Hidayatullah.com – Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, terutama setelah Muhammadiyah mengadvokasi kasus Siyono, banyak dai Muhammadiyah di daerah yang mengalami tekanan dari berbagai pihak.
“Memang ketakutan dan rasa was-was di beberapa tempat dirasakan,” ujar Dahnil kepada hidayatullah.com saat ditemui di PP Muhammadiyah, Jakarta, Jum’at malam (13/05/2016).
“Seperti di Sumatera Utara misalnya yang didatangi aparat, dan ditanya macam-macam. Di Jogja juga mengalami hal serupa. Tokoh Muhammadiyah mengalami dampak kecurigaan yang berlebihan,” ungkapnya.
Soal kecurigaan itu, terang Dahnil, aparat harusnya lebih memahami tentang Muhammadiyah.
“Saya pikir aparat harus belajar tentang Muhammadiyah, karakter dasar Muhammadiyah seperti apa, bahwa kita ikut merawat toleransi, komitmen terhadap keindonesiaan dan sebagainya,” jelasnya.
Ia menegaskan, terkait sikap Muhammadiyah berkaitan dengan kasus Siyono. Kata dia, hal itu merupakan karakter dari Muhammadiyah yang berusaha membantu masyarakat yang diperlakukan tidak adil.
“Itu adalah bagian Amar Makruf Nahi Munkar, usaha kita untuk menghadirkan keadilan saja, dan itu adalah genetika Muhammadiyah, membantu mereka yang terdzolimi,” tukasnya.
Usai Autopsi Jenazah Siyono, Muhammadiyah Akan Serahkan ke Komnas HAM
Dahnil menjelaskan, bahkan sejak awal berdiri, Muhammadiyah sudah memiliki lembaga khusus yang bertujuan memberikan bantuan kepada masyarakat yang mencari keadilan.
“Namanya PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem),” pungkasnya.
Sebelumnya, ramai menjadi perhatian masyarakat terkait adanya aksi teror yang menimpa salah seorang tokoh Muhammadiyah, KH Aban Sobana di Garut, Jawa Barat. Dalam peristiwa itu, ditemukan adanya tindakan berupa pelemparan yang menyebakan kaca rumah pecah, dan Al-Qur’an yang disobek-sobek.*