Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Palestina Terkini

Di Mana Batas Ketidaktahumaluan Mahmud Abbas?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 November 2012 22:18
Bagikan
Pemuda-pemuda Palestina dibunuhi di jalan-jalan oleh tentara Zionis hanya karena unjuk rasa/Agency
Bagikan

oleh: KHALID AMAYREH, wartawan di Tepi Barat, Palestina

PEMIMPIN otoritas Palestina, Mahmud Abbas selalu membuat siapa pun terkejut, baik temannya maupun para musuhnya.

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Israel beberapa pekan lalu, Abbas mengumumkan bahwa ia tidak berhak tinggal di Safad kampung halamannya sendiri. Dari Safad ini juga keluarganya dan ribuan warga Palestina lain diusir pada tahun 1948 di tangan para penyerbu Zionis dari Eropa Timur. Para penyerbu itu lalu menjajah lebih dari 75% Palestina, dengan dukungan aktif Inggris dan kekuatan-kekuatan barat.

“Saya pernah mengunjungi Safad sekali. Saya ingin melihat Safad karena saya memiliki hak untuk melihatnya tapi bukan untuk tinggal di sana,” ujar Abbas dalam bahasa Inggris kepada program berita Channel 2 Israel di Tepi Barat.

Kata Abbas menurut pendapatnya, Palestina hanya mencakup Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur.

Baca Juga

Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
Al-Aqsha Ditutup untuk Muslim, Para Rabi Berdoa di Tembok Al-Buraq Picu Sorotan
Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina
Menteri Penjajah Tuangkan Miras Rayakan Disahkannya Hukuman Mati untuk Warga Palestina Terjajah

“Palestina bagi saya adalah perbatasan-perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Itu adalah kondisi sekarang dan selamanya. Itulah Palestina bagi saya. Saya seorang pengungsi tetapi saat ini tinggal di Ramallah. Saya percaya kalau Tepi Barat dan Jalur Gaza adalah Palestina dan bagian lain adalah Israel,” paparnya.

Abbas lebih lanjut mengatakan, dirinya tidak akan mengizinkan bangkitnya perlawanan intifadhah baru atau gerakan apa pun yang ditujukan untuk melawan Israel selama ia masih memimpin rezim di Ramallah.

Sambil menyebut gerakan perlawanan Palestina terhadap penjajahan militer Israel sebagai ‘teror’, Abbas menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan memulai intifadhah baru di bawah kepemimpinannya.

“Kami tidak ingin menggunakan cara-cara teror. Kami tidak ingin menggunakan kekuatan. Kami tidak ingin memakai senjata. Kami ingin memakai diplomasi, politik dan negosiasi dan perlawanan secara damai,” imbuhnya.

Moral Rusak

Nada bicara Abbas menunjukkan kerusakan moral yang parah, setelah melihat apa yang disebut proses perdamaian yang terus menuruti ketamakan Israel yang terus menerus memperluas kekuasaan jahatnya dengan memangsa rakyat Palestina, kini semua itu hancur berkeping-keping.

Malahan, Abbas, salah satu perekayasa kutukan bernama Perjanjian Oslo, tak pernah berhenti menjual mimpi-mimpi kosong kepada rakyat Palestina.

Kita semua ingat begitu banyak permainannya yang berusaha memperdaya rakyat –sejak kesepakatan hinanya bersama Yossi Belin (bekas Wakil Menteri Luar Negeri Israel) sampai pernyataan-pernyataan sandirawa dengan judul-judul kosong (September entitlement, road map, konferensi Anapolis, dan lain-lain).

Sekarang pada usia 76 tahun, Abbas menyadari semua harapannya, apalagi mimpi-mimpinya telah menguap karena kekeraskepalaan dan kesombongan kekuasaan Israel.

Bagaimanapun, bukannya mengambil sikap yang bermartabat menghadapi penghinaan Israel, Abbas lebih memilih menyembah di ujung kaki Israel, seraya berpikir orang-orang Israel akan berlunak hati, menunjukkan kebesaran jiwa dan memberikan PLO jatah negara yang besarnya kurang dari 25% dari seluruh wilayah Palestina.

Menariknya, pernyataan Abbas yang mengejutkan itu bertepatan dengan peringatan lahirnya deklarasi Balfour tercela yang mempersembahkan Palestina kepada Zionisme di atas pinggan perak.

Tak pelak lagi, kebetulan ini menunjukkan bahwa pemimpin PLO itu tak punya kesadaran sejarah bahkan yang paling rendah sekalipun yang setiap pemimpin Palestina wajib memilikinya demi mencapai tujuan akhir long march menuju kemerdekaan Palestina.

Kita tidak ingin membuat julukan apa pun terhadap pengkhianatan Abbas. Lagipula dia bukanlah Salahuddin. Dia bahkan bukan Yasser Arafat, yang tidak akan pernah menyerahkan hak sakral untuk kembali (ke tanah Palestina) meski di bawah tekanan berat baik dari kawan maupun lawan, yang akhirnya harus dibayar dengan nyawanya.

Tak perlu diragukan lagi, Abu Mazen (Mahmoud Abbas) sudah melampaui batas diukur dengan standar moral apapun baik secara kebangsaan maupun keislaman, yang pada gilirannya menimbulkan tanda-tanda tanya serius mengenai kemampuan dan kecocokannya untuk tetap berada di atas tampuk kepemimpinan Otorita Palestina.

