Hidayatullah.com – Pada Kamis hingga Jum’at lalu (13/09 – 14/09/2013), Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia (PMWP), Datuk Wan Zahidi bin Wan Teh, bersama para stafnya lakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Kunjungan kerja ini bertujuan untuk melihat dan mengetahui perkembangan pemikiran di Indonesia.
“Tujuan kami juga untuk mengetahui cara yang mungkin bisa kami gunakan untuk menghadapi masalah pemikiran, cara yang sesuai dengan waqi’ (fakta, red) di Malaysia”, terang Mafis bin Mohd Samuri, salah satu Panel Pemikir PMWP, saat diwawancarai hidayatullah.com, Ahad (15/09/2013).
Kunjungan kerja yang disambut langsung oleh Pimpinan Gontor Kiai Hasan Abdullah dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasy ini, dinamakan dengan Kunjungan Kerja Jawatan Kuasa (komite, red) Pemikir Isu Islam Kontemporer PMWP.
“Di Gontor Satu kami bertemu dengan Kiai Hasan, sekedar kunjungan hormat sambil berkongsi (berbagi, red.) ilmu dan pandangan. Tanggal 13, kami ke ISID Gontor, untuk mengetahui program PKU dan berkongsi pengalaman dengan Dr. Hamid tentang bagaimana menghadapi serangan pemikiran di Indonesia”, jelas alumni Universiti Teknologi Mara (UiTM) Malaysia ini.
Mafis sebagai perwakilan dari PMWP mengaku bersyukur, dengan adanya Dr. Hamid dan program PKU Gontor-nya, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) dan jaringannya bisa menjadi penyelamat untuk menyelamatkan pemikiran umat Islam di Indonesia.
“Apa yang selama ini kami tahu, serangan pemikiran di Indonesia sangat kuat sekali, namun Alhamdulillah dengan adanya, INSISTS, insya Allah dapat memberi jalan bagi menyelamatkan umat Islam di sana,” akunya penuh syukur.
Mafis juga mengungkapkan kesukaan Mufti terhadap program PKU Gontor dan kepedulian Mufti terhadap perkembangan dan permasalahan pemikiran di Indonesia.
“Mufti sangat suka dengan program PKU Gontor. Mufti juga sebenarnya senantiasa ambil tahu (perduli, red.) dengan perkembangan dan permasalahan pemikiran di Indonesia. Sebab, apa yang saya lihat, dalam ghuzwatul fikr (perang pemikiran, red), Barat akan selalu mencoba memasukkan racun pemikiran ke Indonesia terlebih dulu sebelum ke Malaysia”, ungkapnya.*