Hidayatullah.com– Seorang anggota Komite Sentral Fatah dikabarkan mendesak para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel untuk meminta agar pemilu berikutnya ditunda. Palestine National Liberation Movement (Fatah) atau Harakah Al-Tahrîr Al-Filistini, adalah partai berhaluan sekuler yang banyak didukung Barat dan Israel.
Sumber yang dekat dengan pemimpin Fatah yang dipenjara Marwan Barghouti mengungkapkan, tekanan diberikan pada tahanan sampai pemilihan ditunda, lapor surat kabar Lebanon Al-Akhbar. Sumber mengatakan sejumlah tahanan Fatah menolak untuk mendukung masalah tersebut dan diancam, terutama setelah beberapa jajak pendapat memperkirakan bahwa Gerakan Islam Palestina (Hamas) akan kembali memperoleh suara mayoritas di Parlemen.
Surat kabar tersebut juga mengatakan bahwa Otoritas Palestina (OP) di Ramallah telah berusaha meyakinkan negara-negara Arab, Uni Eropa, dan Amerika Serikat (AS) untuk menerima upaya-upaya untuk menunda pemilihan. Penundaaan dengan alasan, mereka tidak dapat melanjutkan jika ‘Israel’ tidak mengizinkan warga Palestina di Yerusalem Palestina untuk berpartisipasi.
Menurut sumber yang sama, Washington belum mengambil keputusan tentang masalah tersebut. Namun Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken sebelumnya telah memberi tahu Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi bahwa Amerika Serikat tidak akan mengambil keputusan yang membahayakan Tel Aviv.
Situs berita Israel Walla melaporkan bahwa pemerintah AS khawatir Hamas akan memenangkan pemilihan. Surat kabar itu menambahkan bahwa Presiden OP Mahmoud Abbas telah mengirim Menteri Luar Negeri Riyadh Al Maliki ke Eropa untuk menekankan bahwa Yerusalem ‘adalah garis merah’ dan tidak ada pemilihan umum yang akan diadakan tanpanya.
Situasi tersebut akan memungkinkan pemilihan ditunda tanpa OP disalahkan atas keputusan tersebut.
Palestina dijadwalkan menggelar pemilihan parlemen pada 22 Mei, pemilihan presiden pada 31 Juli dan Dewan Nasional Palestina pada 31 Agustus. Pemilihan legislatif terakhir diadakan di wilayah Palestina pada 25 Januari 2006 untuk memilih Dewan Legislatif Palestina (PLC) kedua, badan legislatif Dewan Nasional Palestina (PNA).
Hasilnya adalah kemenangan bagi Hamas. Namun kemenangan ini dianulir Barat dan Israel. Mahmoud Abbas dan partainya Fatah menolak untuk menyerahkan kekuasaan kepada gerakan tersebut hingga kini.
Mahmoud AbbasDia telah memegang kursi kepresidenan sejak itu dan tidak ada lagi pemilihan yang diadakan. Partai Fatah mengontrol Tepi Barat yang diduduki, sementara Hamas mengatur Jalur Gaza yang terkepung dalam upaya yang dilakukan untuk menyatukan faksi-faksi Palestina untuk membantu meningkatkan kehidupan rakyat Palestina. *
Baca juga: Fatah: ‘Israel’ Berusaha untuk Membatalkan Pemungutan Suara Palestina