Hidayatullah.com– Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengungkapkan bahwa jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia saat bertugas pada Pemilu 2019 mencapai sebanyak 409 orang, berdasarkan data KPU per 2 Mei 2019.
Menyikapi itu, berbagai pihak mendesak dilakukan investigasi terhadap penyebab kematian para petugas KPPS tersebut.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon di Jakarta, Jumat (03/05/2019), mengaku aneh dengan banyak anggota KPPS meninggal dan sakit saat bertugas dalam proses pemilu. Ia pun mempertanyakan alasan mereka meninggal dunia hanya karena kelelahan.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Umar Zein, menyoroti polemik banyaknya petugas pemilu yang gugur saat bertugas.
Dalam terminologi kedokteran, tidak ada kematian disebabkan oleh kelelahan, seperti yang selama ini banyak media beritakan, kata mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) dr Pirngadi Medan ini diwarta media, Rabu (01/05/2019) malam.
Baca: KPU: 296 Petugas KPPS Meninggal, Sandi: bak Ladang Pembunuhan
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menegaskan bahwa kejadian tersebut mestinya diinvestigasi.
Fahri menilai jatuhnya banyak korban meninggal dan sakit akibat Pemilu 2019 tersebut merupakan kejahatan besar, tak bisa dibiarkan.
“Harus ada investigasi menyeluruh terhadap serangan ke TPS, kotak suara, formulir C1 dan petugas pemilu yang telah mendatangkan korban ratusan nyawa meninggal dan ribuan dirawat rumah sakit. Ini adalah kejahatan besar yang tak bisa dibiarkan. #SaveIndonesia,” ujarnya, Jumat (03/05/2019) lewat akun media sosial terverifikasinya di Twitter.
Investigasi ini diperlukan sebab persoalan nyawa manusia lebih penting dibandingkan kekuasaan. “Nyawa manusia penting… Lebih penting dari kekuasaan…,” kicau Fahri lewat @Fahrihamzah.
Baca: 225 Petugas KPPS Meninggal, Natalius Pigai: KPU Harus Dipidana
Menyoroti semakin bertambahnya korban pemilu yang berjatuhan, calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Salahuddin Uno, meminta KPU tidak kejar tayang.
Menurut Sandi, peristiwa meninggalnya ratusan petugas KPPS ini adalah sebuah bencana yang harus mendapat perhatian khusus dari seluruh elemen bangsa. Jika peristiwa tersebut terus berlanjut, ia menilai hal itu seperti ladang pembunuhan.
“Kalau diteruskan seperti ini korban terus berjatuhan, ini seperti killing field dan jangankan 300 lebih yang saya baca di Jawa Pos kemarin, yang dilaporkan 326 kalau tidak salah, tapi ini akan terus berlangsung. Proses ini paling tidak 5-6 hari karena rata-rata baru di angka 50 persen. Secara fundamental ada yang salah. Bukan hanya jujur adil bermartabat, tapi juga sehat,” katanya diberitakan media ini, Senin (29/04/2019).
Baca: 230 Petugas KPPS Meninggal, Sandi: Tak Hanya Jurdil, Pemilu Harus Selamat
Aktivis kemanusiaan yang juga mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, menilai banyaknya kematian anggota KPPS selama bertugas di Pemilu Serentak 2019 tidak bisa dianggap remeh.
Pigai menilai tragedi demokrasi tersebut sebagai kelalaian Komisi Pemilihan Umum (KPU). Karena itu, KPU menurutnya harus bertanggung jawab secara hukum.
“Mengapa KPU mesti diberi hukuman pidana? Karena sejak awal KPU sudah memahami bahwa kematian petugas pelaksana pemilu bukan hal baru,” ujar Pigai di Jakarta, Kamis (25/04/2019).
KPU mencatat sudah ada 409 orang petugas KPPS yang meninggal dunia saat bertugas di Pemilu 2019. Sekretaris Jenderal KPU Arif Rahman Hakim menyampaikan, jumlah petugas yang sakit juga bertambah dari hari sebelumnya. “Update data per 2 Mei 2019 pukul 17.00 WIB, wafat 409 orang, sakit 3.658, total 4.067,” kata Arif lewat keterangan tertulis, Kamis (02/05/2019).*