiwaan disebut homophobia.
“Sekarang ini dalam psikologi Barat, orang yang kontra dengan homoseksual sudah bisa dikatakan termasuk dalam salah satu penyakit kejiwaan,” ungkapnya.
Menurut Hamid, perilaku homoseksual ada korelasi dengan paham kesetaraan gender. Karena paham kesetaraan gender, perilaku homoseksual seperti mendapat pelegalan dan membuatnya semakin marak.
“Asal mula homoseksual diperjuangkan dalam kesetaraan gender yaitu berasal dari feminis aliran radikal, feminis aliran radikal ini mempunyai tuntutan bukan hanya kesetaraan untuk perempuan tapi kesetaraan untuk memperoleh kepuasan seks, jadi karena tidak memerlukan laki-laki dia bisa memperoleh kepuasan seks tersebut dan tidak ada ketergantungan karena merasa mempunyai hak untuk memperoleh itu,” ujarnya kepada hidayatullah.com.
“Feminis ini memperoleh penguatan lagi dengan konsep equality, feminisme kan membela hak perempuan, bukan hanya membela hak perempuan tetapi juga menyamakan hak perempuan dengan laki-laki, nah itu dalam semua aspek, termasuk dalam homoseksual ini,” terang penulis buku Misykat ini.
Bisa disembuhkan
Hana saja menurut Profesor Malik Badri yang juga pendiri International Association of Muslim Psychologists dan pernah menjadi anggota dewan pakar UNESCO ini, penyimpangan seksual seperti homoseksual dan lesbian bisa disembuhkan, yaitu dengan cara memberikan terapi kognitif, seperti dibangunkan kesadarannya bahwa apa yang dia perbuat salah tanpa menyudutkan dan menumbuhkan motivasi pada diri si pelaku, kemudian dengan terapi behavior, yaitu si pelaku dimasukkan dalam lingkungan yang lebih bersih dan baik, yang mendukung kesembuhannya dan dijauhkan dari komunitasnya.*/Sarah Mantovani