Beberapa minggu lalu, Abbas juga telah mengatakan kepada seorang rabi yang berkunjung ke Ramallah bahwa Israel didirikan untuk bertahan selamanya; Pernyataan menjijikkan itu disampaikan dalam bahasa Arab, yang menunjukkan bahwa Abbas hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak ada penghormatan sama sekali terhadap puluhan ribu Syuhada Palestina dan Arab serta korban lainnya yang melawan penjajah dan penindas Zionis.

Dan sekarang, ia mengatakan para pengungsi tidak punya hak untuk kembali ke rumah mereka, ke desa-desa mereka di mana mereka diusir dengan todongan senjata para teroris Zionis. Pernyataan ini setara dengan kemurtadan tingkat nasional. Abbas tidak memiliki hak mengatakan hal itu. Palestina bukan perusahaan persemakmuran milik keluarganya yang fungsinya untuk mengabdi kepada Zionisme. Bahkan, satu-satunya cara untuk menebus pernyataan nistanya itu adalah pengunduran diri langsung dari kedudukan sebagai ketua PLO dan Presiden Otorita Palestina. Tapi apa dia punya keberanian moral ini dan kejujuran untuk mundur?

Abbas disebut-sebut memiliki gelar Ph.D di bidang ilmu politik. Kalau itu benar, seharusnya ia menyadari bahwa para pengungsi berhak untuk kembali ke tempat asalnya, sebagaimana bahkan dirumuskan dalam resolusi PBB no. 194.

Seorang ibu muslimah palestina dan anak-anaknya dilarang masuk ke dalam rumahnya sendiri yang sudah dipagari kawat berduri oleh teroris Zionis, 1948. foto: Istimewa

Sungguh, jika pengungsi Palestina tidak mempunyai hak untuk kembali atau mendapat ganti rugi, seperti yang disebutkan dalam resolusi PBB 194, maka rakyat Palestina juga seharusnya tidak berhak meminta ‘Israel’ angkat kaki dari Palestina, apalagi memiliki negara yang layak di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Tak diragukan lagi pernyataan Abbas mencerminkan sikap patah arang, putus asa, dan depresi di hadapan arogansi Israel, keterlibatan Amerika, kebodohan negara-negara Eropa dan kelemahan negara-negara Arab-Muslim.

Kita tidak memungkiri bahwa Israel dan sekutunya saat ini kuat secara militer. Kita akan buta dan jelas bodoh kalau kita tidak mengakui fakta yang terang benderang ini.

Akan tetapi kenyataan-kenyataan politik dan militer bukan sesuatu yang abadi; semua itu merupakan hal-hal yang bisa berubah.

Almarhum Syeikh Ahmad Yasin yang dibunuh Nazi-Nazi di zaman kita hampir sepuluh tahun yang lalu, memahami rumusan sejarah yang penting ini. Beliau berkata, “Yang kuat tidak selamanya kuat dan yang lemah tidak selamanya lemah.”

Satu hal lagi. Sungguh memalukan bahwa gerombolan pemimpin Fatah diam seribu bahasa, dan secara terbuka menolak untuk mengecam pernyataan pimpinan mereka yang memalukan yang sudah sampai ke garis pengkhianatan.

Bahkan beberapa pemimpin Fatah, termasuk Nimr Hammad dan Nabil Abu Rudeina malah berusaha mengalihkan isu ini. Salah satu pejabat Otorita Palestina menganggap Abbas tak faham apa yang dikatannya.

Well. Kalau Abbas tak faham apa yang dikatannya, maka dia harus pensiun tenang-tenang dan berhenti mengakibatkan kerusakan yang lebih parah bagi kepentingan Palestina.

Lebih dari itu, diamnya kepemimpinan Fatah yang sangat mengejutkan ini merupakan bukti lebih jauh bahwa struktur Fatah saat ini jelas-jelas tidak layak untuk memimpin rakyat Palestina untuk mencapai pantai keselamatan.

Dan sekarang beberapa patah kata untuk para Zionis arogan, yang sudah keracunan oleh dominasi dan kedigdayaan militer pemerintah Amerika Serikat… Kalian disarankan untuk tidak percaya kepada kalimat-kalimat frustrasi Mahmoud Abbas. Pernyataan-pernyataannya tidak mencerminkan pandangan mayoritas rakyat Palestina.

Hal ini mudah difahami dari berbagai reaksi keras yang datang dari seluruh penjuru masyarakat Palestina, termasuk dari dalam PLO sendiri.

Sebaik-baiknya, berbagai pernyataannya harus ditafsirkan sebagai pernyataan frustrasi dan kecemasan dari seorang pemimpin yang mengalami kerusakan moral yang rupanya sangat berat membedakan antara pragmatisme dan penyerahan diri.*

Diambil dari laman Sahabat al Aqsha

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:israelMahmud Abbasold migratepalestinaZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Diretas, Redaktur Hidayatullah.com Balas Doa
Tulisan selanjutnya Hidayatullah Kirim Santri Belajar di Timur Tengah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Berita
15 Juli 2026 21:25
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Palestina Terkini

Zionis Sahkan Undang-Undang Hukuman Mati bagi Warga Palestina Terjajah, Picu Kritik Internasional

31 Maret 2026 09:08
Palestina Terkini

Babak Baru Pendudukan: ‘Israel’ Resmikan Pencaplokan Tepi Barat

17 Februari 2026 14:18
Palestina Terkini

Khaled  Misy’al: Senjata Bagi Hamas adalah Alat Pertahanan Diri dari Penjajahan

10 Februari 2026 06:48
Palestina Terkini

Netanyahu Tegaskan Tak Akan Ada Lagi Palestina dan Gaza

9 Februari 2026 11:14
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?