Hidayatullah.com– Kedatangan 79 pengungsi Rohingya asal Myanmar di bumi Aceh, Jumat pekan kemarin, diharapkan turut disikapi oleh pemerintah pusat.
Diketahui, pemerintah daerah khususnya Kabupaten Biereun, Aceh, mengaku telah melakukan usaha maksimal dalam penanganan para pengungsi etnis Muslim Rohingya tersebut.
Menurut aktivis yang telah menyelami dunia advokasi khususnya pengungsi Rohingya sejak tahun 2012, Heri Aryanto, kedatangan mereka ke Indonesia bukan tujuan utama.
Perahu yang ditumpangi para pengungsi, ungkapnya, diselamatkan nelayan Aceh saat terombang ambing di laut Aceh.
“Menurut keterangan salah satu pengungsi, mereka terombang ambing di laut selama sebelas hari, setelah nelayan Aceh melihat mereka, lalu diselamatkan dan ditarik ke tepi pantai,” ujar Heri Aryanto saat ditemui di tempat penampungan sementara di Biereun sebagaimana keterangan diterima hidayatullah.com, Selasa (24/04/2018) malam.
“Sebenarnya yang dituju mereka adalah Malaysia,” tambah advokat yang tergabung di SNH Advocacy Center ini.
Baca: 76 Pengungsi Rohingya Terdampar di Aceh, 7 Orang Harus Dirawat
Pengungsi yang datang dari Myanmar kali ini, kata Heri, berjumlah 79 orang, terdiri dari 44 orang laki-laki dan 35 perempuan. “Ada juga anak-anak,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah baik pusat maupun daerah segera melakukan tindakan terhadap Rohingya ini.
Saat ini sebutnya yang dibutuhkan adalah alas tidur, selimut, perlengkapan shalat, perlengkapan mandi dan pembalut wanita. Khusus untuk anak-anak, dibutuhkan mainan.
“Waktu sebelas hari (terombang ambing di lautan) sangat mengganggu psikologis anak, oleh karenanya diperlukan mainan anak untuk trauma healing,” pungkas Heri.
Baca: Bupati Bireuen: Pengungsi Rohingya Datangi Aceh setelah Ditolak Thailand
Sebelumnya, diberitakan media ini, Wakil Bupati Bireuen Muzakkar Gani mengatakan, setelah ditemukan di pantai tersebut, para pengungsi Rohingya itu dievakuasi dan ditempatkan di ruang kegiatan belajar di Bireuen.
“Kita sudah tempatkan di sana, kita sudah fasilitasi, (kasih) makanan, obat-obatan, dan pakaian,” ujar Muzakkar saat dihubungi hidayatullah.com melalui sambungan telepon, Sabtu (21/04/2018).
Baca: Masyarakat dan Pemerintah Aceh Sambut Positif Pengungsi Rohingya di Bireuen
Selain itu, pihak Pemkab Bireuen pun telah melakukan koordinasi dengan pihak imigrasi setempat terkait keberadaan para pengungsi Rohingya itu. “Kita sudah mendata semuanya,” imbuhnya.
Di antara mereka, terdapat 8 orang anak. Sejumlah pengungsi didapati menderita penyakit ISPA dan diberikan perawatan medis. Ia mengaku pihak Pemkab Bireuen sudah maksimal menangani para pengungsi tersebut.
Wabup mengatakan, pada Sabtu pagi bantuan dari Gubernur Aceh juga sudah datang antara lain berupa makanan dan kebutuhan sandang.
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan, soal nasib puluhan warga Rohingya tersebut, Yasonna mengaku akan ditangani dengan berpegangan pada Perpres No 125 tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri.
Baca: Menkumham: akan Diteliti Warga Rohingya di Aceh Pengungsi atau Bukan
Nantinya, status warga Rohingya akan diputuskan oleh organisasi internasional yang menangani pengungsi, seperti UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) dan IOM (International Organization for Migration).
Mereka, kata Menteri Yasonna, akan diteliti terlebih dahulu apakah merupakan pengungsi atau bukan. Berdasarkan Perpres tersebut jika seseorang telah mendapatkan status sebagai pengungsi, maka dia akan dikirimkan ke negara ketiga.*