Hidayatullah.com– Akibat aksi aksi demontrasi berujung kerusuhan dan jatuhnya korban tewas di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, ribuan warga mengungsi. Ribuan korban kerusuhan Wamena itu mengungsi di markas Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya.
Para pengungsi membutuhkan bantuan seperti pakaian, makanan, dan barang-barang keperluan anak dan perempuan.
Para pengungsi juga membutuhkan susu untuk balita, popok bayi, dan pembalut untuk perempuan. Kebutuhan itu menyusul berbagai kondisi warga yang meninggalkan tempat tinggal mereka dampak pembakaran baik rumah serta kios tempat berjualan.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun, kutip INI-Net, Sabtu (28/09/019) siang, dari 25 posko pengungsi, baru satu posko yang mendapatkan bantuan. Selain itu, terdapat 8.617 pengungsi di 25 titik yang dipusatkan di Kota Wamena.
Menurut versi lain jumlah pengungsi mencapai 10.000 orang.
Baca: Korban Tewas di Papua Terus Berjatuhan, Warga Waspada & Ketakutan
Menurut Komandan Distrik Militer 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto, warga yang mengungsi di markas Kodim cuma membawa baju di badan. Mereka tidak lagi semapt membawa barang-barang karena berusaha menghindari dampak kerusuhan di Wamena.
Sedangkan bantuan pangan pokok dari pemerintah untuk pengungsi korban kerusuhan Wamena, katanya, saat ini baru difokuskan pada satu posko pengungsian. Padahal, ada 25 titik pengungsian di Wamena dari empat wilayah, yaitu Wamena, Tolikara, Yalimo, dan Lanny Jaya.
“Kami minta informasi ini disebarkan seluas-luasnya agar banyak pihak yang tergerak untuk membantu para korban yang kini tengah mengungsi,” ungkapnya lewat sambungan telepon lansir dari Antaranews.
Candra menyebut, bantuan dari Pemprov Papua cuma tersalurkan ke posko pengungsian Gedung Okumarek yang dibuka oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.
Menurutnya, Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya sampai saat ini cuma mengandalkan bantuan logistik yang masih tersedia di markas tersebut. “Pengungsi tidak mau ke Okumarek. Warga maunya di Kodim, sementara dapur lapangan Pemda ada di Okumarek,” ungkapnya.
Sementara itu sebelumnya, politisi Partai Gerindra Andre Rosiade meminta Presiden Joko Widodo (Jakowi) agar segera mengambil langkah konkret guna mengembalikan situasi keamanan di Papua khususnya Wamena.
Ketua Harian DPP Ikatan Keluarga Minang ini mengungkapkan bahwa kondisi di Wamena masih mencekam setelah terjadinya kerusuhan yang menelan sedikitnya 33 korban jiwa.
Baca: Din: Aparat & Pemerintah Lamban Merespons Krisis Papua
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di Jakarta, Jumat (27/09/2019) telah meminta aparat TNI, Polri, dan Kementerian Dalam Negeri agar mengawal keamanan dokter di Wamena. Sebelumnya salah seorang dokter yang bertugas tewas setelah diamuk massa dalam kerusuhan di Wamena baru-baru ini.
Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit turut khawatir atas kondisi warga mereka di wamena. Gubernur Zulkieflimansyah langsung menginstruksikan semua warga NTB agar dievakuasi dari Wamena demi keselamatan mereka.
Hingga Sabtu (28/09/2019) ini, warga setempat mengalami ketakutan dan trauma karena terus diteror oleh KKB melalui KNPB. Bahkan warga diusir dan diancam akan dibakar rumah mereka. Teror itu dilakukan agar semua warga meninggalkan Wamena. Bahkan warga Papua pun ditakut-takuti agar mereka pergi.
Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya membenarkan ribuan warga mengungsi karena teror yang diciptakan KNPB dan KKB di Wamena. Warga pun begitu trauma terhadap aksi brutal massa.*