Hidayatullah.com–Jamaah shalat Isya di sebuah masjid di Pemalang –Jawa Tengah itu penuh. Ia yang ketika itu bertugas sebagai imam lantas berinisiatif untuk menuntaskan satu juz Al Qur’an saat shalat tarawih. Meski satu juz, jamaah di masjid tersebut tidak berkurang. Masjid justru bertambah padat dengan jamaah. Mereka ingin menghabiskan tarawih malam itu dengan seorang imam dari salah satu masjid ternama di Jalur Gaza Palestina tersebut.
Ramadhan ini, Syeikh Wael M.S Alzayd, Imam dari Masjid Umari Al Kabir di Jalur Gaza Palestina hadir di Indonesia. Selain mengunjungi Pemalang, Syeaikh Wael hadir di Jakarta, Jogyakarta, Bontang (Kalimantan), Balikpapan dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Syeikh Wael menghabiskan waktu 25 hari selama Ramadhan ini.
“Alhamdulillah, semua makmum di setiap masjid (yang saya kunjungi) itu berbahagia (dengan kehadiran saya). Setiap habis tarawih saya juga mengisi tausyiah. Setiap kali saya menceritakan tentang kondisi Palestina dan masjid Al Aqsha mereka selalu bertakbir.. Allahu Akbar… Allahu Akbar!” jelas Syeikh Wael kepada hidayatullah.com, Senin (13/08/2012).
Syaikh Wael juga memberikan motivasi agar umat Islam di Indonesia bersemangat untuk belajar bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa international umat Islam yang menjadi bahasa dalam Al Qur’an. Beliau juga berulang kali mengingatkan agar umat tidak melupakan perjuangan pembebasan Masjid Al Aqsha. Masjid yang pernahsebagai kiblat pertama umat Islam adalah tanggung jawab kita sebagai umat Islam untuk membebaskannya dari Zionis-Israel.
“Palestina dan Masjid Al Aqsha sudah dijajah Zionis-Israel selama 60 tahun, kontribusi masyarakat Islam Indonesia untuk berdiri bersama rakyat Palestina adalah penting untuk mengusir Zionis-Israel keluar dari tanah Palestina,” tambahnya lagi dalam wawancara di sebuah kegiatan buka bersama dengan Sahabat Al Aqsa dan Hidayatullah di Jakarta.
Lelaki yang hafal 30 Juz Al Qur’an ini juga memuji kehangatan ukhuwah Islamiyah dari masyarakat Indonesia yang dikunjunginya. Ia menyatakan rasa salutnya akan tradisi buka bersama di masjid-masjid.
“Saya melihat sesuatu yang tidak pernah ada di Gaza. Orang-orang datang sebelum adzan maghrib. Lalu kita berbuka bersama dengan makanan gratis yang di sedikan masjid. Semuanya penuh keakraban hingga akhirnya kita melakukan shalat maghrib berjamaah. Ini sesuatu yang unik dan mengharukan bagi saya,” tambahnya.
Kesantunan Muslim di Indonesia juga dirasakannya saat ia sedang melakukan tausyiah melengkapi ibadah tarawih. Setiap jamaah yang ingin keluar masjid biasanya memberikan tanda dengan tangan pada dirinya. Mereka seakan meminta izin terlebih dahulu kepada Syeikh untuk keluar masjid sebentar.
“Ini perilaku yang santun, saya tidak pernah melihat budaya santun seperti ini di Timur Tengah,” tambahnya.
Sebagai seorang hafidz (penghafal Al Qur’an) Syeikh Wael tidak memiliki tips khusus dalam menjaga hafalannya. Baginya menjaga hafalan Al Qur’an yang sudah dihafalnya sejak ia masih berusia belasan tahun adalah hal yang mudah. Ayat-ayat Al Qur’an itu seperti sudah tertancap kuat di dalam isi kepalanya.
“Alhamdulillah tidak ada kesulitan dalam menjaga hafalan, Saya sudah terbiasa dengan semua hafalan saya. Mereka seperti sudah tertancap di kepala saya. Ketika saya butuh ayat atau juz tertentu mereka secara otomatis teringat kembali,” jelasnya lagi.
Syeikh Wael yang hari itu akan langsung berangkat ke Bandara Soekarno Hatta untuk kembali ke Gaza menitipkan pesannya agar jangan pernah pesimis dengan kondisi umat Islam yang saat ini penuh dengan konflik dan intimidasi. Baik dari Jalur Gaza, Suriah, Rohingya dan belahan dunia lainnya.
Ia mengibaratkan, seorang bayi yang akan dilahirkan akan melewati rasa perih, pendarahan, tangisan. Namun semua itu adalah proses menuju kemenangan. Di mana di dalam kemenangan itu ada janji Allah Subhana wa ta’ala. Janji tentang keselamatan begitu penjelasan terakhir beliau sebelum pulang kembali ke Jalur Gaza.*