Hidayatullah.com– Ustadz Abdul Somad (UAS) turut mendoakan kaum Muslimin dan para pejuang di Suriah dalam menghadapi penjajahan rezim Bashar al-Assad dan sekutunya. Ia pun menekankan pentingnya persatuan umat Islam menyikapi tragedi di Suriah.
“Semoga Allah menolong kaum Muslimin di suriah, menolong para pejuang Suriah, memberi kekuatan pada rakyat Suriah yang terjajah,” doanya saat menyampaikan pernyataan sikapnya atas tragedi Suriah melalui fanspage resminya di Facebook tertanggal 7 Maret 2018.
“Semoga Allah menyaksikan mereka yang gugur sebagai syuhada’, dan semoga Allah melaknat para penjajah dan orang-orang dzalim dari kalangan Syiah dan sekutunya dimanapun mereka berada dan memporak-porandakan barisan mereka. Aamiin,” lanjut UAS berdoa.
“Kami pun turut melaknat Bashar Al-Assad dan mendoakan kecelakaan untuknya. Dalam perkara melaknat orang kafir dan dzalim yang masih hidup secara mu’ayyan (personal), maka kami hanya mengikuti sejumlah dalil dan para ulama,” tulisnya juga.
Dalil dan pernyataan ulama dimaksud, jelasnya, antara lain yaitu Hadits tentang sumur Badr yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam shahihnya. Dimana tatkala itu ‘Amru bin Hisyam, ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, dan Walid bin ‘Utbah mati disiksa kemudian dimasukkan dalam sumur Badr, lalu Rasul Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
واتبع اصحاب القليب لعنة
“Semoga laknat Allah mengiringi pemilik sumur ini.”
Kemudian, jelas UAS, saat ulama salaf melaknat Jahm bin Shafwan.
قال يزيد بن هارون لعن الله الجهم ومن قال بقوله
Yazid bin Harun berkata, “Semoga Allah melaknat Jahm dan orang yang berucap dengan ucapannya.”
Kemudian, Syaikh Adnan Ar‘ur (ulama Suriah) melaknat Bashar Al-Assad.
“Ulama MIUMI (Syaikh Dr Haikal Hasan) juga mengajak untuk melaknat Bashar Al-Assad dan sekutunya,” tambah UAS.
Baca: Yang Perlu Diketahui: Apa Perang Suriah, Rezim Bashar dan Keterlibatan Syiah? [1]
Masih terkait Suriah, UAS menyampaikan hasil muktamar ulama sedunia yang diselenggarakan oleh Internasional Islamic Coordination Council (IICC). Acara bertajuk “Sikap Ulama Umat Terhadap Konflik Suriah” ini katanya berlangsung di Mesir pada tanggal 4 Sya’ban 1434 H/13 Juni 2013 M, dihadiri oleh lebih dari 500 tokoh dan ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah dari 50 negara yang berkumpul untuk menyatukan sikap terhadap konflik Suriah.
“Dimana mereka memandang perlunya persatuan umat Islam Sunni dalam melawan kepentingan Syiah di bumi Syam, Suriah, ditambah campur tangan Hizbullata di Libanon dan Iran -yang notabene beraliran Syiah Rafidhah,” jelas UAS.
Dai kondang asal Pekanbaru, Riau, ini juga menyampaikan sambutan Grand Syaikh Al-Azhar pada sesi pembukaan muktamar yang dibacakan oleh Syeikh Dr Hasan Syafi’i.
Yang isinya, sebut UAS, “AL-Azhar secara tegas menolak eksistensi rezim Bashar al-Assad yang hingga kini terus menerus membunuhi rakyat Suriah yang hampir seluruhnya Muslim Sunnni.”
Sambutan ini, terang UAS, senada dengan pernyataan mantan Syeikhul Azhar Prof Dr Muhammad Sayyid Thanthawi pada hari Selasa, 16 Juni 2009 dalam sebuah pertemuan dengan pelajar Saudi Arabia, dimana Prof Muhammad menyatakan dengan tegas:
انه لا مكان ولا وجود لشيعة كمذهب لان مصر دولة سنية ولن تقبل بنشر التشيع في بلادنا
“Mesir adalah negeri Sunni dan dia tidak akan pernah menerima penyebaran paham Syiah di negeri kami ini.”
Baca: Iran Diam-diam Rekrut Syiah Pakistan Bertempur di Suriah
UAS pun menambahkan, muktamar internasional yang di antaranya dihadiri para alim ulama mewakili Indonesia semisal Dr Ahmad Zain An-Najah (DDII) dan Ustadz Farid Ahmad Okbah (MIUMI) itu melahirkan “11 Butir Resolusi” terkait konflik di Suriah.
Di antaranya, terangnya, kewajiban syari umat Muslim berjihad di Suriah, perang di Suriah adalah perang terhadap Islam, menyerukan persatuan umat Muslim Sunni seluruh dunia, apresiasi terhadap peran pemerintah Turki dan Qatar, dan seruan terhadap para pemimpin Arab dan Organisai Negara Teluk (CCASG) untuk membantu perjuangan rakyat Suriah, seruan terhadap umat Islam untuk memboikot produk-produk Iran.
“Dan mengecam kepada segenap pihak yang mengklasifikasi dan menilai sebagian organisasi pejuang kebebasan rakyat Suriah sebagai aksi teroris dan terorisme, dan lain sebagainya,” ungkap UAS menyebut butir-butir Resolusi itu.
UAS dalam pernyataannya itu juga menyampaikan sikap Syeikh Said Ramadhan Al-Bouthi (ulama Aswaja terkemuka di Suriah) yang dianggap mendukung pemerintahan Bashar Al-Assad.
“Maka kami telah menanyakannya langsung kepada Al-Muhaddits Asy-Syeikh Muwaffaq (mursyid thareqat syadziliyyah yang memberi sanad kepada kami) dan beliau mengatakan:
هو رجل عالم زاهد مخدوع
“…beliau (Syeikh Al-Bouthi) adalah seorang yang ‘aalim, zuhud, tetapi tertipu dan dikhianati.”
Terbukti, kata UAS, wafatnya Al-Bouthi dalam “serangan bom” di Masjid Al-Iman, Damaskus, Suriah, bersama sejumlah muridnya diyakini oleh para ulama Suriah sebagai perbuatan tentara Bashar Al-Assad sendiri.
Dimana perbuatan itu, kata UAS, dilakukan penuh perencanaan sebab, masjid tempat Al-Bouthi mengajar merupakan masjid yang paling ketat kawalan keselamatannya.
“Dan mengapa hanya sedikit bekas yang terbakar jika yang terjadi benar-benar serangan bom?” ungkapnya.
Baca: Lebih 2000 Milisi Syiah Afghanistan yang Didukung Iran Tewas di Suriah
Sebuah analisa menyebutkan, kata uAS, sejak lama Al-Bouthi dikelilingi pengawalan militer Bashar al-Assad. Kemanapun Al-Bouthi pergi, puluhan pengawal dan intelijen rezim Bashar al-Assad menyertai atau membuntutinya.
“Bashar Al-Assad frustasi dengan semakin banyaknya pejabat-pejabat (termasuk Menhan) yang membelot ke pejuang Suriah. Ia khawatir dengan Syeikh Al-Bouthi yang dikabarkan akan lari dari Damaskus. Maka ia pun memutuskan untuk membunuh ulama terkemuka itu dengan modus seakan terjadi bom bunuh diri oleh pejuang Suriah sehingga masyarakat akan membenci kelompok pejuang,” ungkap UAS.*