Hidayatullah.com—Meski sering kali perbedaan di kalangan harakan (gerakan) Islam di Indonesia menimbulkan ketegangan, Wahdah Islamiyah optimis adanya persatuan umat.
Pernyataan ini disampaikan Ketua Wahdah Islamiyah (WI) Muhammad Zaitun Rasmin, Lc. MA saat acara kegiatan silahturahim ulama di Jakarta, Rabu (23/10/2013).
Menurut Zaytun, saat ini sejalan dengan era kebangkitan Islam. Walau memang belum terlalu kencang dampaknya. Tapi nampak perubahan terlihat ada.
“Potensi persatuan Islam itu terlihat menguat di berbagai organisasi massa (Ormas), sekarang lintas harakah sudah terbangun silaturrahim, diskusi dan budaya saling membangun,” jelasnya pada hidayatullah.com usai acara tersebut.
Menurutnya, benturan perbedaan apapun biasanya bersatu dalam kesamaan tauhid.
“Kita jangan pesimis, tauhid itu menyatukan kita dalam keimanan,” tambahnya.
Sementara itu Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Bachtiar Nasir.Lc melihat gejala persatuan umat sudah ada. Bahkan secara fakta di beberapa aspek sudah sering terjadi.
Menurut Ketua AQL Islamic Center ini baik dari kalangan pemikir Islam atau yang menyebut diri kelompok jihadis sampai gerakan dakwah parlemen dan akademisi-akademisi Islam saat ini sudah sering duduk satu meja.
Mereka sering melakukan kajian, diskusi untuk mencari formula terbaik bagi permasalahan umat di negeri ini.
“Mencari titik temu bagi perjuangan Islam di Indonesia,” jelasnya.
Fakta nyata menurut Bachtiar adalah bersatunya berbagai pihak pada isu-isu moral seperti; melawan pornografi, LGBT, Lady Gaga hingga Miss World.
“Dari sudut pandang politis memang masih perlu silahturahim dan diskusi-diskusi untuk menyamakan sudut pandang terkait masalah keumatan lainnya,” tandasnya.
Dalam banyak kasus, ia menilai di lintas harakah, tokoh Ormas Islam sering saling menjenguk dan mendoakan saat ada rekan kelompok lain sedang terkena musibah.
“Ini benih-benih baik bahwa kita pasti bisa bersatu,” jelasnya.*