Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Syekh bin Baz Sangat Menghormati Perbedaan Ijtihad

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Juli 2009 17:25 5:25 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Juli 2009 17:25
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com— Ahmad Husnan lahir tahun 1940 di Desa Wangen, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Ia anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan Imam Kurmen dan Saudah.

Semasa kecil ia aktif belajar agama dengan ayahnya yang juga seorang ustad. Pelajaran agama juga ia peroleh dari Madrasah Ibtidaiyah pada sore hari. Sementara pagi hari ia sekolah di SD.

Tamat SD, ia melanjutkan ke PGAP IV Negeri Solo. Ia kemudian menuntut ilmu di PGAA Muhammadiyah Padangsidempuan, Tapanuli, Sumatera Utara, dan mu’allimin Muhammadiyah Payakumbuh, Sumatera Barat.

Ia kemudian melanjutkan studi ke Pesantren Islam (Persis) Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, yang dipimpin oleh A. Hasan. Setelah lulus dari sana, ia mendapat tugas belajar ke Syari’ah Jami’ah Islamiyah (SJI) Madinah (Universitas Islam Madinah). ”Waktu itu, Dewan Dakwah mendapat jatah lima orang dari Madinah,” katanya.

Saat kuliah di Syari’ah Jami’ah Islamiyah (SJI) Madinah, atau Universitas Islam Madinah, tahun l968, Ahmad Husnan belajar kepada Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdul Aali Baz atau biasa disebut Syekh bin Baz, ulama kharismatik yang saat itu menjabat Rektor di sana. Syekh bin Baz dikenal sebagai ulama yang sangat bijak terhadap persoalan-persoalan furu’iyah (cabang), namun sangat tegas dalam masalah-masalah ushul (pokok).

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Selain menjadi da’i, Husnan juga mengajar di Pondok Pesantren dengan memegang mata pelajaran tafsir, ushul fiqh, dan ulumul hadits.

Ia juga mengajar kegiatan ta’lim rutin. Jamaahnya berasal dari berbagai kalangan; guru, dokter, kaum profesional, dan lain-lain, dan mengajarkan kitab Riyadus Shalihin dan Bulughul Maram. Husnan masih aktif menulis buku sebagai bentuk ekspresi intelektualnya. Sudah 24 judul buku yang lahir dari tangannya. ”Saya bisa menulis sejak menjadi penyiar radio di PRRI,” jelas lelaki yang mengaku terlambat menikah ini.

Dari bin Baz inilah Husnan mengaku banyak belajar bagaimana bersikap toleransi terhadap berbagai perbedaan pendapat (ihtilaf) antara kaum Muslimin. ”Beliau juga seorang ulama yang sangat menjunjung tinggi akhlak Islam, sebagaimana yang dimiliki oleh para salafus shalih,” jelas Husnan.

Husnan mencontohkan, pernah terjadi perbedaan pendapat antara Syekh bin Baz dengan Syekh Albani tentang sedekap dalam shalat. Syekh bin Baz berpendapat bahwa sedekap lebih kuat dibanding tidak bersedekap. Sedang Syekh Albani berpendapat sebaliknya. Meski berbeda, Syekh bin Baz tidak mencela Syekh Albani. ”Padahal yang kuat memang pendapat Syekh bin Baz,” kata Husnan.

Selain itu, masih banyak ahlak mulia yang ditunjukkan Syekh bin Baz ketika berbeda pendapat dengan ulama lain. ”Meski sudah lulus, saya tetap mengikuti pemikiran-pemikiran beliau,” jelas Husnan

Bagaimana Syekh Bin Baz menyikapi perbedaan ijtihad?

Syekh bin Baz sangat menghormati perbedaan ijtihad. Menurut beliau, ijtihad yang dilakukan seorang ulama mujtahid pada masalah-masalah ijtihadiyah tidak boleh diingkari dan ditentang. Bila ada yang berbeda pendapat dengannya, maka yang lebih tepat dilakukan adalah mengajaknya berdiskusi dengan cara yang paling baik. Kalau tidak memungkinkan, hendaklah dijelaskan lewat tulisan dengan ungkapan yang baik, sindirian yang lembut dan tanpa pelecehan, pencelaan, atau kata-kata kasar yang bisa menyebabkan penolakan terhadap kebenaran. Juga tanpa tudingan terhadap pribadi-pribadi.

Syekh Bin Baz bahkan mengeluarkan fatwa bahwa perbuatan mencela merupakan penganiayaan terhadap hak-hak umat Islam.

Menurut Anda bagaimana seharusnya sikap kita terhadap masalah-masalah furu’iyah?

Kita harus bersikap bijak sebagaimana yang dicontohkan para ulama yang shaleh. Mereka mentolerir perbedaan furu’iyah, namun tegas dalam masalah ushul. Contoh masalah ushul yang kini sedang gencar adalah pemikiran liberal dari Barat.

Karena itu kita harus bersama-sama memerangi pemikiran tersebut, jangan ribut dengan masalah furu’iyah. Ini tugas kaum Muslimin bersama. Jangan sampai pemikiran-pemikiran mereka meracuni generasi Islam.

Menurut Anda apa mungkin berbagai harakah di negeri ini berkumpul dan saling menguatkan?

Idealnya seperti itu. Para ulama madzhab yang berbeda pendapat sudah terbiasa saling bertemu dan menghormati. Antara mereka terjadi komunikasi yang baik dan harmonis. Ini yang seharusnya kita contoh. Semua itu demi kemaslahatan umat. Kalau hal ini bisa kita lakukan, maka tentu saja sangat baik. Sekarang tinggal ada yang mau dan mampu memfasilitasi atau tidak.

Bagaimana kalau MUI yang memfasilitasi?

Semestinya seperti itu. Tapi untuk sementara ini saya belum yakin MUI bisa melakukannya. Wong di dalamnya sendiri masih banyak gesekan, ha.. ha…. Menurut saya, yang paling memungkinkan yaitu jika kesadaran itu muncul dari masing-masing harakah. Saya yakin, setiap hati kecil kaum Muslimin ada keinginan untuk hidup harmonis dan saling tolong-menolong di antara sesama Muslim. Itulah yang diajarkan Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. [bul/SAHID/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Anak Harus Paham, Ada Agama Selain Islam
Tulisan selanjutnya Pemuda Iraq Pun Mulai Nge-Rap

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?