Hidayatullah.com–Isu kesetaraan gender dan feminisme masuk kampus, bukan hal baru. Tapi menganggap para mahasiswa di seluruh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) memahami konsep keadilan dalam Islam, keliru.
Demikian disampaikan peneliti The Center for Gender Studies (CGS), Dr Dinar Dewi Kania. Saat diundang oleh sebuah LDK di Jakarta, Wakil Sekjen Bidang Penelitian dan Pengembangan Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia itu pernah kaget mendapati pemahaman para Muslimah di sana memaknai kesetaraan gender adalah penyamarataan semua hak dan kewajiban pria dan wanita.
“Saya pikir kami akan membahas feminisme dari sudut pandang yang sama mengingat latarbelakang mereka di LDK. Ternyata mereka pro feminisme dari sudut pandang kaum liberal. Itu karena mereka tidak tahu bagaimana Islam memandang konsep kesetaraan gender,”ulasnya pada Training For Trainer Feminisme dan Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam, belum lama ini di AQL Tebet, Jakarta.
Selanjutnya ia menjelaskan bagaimana Islam membedakan penugasan antara kaum Adam dan Hawa bukan bermaksud diskriminasi.
Ia hanya akan terlihat diskriminasi ketika dilihat dari perspektif Barat yang hanya mementingkan material, pangkat dan status.
Wanita diberikan peranan secara khas dan ekslusif untuk membesarkan anak karena wanita memiliki keunikan dan keistimewaan yang tidak dimiliki laki-laki dari segi biologi-fisiologi, mental dan emosi.
Dinar juga menjelaskan, falsafah kepemimpinan dalam Islam tidak dikaitkan dengan kemuliaan dan kerendahan. Penempatan lelaki sebagai pemimpin rumah tangga sama sekali tidak bertujuan untuk merendahkan martabat wanita. Kepemimpinan lebih merupakan tanggungjawab besar yang akan dipertanyakan di akhirat kelak.
“Hal itulah yang saya coba beri pemahaman. Bagi kita para aktivis, tidak bisa menganggap sepele doktrin yang sudah diserap para Muslimah di LDK,” tuturnya dihadapan puluhan Muslimah perwakilan Organisasi massa (Ormas).
Pemahaman keliru para akademisi, melahirkan kebijakan yang akan merusak tatanan soial dan moral bangsa dikemudian hari. Pendidikan ke berbagai lini masyarakat harus terus menerus dilakukan untuk mengimbangi gempuran feminis Barat.*