Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Palestina Terkini

Tak Miliki Kasus Virus, Begini Kondisi Gaza Mengatasi Wabah

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 22 Maret 2020 13:44 1:44 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 22 Maret 2020 13:44
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | SETELAH bersusah payah dalam perjalanan tiga harinya dari Mesir ke Jalur Gaza, Amal Brika, seorang wartawan muda, berharap untuk segera tiba di rumah, mandi dengan air panas dan tidur lapor Al Jazeera. Namun dia dikejutkan oleh pemberitahuan bahwa dirinya harus menjalani karantina wajib sebagai bagian dari upaya untuk membatasi potensi penyebaran wabah pandemi virus corona di wilayah tepi pantai yang terkepung itu.

Brika, bersama dengan puluhan warga Palestina lain, dikirim ke sebuah penampungan di sekolah di dekat perbatasan Rafah di Gaza selatan.

“Saya memprotes karantina yang tidak sehat; kami berjumlah 200 orang di sekolah, delapan di tiap ruang kelasnya dan semua pria dan wanita hanya berbagi satu kamar mandi kotor. Saya tidak merasa nyaman dan privasi,” katanya kepada Al Jazeera melalui panggilan telepon.

Tidak ada infeksi virus yang terdeteksi di Gaza, yang merupakan rumah bagi dua juta orang dan menderita karena blokade penjajah Israel dan Mesir. Blokade itu, yang ditimpakan setelah kelompok pejuang Islam Hamas memenangkan Pemilu 2007.

Baca Juga

Al-Aqsha Ditutup untuk Muslim, Para Rabi Berdoa di Tembok Al-Buraq Picu Sorotan
Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina
Menteri Penjajah Tuangkan Miras Rayakan Disahkannya Hukuman Mati untuk Warga Palestina Terjajah
Zionis Sahkan Undang-Undang Hukuman Mati bagi Warga Palestina Terjajah, Picu Kritik Internasional
Babak Baru Pendudukan: ‘Israel’ Resmikan Pencaplokan Tepi Barat

Tidak ada wisatawan yang dapat mengunjungi tempat itu karena Israel dan Mesir sebagian besar telah menutup perbatasan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara mencabut beberapa pelarangan perjalanan, memungkinkan lebih banyak warga Palestina di Gaza untuk keluar, biasanya dengan alasan kemanusiaan dan setelah proses perijinan yang panjang untuk mendapatkan surat izin-yang-sangat-sulit-didapat.

Tetapi ketika virus corona menyebar di negara tetangga Mesir dan Israel, pemerintah yang dipimpin Hamas menyadari bahwa mereka harus bertindak cepat, mengingat terbatasnya kapasitas sistem perawatan kesehatan Gaza. Blokade, perbedaan politik Palestina dan tiga serangan Israel selama 12 tahun terakhir telah membuat sistem perawatan kesehatan di Gaza kewalahan. Wilayah ini juga kekurangan sumber daya, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Sistem kesehatan tidak akan mampu menangani ratusan atau ribuan kasus, jadi hal terbaik di sini adalah tidak adanya penyakit (COVID-19),” Abdelnasser Soboh, direktur WHO di Gaza, mengatakan kepada Al Jazeera.

 

Soboh mengatakan tidak ada pakaian pelindung yang cukup untuk pekerja medis atau peralatan perawatan intensif dan ventilator – semua penting untuk memerangi potensi wabah. Hanya ada 62 mesin ventilator di seluruh Gaza, lebih dari dua pertiganya sudah digunakan oleh pasien lain. Sedangkan untuk mendeteksi virus corona, hanya ada dua alat tes, cukup untuk memeriksa 190 orang, kata Soboh.

“Tidak ada dana untuk membeli peralatan, dan jika uang tersedia, ada kelangkaan global,” tambah Soboh.

