Hidayatullah.com—Perwira di Detasemen Khusus 88 Antiteror Kombes Pol Eddy Hartono, menyatakan bahwa dirinya tidak memusuhi Islam. Pernyataan ini disampaikan di depan peserta “Diskusi Terbuka Penanganan Tindak Pidana Terorisme dalam Perspektif Hak Asasi Manusia” di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (25/11/2013) kemarin.
“Saya sendiri orang Muslim, kok,” ungkapnya setelah menanggapa pemaparan kedua pembicara sebelumnya, Mustofa B. Nahrawardaya dari Muhammadiyah dan Slamet Effendi Yusuf dari PBNU.
Menurut mantan Kapolres Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan ini, Densus 88 bekerja terus menerus tidak kenal lelah sebagaimana lambangnya yaitu borgol.
Namun pernyataan itu ditanggapi oleh Musthofa B Nahrawardaya yang juga Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) bahwa pernyataannya adalah sebagai pribadi.
Menurut Musthofa, hal yang perlu dikritisi terhadap sikap Densus 88 adalah tindakannya menangani persoalan terorisme.
“Saya yakin Anda tidak memusuhi Islam. Tapi kalau sudah menjadi suatu sistem itu akan bisa memusuhi umat Islam,” ungkap Musthofa.
Efek Ekonomi dan Psikologi Korban
Musthofa kemudian mencontohkan aksi Densus 88 tanggal 8 Agustus 2009, pengepungan di Yogyakarta selama hampir 20 jam. Saat itu menurunya, diberitakan terjadi tembak menembak antara lebih dari 400 anggota Densus 88 dengan empat orang di dalam rumah yang disinyalir rumah Noordin M.Top.
Juga diberitakan Noordin dan ketiga orang lainnya berada di dalam rumah dan menggunakan alat canggih. Tapi apa yang terjadi?
Ternyata didalam bukan Noordin M.Top. Dan orang yang berada didalam rumah tidak menggunakan senjata canggih.
Di Muhammdiyah, menurut Musthofa, sudah ada tumpukan laporan korban terorisme.
Musthofa menegaskan, korban terorisme ini bukan sekadar korban yang ditembak tapi juga korban secara psikologis dan ekonomi. Para isteri korban terduga kasus terorisme yang sudah ditembak mati harus menanggung beban psikologis yang berat. Selain itu mereka juga harus mencari nafkah.
“Saudara, Paman, Nenek, juga terkena,”ungkapnya sembari memperlihatlan slide presentasi berisi data-data korban terorisme.
Sebelumnya, Ketua PBNU, Slamet Effendi Yusuf mengindikasikan kasus terorisme di Indonesia seperti sebuah sandiwara berseri karya SH Mintardja tahun 1967 “Api di Bukit Menoreh” yang tiada habisnya.
“Seolah-olah terorisme ini seperti cerita bersambung Bukit Manoreh-nya SH. Mintardja,” ulasnya.
Seperti diketahui, cerita berseri karya SH Mintardja tahun 1967 “Api di Bukit Menoreh” terdiri dari 396 jilid. Bahkan hingga akhir hayatnya, kisah yang diambil dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam itu masih belum selesai meski si penulis telah meninggal dunia.*