Hidayatullah.com– Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Prof Din Syamsuddin, mempertanyakan sikap pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo yang bersikukuh tetap menggelar Pilkada 2020 di tengah pandemi Covid-19.
Padahal, kata Din, berbagai pihak khususnya ormas-ormas Islam telah mendesak pemerintah agar menunda pelaksanaan pilkada tahun ini demi kemaslahatan rakyat.
“Apa kurangnya PBNU, PP Muhammadiyah, dan majelis-majelis agama banyak pihak minta Pilkada ditunda karena pandemi? Tapi pemerintahnya, presidennya, tidak mau memperhatikan gitu,” ujar Din sebagai salah satu narasumber Webinar Series 05 Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Peran Ormas Islam dalam Pembelaan Politik Islam”, Rabu (01/10/2020).
“Banyak ormas besar NU-Muhammadiyah apa kurangnya? Mendesak penundaan pilkada, (tapi) gak mau didengar. Gak pernah terjadi lah (seperti ini sebelumnya, red),” ujarnya juga.
Baca: PBNU Minta Pilkada Ditunda dan Anggarannya Direalokasi untuk Penanganan Covid-19
Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015 ini menilai, sikap ngotot pemerintah menggelar Pilkada di tengah pandemi karena tidak ada kearifan dan sikap kenegarawanan di pucuk pimpinan.
Sehingga, dalam kondisi kepemimpinan negara yang seperti itu dan terkait tema webinar tersebut, Din menilai perlu ormas-ormas Islam melakukan tekanan politik kepada pengambil kebijakan di negeri ini.
“Ormas Islam tidak ada salah kalau ya melakukan political pressure, khususnya kalangan muda. Kalau sampai angkatan muda ormas-ormas Islam termasuk seperti Pemuda Hidayatullah berdiam saja, mahasiswa berdiam saja, dan ini gejala sekarang, kalangan muda kurang tergerak untuk melakukan amar makruf nahi munkar,” ujar Din dalam webinar yang diisi bersama senator Senayan tiga periode Dr Abdul Aziz Qahar Muzakkar dan dipandu host Ketua Umum Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi itu.
“Mas (Imam) Nawawi, Dinda, Anda harus bangkit sebagai Pemuda Hidayatullah, (begitu pula) pemuda ormas-ormas Islam yang lain. Ini missing (yang hilang) sekarang, ini yang langka gitu,” pesannya.
Din menilai, ormas-ormas Islam tidak bisa berdiam diri melihat kondisi perpolitikan di negeri ini. Namun demikian, perlu sikap yang bijak dalam menanggapi setiap kondisi berbeda-beda. Kadang harus menekan, kadang harus tegas, kadang harus berbicara dengan lembut, dan sebagainya.*