‘Kami butuh dokter’

Sementara itu, Dr Nidal Ghunaim, kepala departemen pengendalian infeksi di kementerian kesehatan, mengatakan pihak berwenang sedang bekerja untuk mengatasi hambatan dan melengkapi pusat karantina. Dia mengatakan kementriannya meningkatkan upaya dengan menambahkan kapasitas pengujian. Blokade Israel menyebabkan “kekurangan kapasitas dan staf medis,” katanya.

Ghunaim mengatakan 49 kasus yang dicurigai virus corona ternyata negatif. Rumah sakit lapangan dengan 30 tempat tidur yang didirikan di dekat titik penyebrangan Rafah dengan Mesir akan digunakan jika kasus-kasus virus corona ditemukan.

Sejauh ini, delapan pusat karantina sementara telah dibuka di Gaza, sebagian besar di sekolah-sekolah.  Kementerian kesehatan mengatakan 2.708 penduduk berada dalam isolasi di rumah setelah kembali lebih awal melalui Israel dan Mesir, dan sekitar 800 kedatangan minggu ini dipindahkan ke pusat karantina sekolah khusus.

Pada hari Selasa, Israel dan Mesir sepenuhnya menutup penyeberangan ke dalam Gaza. Ketika kementerian mengumumkan pembukaan pusat isolasi wajib pertama di sebuah sekolah, ada protes terhadap kondisi tersebut. Gambar menunjukkan kasur-kasur berjejer di atas lantai.

Banyak yang tidak puas dengan kurangnya privasi tempat isolasi. Meskipun setengah dari tenaga kerja Gaza menganggur dan tingkat kemiskinan sekitar 52 persen, para aktivis telah mengorganisir kampanye donasi. Beberapa penjual makanan yang mereka sendiri kesulitan di Gaza menyumbangkan paket makanan, tempat tidur sementara dan sanitiser kepada mereka yang dikarantina.

Brika, yang harus mempersingkat kunjungannya ke Mesir, mengatakan dia tidak diperiksa setelah tiba di pihak Palestina, dan dibawa pergi dengan bus di tengah malam ke sekolah.

“Begitu aku melihat kasur di tanah, aku menggigil kedinginan,” katanya. “Kami membutuhkan dokter untuk memantau kondisi kesehatan kami, merawat orang tua dan mendidik kami tentang langkah-langkah keamanan dan bagaimana saling berhubungan, terutama di sekolah yang ramai ini,” kata Brika.

Pada hari pertama, dia mengunggah foto-foto dari sekolah yang menunjukkan dirinya mengenakan masker dan duduk bersama wanita lain di bawah matahari.  Brika kemudian memposting gambar dari ruang kelas yang menunjukkan tempat tidur dengan selimut tebal dan berwarna-warni.

“Ini hotel kami,” tulisnya, tetapi bersikeras, “tanpa kamar dan kamar mandi pribadi, melakukan karantina sendiri jauh lebih baik daripada tinggal di sini.”*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Blokade Israelcovid-19gazaisraelpalestinavirus corona
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tak Bisa Cuci Tangan, Korban Virus Bisa Lebih Banyak dari Pembantaian Bashar
Tulisan selanjutnya YLKI: Sangat Menyedihkan, 3 Dokter Meninggal karena Covid-19

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Palestina Terkini

Khaled  Misy’al: Senjata Bagi Hamas adalah Alat Pertahanan Diri dari Penjajahan

10 Februari 2026 06:48
Palestina Terkini

Netanyahu Tegaskan Tak Akan Ada Lagi Palestina dan Gaza

9 Februari 2026 11:14
Palestina Terkini

Serangan Baru ‘Israel” Menunjukkan Penjajah Tak Peduli “Dewan Perdamaian”

1 Februari 2026 18:43
Palestina Terkini

Dosen Fakultas Ushuluddin Ungkap Kesaksian Akademik tentang Abu Ubaidah 

3 Januari 2026 19:52
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?